TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

DPR Restui KAI Impor 23 KRL Bekas Jepang, Armada Berusia 40 Tahun Mulai Diganti

Reporter: Farhan
Editor: AY
Jumat, 25 September 2026 | 08:39 WIB
Ilustrasi. Foto : Ist
Ilustrasi. Foto : Ist

JAKARTA — Komisi VI DPR memberikan lampu hijau kepada PT Kereta Api Indonesia (KAI) untuk mengimpor 23 rangkaian Kereta Rel Listrik (KRL) bekas dari Jepang. Pengadaan tersebut dinilai menjadi solusi sementara untuk mengatasi keterbatasan armada KRL, terutama di wilayah Jabodetabek.


Wakil Ketua Komisi VI DPR Andre Rosiade mengatakan, pengadaan KRL bekas diperlukan sebagai langkah transisi, mengingat sebagian armada yang saat ini beroperasi telah berusia lebih dari 40 tahun.


Meski demikian, DPR meminta PT KAI tetap memperkuat industri perkeretaapian nasional melalui sinergi dengan PT Industri Kereta Api (INKA).


“Pengadaan sarana bukan baru ini (bekas) sebagai solusi transisi untuk memenuhi kebutuhan kapasitas angkutan perkeretaapian, khususnya KRL di Jabodetabek,” ujar Andre dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (23/9/2026) malam.


Andre juga mendorong PT INKA meningkatkan tingkat kesiapan teknologi (technology readiness level) dan kesiapan manufaktur (manufacturing readiness level) hingga level 9.


Menurutnya, peningkatan tersebut penting agar kapasitas, kualitas, teknologi, dan daya saing industri kereta api nasional semakin kuat dan mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri.


Sementara itu, Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin menjelaskan, rencana impor KRL bekas dilakukan karena produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan armada dalam waktu cepat.


“Impor kereta bekas ini kebutuhan mendesak, karena kondisi sejumlah KRL sudah banyak yang berusia 40 tahun ke atas,” kata Bobby.


Bobby mengatakan, KRL yang didatangkan dari Jepang akan melalui proses seleksi. Kereta yang dipilih harus memiliki riwayat penggunaan yang baik dan telah menjalani refurbishment atau pembaruan.


Selain itu, pengadaan KRL bekas dinilai lebih cepat dibandingkan pembelian kereta baru. Setelah mendapat persetujuan, proses pengadaan KRL bekas diperkirakan hanya membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua bulan. Sementara pengadaan kereta baru dapat memakan waktu satu hingga dua tahun.
“Kalau bekas ini hanya untuk transisi,” tegas Bobby.


PT KAI berencana mendatangkan 23 rangkaian KRL, terdiri dari tujuh rangkaian SF12 dan 16 rangkaian SF8. Perbedaan jumlah gerbong tersebut disesuaikan dengan kondisi sejumlah peron stasiun yang belum mampu melayani rangkaian 12 kereta.


KRL impor tersebut ditargetkan dapat digunakan hingga 10 tahun ke depan, sembari PT KAI bersama PT INKA meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri.


Bobby menyebut PT KAI saat ini memiliki 92 trainset dengan usia rata-rata sekitar 41 tahun. Sebagian armada tersebut sudah memasuki masa penggantian.
Selain faktor usia, ketersediaan suku cadang juga semakin menjadi persoalan. Pada usia tersebut, sejumlah komponen mulai sulit diperoleh, sementara material logam pada kereta mengalami fatigue atau kelelahan material.


“Sampai dengan tahun 2031, kita itu harus mengganti 87 trainset dengan yang lain,” ujar Bobby.


Kebutuhan armada juga diperkirakan terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah pengguna KRL. Pada 2040, jumlah penumpang harian diproyeksikan mencapai 2,5 juta hingga 3 juta orang.


Untuk memenuhi kebutuhan tersebut sekaligus mengganti armada lama, PT KAI memperkirakan membutuhkan sekitar 200 trainset. Namun, kemampuan produksi dalam negeri saat ini masih belum mencukupi.


“PT INKA saat ini baru mampu memproduksi sekitar tiga trainset per tahun. Kapasitas produksi diharapkan meningkat menjadi lima trainset pada 2027,” jelas Bobby.


Keterbatasan armada bahkan sudah dirasakan sepanjang 2026. Bobby menyebut terdapat kekurangan 13 kereta, ditambah keterlambatan produksi PT INKA sebanyak sembilan kereta.
“Jadi total kekurangan tersebut menjadi 22 kereta,” pungkasnya.
 

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit