Hujan Turun, Karhutla Belum Padam
JAKARTA – Hujan mulai mengguyur sejumlah wilayah yang dilanda kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kabut asap di beberapa daerah pun mulai menipis. Namun, ancaman belum berakhir. Puluhan ribu hektare lahan masih terbakar, sementara dampak asap terhadap kesehatan dan pendidikan terus meluas.
Di Palembang, Sumatera Selatan, hujan deras yang turun pada Sabtu (24/10/2026) membantu mengurangi kabut asap. Meski demikian, kualitas udara masih berada pada level berbahaya akibat asap dari kebakaran di Desa Muara Dua, Kabupaten Ogan Ilir.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut hujan tersebut sesuai dengan prakiraan terbentuknya awan konvektif. Upaya modifikasi cuaca menggunakan dry ice dan penaburan natrium klorida (NaCl) turut dilakukan.
Hingga Minggu (25/10/2026), tercatat 823 titik panas di Sumatera Selatan. Sebanyak 751 titik di antaranya berada di Kabupaten Ogan Komering Ilir.
BMKG memperkirakan peluang hujan meningkat pada 26–29 Oktober 2026, terutama di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Utara, Papua Tengah, dan Papua Selatan. Hujan juga berpotensi turun di sejumlah wilayah lain di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua.
Namun, hujan belum merata. BMKG mengingatkan, cuaca panas dan relatif kering masih berpotensi meningkatkan risiko kebakaran, dengan kondisi yang turut dipengaruhi fenomena El Nino.
Puluhan Ribu Hektare Masih Terbakar
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 19.708 titik panas secara nasional berdasarkan pemantauan pada 23 Oktober 2026. Luas lahan yang terbakar mencapai sekitar 41.554 hektare, dengan 26.681 hektare di antaranya masih belum padam.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan, angka tersebut menunjukkan besarnya pekerjaan pemadaman dan pendinginan yang masih harus dilakukan.
“Angka ini menunjukkan bahwa pekerjaan pemadaman dan pendinginan masih cukup besar,” kata Berton, Minggu (25/10/2026).
Kalimantan Tengah menjadi salah satu wilayah terdampak paling parah. Luas lahan terbakar di provinsi tersebut mencapai 25.942 hektare, dengan sekitar 19.076 hektare masih belum padam.
Berton menegaskan, pemadaman, pendinginan, dan patroli harus terus dilakukan untuk mencegah api kembali menyala, terutama di kawasan gambut yang dapat menyimpan bara di bawah permukaan tanah.
Ratusan Ribu Kasus ISPA
Dampak karhutla juga terlihat dari meningkatnya gangguan kesehatan masyarakat. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 333.470 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di wilayah terdampak selama 18 Agustus hingga 21 Oktober 2026.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 258.298 kasus terjadi pada warga berusia di atas lima tahun, sedangkan 75.172 kasus dialami anak usia nol hingga lima tahun. Kasus tersebut tersebar di 68 kabupaten/kota pada tujuh provinsi.
Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes Then Suyanti mengatakan, lonjakan kasus ISPA sejalan dengan pekatnya kabut asap yang mencemari udara.
Dampak lainnya menyentuh sektor pendidikan. Sebanyak 61.693 satuan pendidikan menghentikan pembelajaran tatap muka, sehingga sekitar 7,9 juta peserta didik di 100 kabupaten/kota pada 19 provinsi terdampak.
Sejumlah sekolah menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau membatasi kegiatan di luar ruangan untuk mengurangi paparan asap terhadap siswa.
49 Armada Udara Disiagakan
Pemerintah terus mengintensifkan penanganan karhutla melalui operasi darat dan udara. Kementerian Kehutanan bersama BNPB, TNI, Polri, BMKG, pemerintah daerah, dan masyarakat melakukan pemadaman, patroli, pembasahan, serta pendinginan lahan, terutama di kawasan gambut.
Kementerian Kehutanan menyiagakan 49 armada udara. Sebanyak 32 unit digunakan untuk operasi pengeboman air (water bombing), sedangkan 17 unit lainnya mendukung patroli udara dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Meski demikian, hujan singkat belum tentu mampu memadamkan api hingga ke lapisan tanah. Pakar Kebencanaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Amien Widodo menjelaskan, hujan sebentar umumnya hanya memadamkan api di permukaan, sementara bara di dalam gambut masih berpotensi bertahan hingga kedalaman satu meter.
“Kalau hujannya sebentar, bisa mematikan api di permukaan. Tetapi, api yang berada di dalam tanah gambut hingga kedalaman satu meter belum tentu mati,” jelas Amien.
Menurutnya, hujan yang berlangsung terus-menerus diperlukan agar air meresap ke dalam tanah dan meningkatkan kelembapan gambut. Upaya tersebut harus disertai pemadaman dan pendinginan berulang agar bara tidak kembali memicu kebakaran.
Dengan masih luasnya lahan yang belum padam dan besarnya dampak terhadap kesehatan serta pendidikan, hujan menjadi harapan penting untuk meredakan karhutla. Namun, penanganan di lapangan tetap harus dilanjutkan hingga titik api benar-benar padam.
Nasional | 1 hari yang lalu
Olahraga | 23 jam yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu




