Hilirisasi Dongkrak Ekspor Indonesia 11,87 Persen
JAKARTA - Kinerja ekspor Indonesia mulai menunjukkan penguatan seiring berkembangnya industri hilirisasi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia pada September 2026 tumbuh 11,87 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, industri pengolahan menjadi penopang utama ekspor nonmigas dengan nilai mencapai 23,27 miliar dolar AS atau 87,36 persen dari total ekspor nonmigas.
“Peningkatan nilai ekspor nonmigas terutama didorong oleh industri pengolahan yang naik secara tahunan sebesar 16,78 persen,” ujar Ateng di Jakarta, Senin (2/11/2026).
Sejumlah komoditas mencatat lonjakan ekspor, antara lain tembaga dan produk turunannya sebesar 165,97 persen, lemak dan minyak hewani atau nabati 89,04 persen, serta mesin dan perlengkapan elektrik 24,37 persen.
Secara kumulatif, ekspor Indonesia sepanjang Januari-September 2026 mencapai 221,23 miliar dolar AS, tumbuh 5,58 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
China masih menjadi pasar ekspor nonmigas terbesar dengan nilai 54,17 miliar dolar AS, disusul Amerika Serikat 25,39 miliar dolar AS dan India 15 miliar dolar AS.
Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti menilai hilirisasi mampu meningkatkan nilai tambah produk, memperluas lapangan kerja, serta menggerakkan ekonomi daerah dan UMKM. Dampaknya terlihat di kawasan industri nikel seperti Morowali, Sulawesi Tengah, dan Pulau Obi, Maluku Utara.
Sementara itu, Ekonom Joshua Pardede mengingatkan agar penguatan industri pengolahan dibarengi peningkatan produktivitas, investasi, dan penciptaan lapangan kerja agar manfaat pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan lebih luas masyarakat.
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Selebritis | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Pos Tangerang | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu



