Belanja Rokok Warga RI Tembus Rp 94 Ribu, Kalahkan Daging hingga Susu
JAKARTA – Pengeluaran masyarakat Indonesia untuk membeli rokok dan tembakau ternyata lebih besar dibandingkan belanja sejumlah bahan pangan bergizi, mulai dari daging, telur, hingga susu. Kondisi ini menjadi ironi di tengah upaya pemerintah memperbaiki kualitas gizi masyarakat dan menekan angka stunting.
Berdasarkan publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) bertajuk Pengeluaran untuk Konsumsi Penduduk Indonesia Maret 2026, rata-rata pengeluaran rokok dan tembakau mencapai Rp 94.180 per kapita per bulan. Angka tersebut menyumbang 11,57 persen dari total pengeluaran makanan masyarakat dan menempatkan rokok sebagai kelompok pengeluaran terbesar kedua setelah makanan jadi.
Besarnya pengeluaran untuk rokok terlihat dari perbandingannya dengan belanja bahan pangan sumber protein. BPS mencatat, rata-rata pengeluaran per kapita per bulan untuk daging hanya Rp 40.352. Sementara itu, belanja telur dan susu sebesar Rp 44.915.
Dengan demikian, total pengeluaran untuk daging, telur, dan susu mencapai Rp 85.267 per kapita per bulan. Jumlah tersebut masih lebih rendah Rp 8.913 dibandingkan belanja rokok dan tembakau.
Perbandingan serupa terlihat pada konsumsi buah-buahan. Rata-rata pengeluaran masyarakat untuk buah hanya Rp 48.784 per kapita per bulan, atau hampir separuh dari anggaran yang dialokasikan untuk rokok.
Ketimpangan tersebut bahkan lebih mencolok di wilayah perdesaan. BPS mencatat, rata-rata pengeluaran penduduk desa untuk rokok dan tembakau mencapai Rp 100.951 per kapita per bulan, lebih tinggi dibandingkan angka nasional.
Sebaliknya, pengeluaran masyarakat desa untuk daging hanya Rp 26.046 per kapita per bulan. Sementara itu, belanja telur dan susu tercatat Rp 38.016, sedangkan buah-buahan sebesar Rp 37.563 per kapita per bulan.
Artinya, pengeluaran rokok warga perdesaan hampir empat kali lipat dibandingkan belanja daging. Bahkan, nilainya masih jauh di atas total pengeluaran untuk daging, telur, dan susu yang mencapai Rp 64.062 per kapita per bulan.
Data tersebut memperlihatkan besarnya porsi belanja rokok dalam pola konsumsi rumah tangga, terutama di perdesaan. Di tengah keterbatasan daya beli sebagian keluarga, alokasi pengeluaran untuk rokok berpotensi mengurangi ruang anggaran untuk memenuhi kebutuhan pangan bergizi.
Meski demikian, angka pengeluaran tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa seluruh rumah tangga mengurangi belanja pangan demi membeli rokok. Namun, perbandingan ini menjadi gambaran penting mengenai tantangan dalam mendorong pola konsumsi yang lebih sehat, meningkatkan kecukupan gizi keluarga, dan mempercepat penurunan angka stunting.
Kesehatan | 1 hari yang lalu
Opini | 3 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 1 hari yang lalu



