Serangan AS di Qeshm Picu Kekhawatiran, Harga Minyak Merangkak Naik
WASHINGTON – Ketegangan Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah militer Washington melancarkan serangan terbatas terhadap sejumlah sasaran di Pulau Qeshm, dekat Selat Hormuz. Insiden ini memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi meluasnya konflik sekaligus mengancam kelancaran pasokan energi dunia.
Reuters melaporkan, pejabat AS menyebut operasi tersebut sebagai langkah defensif untuk merespons ancaman pasukan Iran terhadap aset militer Amerika. Di sisi lain, media pemerintah Iran mengabarkan sejumlah ledakan terdengar di Pulau Qeshm setelah serangan berlangsung.
Pemerintah AS menegaskan, operasi itu bukan pertanda dimulainya kembali perang berskala besar dengan Iran. Meski demikian, serangan terbaru menunjukkan situasi keamanan kedua negara masih jauh dari stabil, kendati jalur diplomasi tetap diupayakan.
Perkembangan ini juga menjadi tantangan politik bagi Presiden Donald Trump yang menghadapi pemilihan paruh waktu pada Selasa (3/11/2026). Konflik dengan Iran turut membebani kondisi ekonomi AS, terutama akibat lonjakan harga bahan bakar yang berdampak langsung terhadap masyarakat.
Ketidakpastian geopolitik tersebut langsung direspons pasar energi. Pada perdagangan awal Asia, Selasa, harga minyak mentah Brent menguat sekitar 0,5 persen menjadi 105,25 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) naik menjadi 96,93 dolar AS per barel.
Kenaikan harga dipicu kekhawatiran investor terhadap kemungkinan eskalasi militer serta terganggunya distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah.
Perhatian pasar tertuju pada Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling vital di dunia. Sebelum konflik terjadi, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam global melewati perairan tersebut. Gangguan terhadap jalur ini berpotensi mendorong kenaikan harga energi, biaya logistik, hingga transportasi internasional.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Washington dan Teheran disebut masih membuka ruang perundingan untuk mengakhiri konflik. Qatar juga berupaya menjadi fasilitator komunikasi antara kedua negara.
Namun, hingga kini belum ada kesepakatan konkret yang menjamin berakhirnya pertikaian. Serangan di Pulau Qeshm pun kembali menambah ketidakpastian, baik terhadap keamanan kawasan Timur Tengah maupun stabilitas pasar energi global.
Olahraga | 11 jam yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Olahraga | 11 jam yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Selebritis | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Pos Tangerang | 3 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu



