Perkuat Kader PKK Cegah Stunting, Tangsel Dorong Edukasi Gizi Sampai Tingkat Keluarga
CIPUTAT – Upaya menekan angka stunting di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) terus diperkuat. Selain mengandalkan program intervensi kesehatan, Pemkot Tangsel mendorong kader PKK agar semakin terampil memberikan edukasi dan pendampingan kepada keluarga, terutama dalam pemenuhan gizi anak.
Penguatan kapasitas kader tersebut dilakukan melalui kegiatan Pokja 4 PKK bertajuk “Pencegahan dan Penanganan Stunting serta Gizi Buruk pada Anak” yang digelar di Gedung 3 Lantai 3A, Puspemkot Tangsel, Rabu (9/9).
Sebanyak 35 kader yang merupakan perwakilan PKK Kota Tangsel dan tujuh kecamatan mengikuti kegiatan tersebut. Mereka mendapatkan pembekalan mengenai pemenuhan gizi seimbang hingga langkah yang dapat dilakukan ketika berhadapan langsung dengan persoalan gizi di tengah masyarakat.
Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan DP3AP2KB Kota Tangsel, Mercy Apriyanti mengatakan, kegiatan tersebut dirancang untuk memperkuat kemampuan kader agar tidak hanya memahami persoalan stunting secara teori, tetapi juga memiliki keterampilan praktis saat melakukan pendampingan di masyarakat.
“Intinya untuk penguatan keterampilan taktis dan edukasi praktis yang harus dimiliki kader saat berhadapan langsung di masyarakat,” ujar Mercy saat dikonfirmasi, Rabu (9/9).
Untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam, pihaknya menghadirkan dokter spesialis anak Rachmat Sentika sebagai narasumber. Pengalaman yang dimiliki narasumber di bidang kesehatan anak diharapkan dapat menambah wawasan kader dalam mengenali persoalan gizi sekaligus menyampaikan edukasi yang tepat kepada masyarakat.
Menurut Mercy, pemahaman mengenai gizi anak perlu diberikan sejak awal kehidupan. Salah satu fokus pembekalan adalah pentingnya pemenuhan gizi seimbang sejak 1.000 hari pertama kehidupan (HPK).
Dengan bekal tersebut, kader PKK diharapkan dapat berperan lebih aktif dalam mengedukasi keluarga serta membantu mengawal tumbuh kembang anak di lingkungan masing-masing.
“Tujuannya meningkatkan pemahaman kader mengenai pentingnya pemenuhan gizi yang seimbang bagi anak, dimulai dari 1.000 HPK, sekaligus mendorong peran aktif kader PKK dan Posyandu dalam memberikan edukasi dan pendampingan kepada masyarakat,” jelasnya.
Mercy menambahkan, penurunan prevalensi stunting di Tangsel menjadi capaian yang perlu terus dipertahankan. Sebab, keberhasilan menekan angka stunting tidak berarti persoalan tersebut selesai sepenuhnya.
Kasus baru masih berpotensi muncul apabila edukasi, pemantauan dan pendampingan terhadap keluarga tidak dilakukan secara konsisten. Karena itu, penguatan peran kader di tingkat masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan program.
“Kegiatan ini mendukung konvergensi percepatan penurunan stunting daerah yang melibatkan lintas sektor, seperti Dinas Kesehatan dan DP3AP2KB, khususnya Bidang P3HA,” katanya.
Ia menjelaskan, PKK memiliki posisi strategis karena bersentuhan langsung dengan masyarakat. Kader dapat menjadi penggerak swadaya masyarakat sekaligus membantu memastikan berbagai kebijakan pemerintah daerah terkait pencegahan stunting dapat dipahami dan diterapkan hingga tingkat keluarga.
Dengan penguatan tersebut, upaya pencegahan stunting diharapkan tidak hanya berlangsung melalui program pemerintah, tetapi juga tumbuh menjadi gerakan bersama di lingkungan masyarakat. Edukasi mengenai gizi, pemantauan tumbuh kembang serta pendampingan keluarga pun dapat dilakukan lebih dekat dan berkelanjutan.
Nasional | 3 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Pendidikan | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 3 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu





