Indonesia Perkuat Kerja Sama Berantas Scam dan TPPO
JAKARTA – Pemerintah Indonesia memperkuat kerja sama dengan Australia dan Afghanistan untuk memberantas kejahatan lintas negara, mulai dari penipuan daring (online scam) hingga tindak pidana perdagangan orang (TPPO). Kerja sama juga mencakup bidang keimigrasian, pemasyarakatan, dan perdagangan.
Penguatan kerja sama tersebut dibahas Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Menko Kumham Imipas) Yusril Ihza Mahendra dalam dua pertemuan diplomatik di Jakarta. Yusril menerima Duta Besar Afghanistan Mawlawi Sadullah Baloch pada Kamis (22/10/2026), kemudian bertemu Menteri Dalam Negeri Australia Tony Burke sehari setelahnya.
Dalam pertemuan dengan Burke di Ritz-Carlton, Mega Kuningan, Jakarta, Yusril menekankan pentingnya menjaga kepercayaan dan memperkuat koordinasi antarlembaga untuk menghadapi berbagai persoalan lintas negara.
“Indonesia dan Australia telah membangun hubungan bilateral yang sangat baik selama ini. Kami berharap kerja sama yang dilandasi rasa saling percaya dan saling menghormati ini dapat terus diperkuat,” ujar Yusril dalam keterangan resmi Kemenko Kumham Imipas, Minggu (25/10/2026).
Kedua negara secara khusus membahas penguatan kerja sama keimigrasian dan penanggulangan penipuan daring lintas negara. Menurut Yusril, kompleksitas kejahatan yang melibatkan jaringan di berbagai yurisdiksi membutuhkan pertukaran informasi dan koordinasi penanganan kasus yang lebih erat.
Burke menyambut positif perkembangan hubungan Indonesia-Australia. Dia menilai kerja sama antarlembaga dan kepercayaan yang terbangun telah memberikan dampak nyata bagi kedua negara.
“Kerja sama antara lembaga kita terus berkembang. Hubungan dan kepercayaan di antara kedua negara telah memberikan perbedaan yang nyata melalui lembaga dan staf kita yang saling bekerja sama,” kata Burke.
Sementara itu, dalam pertemuan dengan Dubes Afghanistan, Yusril membahas penguatan hubungan bilateral, peluang perdagangan, penanganan TPPO, serta persoalan keimigrasian dan pemasyarakatan.
Yusril menegaskan, Indonesia dan Afghanistan memiliki hubungan historis yang panjang sejak awal kemerdekaan. Dia berharap perdamaian dan stabilitas di Afghanistan terus terjaga sehingga membuka peluang kerja sama yang lebih luas.
“Kami berharap perdamaian ini akan bertahan selamanya bagi rakyat Afghanistan, karena kami memiliki sejarah hubungan yang panjang,” ujarnya.
Dubes Mawlawi Sadullah Baloch menyampaikan bahwa kondisi keamanan Afghanistan semakin stabil. Dia juga memaparkan upaya pemberantasan narkotika serta perkembangan industri yang didukung meningkatnya investasi.
Menurut Baloch, lebih dari 6.000 pabrik telah diresmikan dalam lima tahun terakhir. Stabilitas keamanan, kata dia, mendorong investor masuk dan warga Afghanistan kembali ke negaranya.
“Alhamdulillah, keamanan terjamin secara keseluruhan dan tidak ada masalah berarti di sana. Dengan adanya perdamaian dan stabilitas, banyak orang berinvestasi dan kembali ke Afghanistan,” kata Baloch.
Selain isu keamanan, Indonesia dan Afghanistan menjajaki peluang peningkatan perdagangan. Sekitar 57 pedagang Afghanistan telah berkunjung ke Indonesia untuk mengikuti pameran perdagangan pada 14–18 Oktober 2026.
Kunjungan tersebut membuka peluang penjajakan kontrak dagang dengan pengusaha Indonesia, terutama untuk impor minyak kelapa sawit dan kertas secara langsung tanpa melalui negara perantara.
Afghanistan juga dinilai memiliki posisi strategis sebagai jalur perdagangan menuju sejumlah negara Asia Tengah, seperti Uzbekistan, Tajikistan, Turkmenistan, dan Kazakhstan. Potensi ini dapat dimanfaatkan untuk memperluas hubungan ekonomi kedua negara, melengkapi kerja sama di bidang hukum dan keimigrasian.
Nasional | 1 hari yang lalu
Olahraga | 23 jam yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu




