WTO: Dunia Terancam Masuk Era Blok Dagang, PDB Global Bisa Susut 6,9 Persen
SERPONG – Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) mengingatkan meningkatnya ketegangan geopolitik dan kebijakan ekonomi yang semakin berorientasi nasional dapat mengubah peta perdagangan dunia. Jika tren tersebut berlanjut, perdagangan global berisiko terpecah ke dalam sejumlah blok ekonomi yang saling bersaing.
Peringatan itu disampaikan WTO dalam laporan terbarunya yang menyoroti berbagai tekanan terhadap sistem perdagangan multilateral. Perubahan keseimbangan kekuatan ekonomi, meningkatnya intervensi pemerintah melalui kebijakan industri, pesatnya perdagangan digital, serta ketegangan geopolitik dinilai menjadi tantangan besar bagi tata perdagangan internasional.
WTO memperkirakan dampak ekonomi akan cukup besar apabila dunia terfragmentasi menjadi blok-blok perdagangan berdasarkan kepentingan geopolitik.
Dalam skenario tersebut, PDB global pada 2050 dapat menyusut 5,1 persen, sementara ekspor dunia berpotensi turun 18,6 persen dibandingkan kondisi tanpa fragmentasi.
Risikonya semakin besar apabila kerja sama multilateral terus melemah dan perdagangan dunia lebih banyak bergantung pada jaringan kesepakatan bilateral maupun regional yang terpisah. Dalam kondisi ini, PDB global diperkirakan dapat berkurang hingga 6,9 persen dan ekspor dunia hampir 27 persen.
Sebaliknya, penguatan kerja sama multilateral berpotensi memberikan dampak positif. WTO memperkirakan PDB global dapat meningkat 2,9 persen, sedangkan perdagangan ekspor bertambah hampir 18 persen.
Kepala Ekonom WTO Rob Staiger menyebut sistem perdagangan internasional kini menghadapi fase penting. Ia menyoroti perubahan kekuatan ekonomi dunia, semakin besarnya peran negara dalam perekonomian, transformasi digital dan rantai nilai global, serta meningkatnya ketegangan politik sebagai tantangan utama bagi sistem perdagangan multilateral.
Data WTO menunjukkan prinsip tarif Most-Favoured-Nation (MFN) masih menjadi dasar sekitar 72 persen perdagangan barang dunia. Namun, porsinya telah turun dari sekitar 80 persen pada 2022.
Penurunan tersebut mencerminkan semakin luasnya penggunaan pengaturan perdagangan khusus yang hanya berlaku bagi negara atau kelompok tertentu.
Kondisi ini juga menjadi perhatian bagi negara berkembang. Perubahan pola rantai pasok serta potensi bertambahnya hambatan perdagangan dapat memengaruhi akses negara-negara tersebut ke pasar internasional.
WTO mendorong negara anggotanya memperkuat reformasi aturan perdagangan global. Langkah tersebut dinilai penting agar sistem multilateral tetap mampu menghadapi perubahan ekonomi dan tidak kehilangan perannya sebagai fondasi utama perdagangan internasional.
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Pendidikan | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Nasional | 21 jam yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu






