SMPN 10 Tangsel Gelar Lomba Paskibra se-Jabodetabek, Asah Disiplin dan Kekompakan Siswa
CIPUTAT TIMUR - SMP Negeri 10 Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menggelar lomba Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) tingkat SMP dan SMA/SMK se-Jabodetabek. Kegiatan ini menjadi ajang bagi pelajar untuk mengasah kemampuan, membangun kedisiplinan, serta memperkuat kerja sama dan solidaritas antarsiswa.
Lomba yang digagas ekstrakurikuler Paskibra SMPN 10 Tangsel tersebut diikuti 39 tim, terdiri dari 27 tim tingkat SMP dan 12 tim tingkat SMA/SMK. Peserta berasal dari sejumlah daerah, mulai dari Jakarta, Bogor, Depok, hingga Tangerang.
Kepala UPTD SMPN 10 Tangsel, Kunardi mengatakan, kegiatan tersebut telah dipersiapkan oleh para siswa selama beberapa bulan. Menurutnya, lomba ini menjadi bukti bahwa pelajar memiliki potensi besar untuk mengembangkan kemampuan, tidak hanya di bidang akademik, tetapi juga nonakademik.

Foto : Ist
“Ini bagian dari upaya kami dalam rangka melatih anak-anak untuk terus mengasah dan melatih talenta mereka. Kecerdasan itu kan bukan hanya kecerdasan akademik, tapi juga kecerdasan non-akademik,” ujarnya.
Kunardi menilai, kemampuan siswa dalam merancang dan menyelenggarakan kompetisi berskala Jabodetabek menunjukkan bahwa mereka memiliki keterampilan berorganisasi, berkomunikasi, serta membangun jejaring dengan sekolah lain.
Dia berharap, kegiatan tersebut dapat menjadi ruang bagi siswa untuk menyalurkan energi dan kemampuan mereka melalui aktivitas yang positif. Terlebih, para siswa mampu merancang kegiatan dengan melibatkan peserta dari berbagai sekolah.
“Kami punya 1.364 siswa yang pasti banyak yang memiliki talenta-talenta positif, jiwa-jiwa positif, karakter-karakter positif. Dan ini buktinya hari ini,” ungkapnya.
Menurut Kunardi, lomba Paskibra ini juga memperlihatkan bagaimana siswa kelas IX mampu melibatkan adik-adik kelasnya dalam kegiatan yang bermanfaat. Kepanitiaan melibatkan siswa kelas VII, VIII, dan IX, dengan koordinasi utama oleh siswa kelas IX.
Keterlibatan lintas angkatan tersebut menjadi kesempatan bagi para siswa untuk belajar membangun hubungan yang sehat antara kakak dan adik kelas. Para siswa senior diharapkan mampu memberikan contoh, membimbing, serta mengarahkan juniornya dalam kegiatan yang membangun karakter.

Foto : Ist
“Paskibra itu ekskul yang mendidik siswa untuk memiliki budaya disiplin tinggi, kekompakan tinggi, solidaritas tinggi, empati tinggi, kerja sama yang tinggi, gotong royong yang tinggi,” jelasnya.
Dia menambahkan, nilai-nilai tersebut perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam membangun hubungan antarsiswa. Dengan begitu, kekompakan dan kedisiplinan dapat diarahkan untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan mendukung perkembangan siswa.
Sementara itu, Ketua Pelaksana Lomba Paskibra, Jonathan Mario Gomes mengatakan, persiapan kegiatan dimulai sejak bulan sebelumnya. Panitia membuka pendaftaran hingga 18 Oktober 2026, kemudian melanjutkan persiapan teknis menjelang pelaksanaan lomba.
Untuk memastikan seluruh kebutuhan acara terpenuhi, para siswa yang tergabung dalam kepanitiaan bahkan menginap di sekolah. Mereka menyiapkan berbagai perlengkapan, mulai dari meja, kursi, hingga tenda, sekaligus melakukan evaluasi dan pembagian tugas.
“Persiapannya tuh kita menginap di sekolah ini untuk mempersiapkan meja, kursi, tenda, dan lain-lain. Lalu kita sekalian evaluasi dan untuk hari ini kita kerja bareng-bareng,” tuturnya.
Jonathan menjelaskan, penilaian lomba dilakukan oleh lima juri profesional dari Garuda Permildas. Tiga juri bertugas menilai Peraturan Baris-Berbaris (PBB), satu juri menilai variasi formasi, sedangkan satu juri lainnya menilai tata rias dan kostum.

Foto : Ist
Selain penghargaan berdasarkan tingkatan peserta, panitia juga menyiapkan sejumlah kategori khusus, di antaranya komandan peleton (danton) terbaik dan terfavorit, pasukan terfavorit, PBB terbaik, serta tata rias dan kostum terbaik.
Salah satu peserta, Rasyid Maulana Shidqi, komandan peleton dari SMPN 96 Jakarta, mengaku senang bisa mengikuti kompetisi tersebut. Meski demikian, ia mengakui sempat merasa gugup karena baru pertama kali mengikuti perlombaan Paskibra.
Untuk menghadapi kompetisi, Rasyid bersama rekan-rekannya menjalani latihan rutin sepulang sekolah hingga sore hari.
“Perasaannya senang, sebelum lomba sedikit tegang karena first event juga. Jadinya agak kagok,” katanya.
Bagi Rasyid, pengalaman mengikuti lomba tersebut menjadi kesempatan untuk menguji kemampuan sekaligus melatih kepercayaan diri. Ia juga harus memastikan setiap aba-aba dapat disampaikan dengan tepat saat memimpin pasukannya di lapangan.
TangselCity | 3 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
Olahraga | 21 jam yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Pos Tangerang | 2 hari yang lalu




