TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Galeri

Internasional

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

RELIJIUCITY

RAMADAN

Indeks

Jadwal Imsak
Dewan Pers

Politik Sonder Kepekaan

Oleh: SUPRATMAN
Editor: admin
Minggu, 03 Juli 2022 | 09:05 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN

JAKARTA - Kalau belum bisa memberikan kebahagiaan kepada rakyat, setidaknya jangan melukai hati mereka. Prinsip itulah yang mestinya dimiliki para politisi dan pejabat.

Ini perlu diingatkan karena beberapa pernyataan (juga kebijakan) politisi dan pejabat seringkali membuat publik tersakiti.

Dulu, ketika ada tsunami, seorang politisi menyarankan, “kalau tidak mau kena tsunami, jangan tinggal di pinggir pantai”.

Di masa-masa puncak Covid-19, ada juga politisi yang meminta rumah sakit khusus untuk pejabat dan anggota DPR. “Banyak pejabat yang kesulitan mendapatkan rumah sakit,” dalihnya seolah-olah rakyat lebih mudah mendapatkan rumah sakit.

Ada juga yang menolak dikarantina sepulangnya dari luar negeri. “Perlakuan Kemenkes, buruk,” kata politisi Senayan seolah-olah rakyat mendapat perlakuan yang lebih baik dari pejabat.

Ketika anggaran negara sedang jor-joran diguyur untuk penanganan Covid-19, ada juga politisi yang meminta supaya aparat penegak hukum tak bisa ditangkap. “Mereka simbol negara,” ujarnya.

Kepekaan politik dan sosial menjadi dasar penting pejabat dan politisi. Anggota DPR misalnya, harus bisa menempatkan diri sebagai wakil rakyat. Bukan merasa diri sebagai tuan, walau mereka punya kekuasaan yang luar biasa.

Saat melontarkan pernyataan atau membuat kebijakan, bukan hanya sekadar “berucap” atau “menyusun serta membuat kebijakan”, tapi harus dipastikan itu akan diterima dan berjalan baik di masyarakat.

Apalagi di saat sulit, pejabat dan politisi seharusnya lebih berhati-hati dan lebih menujukkan empati dan kepekaan. Jangan milih-milih untuk berempati atau menunjukkan kepekaan. Jangan hanya peka di saat pemilu atau saat ada bencana.

Politisi dan pejabat yang bijak bisa membuat situasi sulit jadi “win-win”. Politisi serta pejabatnya senang, rakyatnya bahagia.

Kalau kepekaannya hilang, jangankan berbisik atau berkata dengan suara normal, berteriak pun tak didengar. Seperti menjadi tuli. Terhadap rakyat.

Ketika harga kebutuhan pokok melambung misalnya, seperti cabe atau minyak goreng, politisi yang baik akan sangat peka dan tak perlu didesak berjuang untuk menuntaskannya. Bukan malah cuci tangan atau berdalih. Bukan menyalahkan rakyat. Bukan serius memperjuangkan bisnis dan kepentingan sendiri.

Politik tanpa kepekaan, dala hal apa pun, sungguh sangat berbahaya. Bisa melahirkan sikap superior bahwa “saya tuannya rakyat kacungnya”.

Politik sonder sensitivitas melahirkan politisi dan pejabat yang egois. Tak terkontrol. Nganggap enteng. Tak peduli rakyat. Sehingga, bisa mengkontaminasi statement dan kebijakannya.

Karena itu, kalau belum bisa memberikan kebahagiaan kepada rakyat, setidaknya jangan melukai hati mereka, lewat ucapan, tindakan atau kebijakan.

Sesungguhnya, itulah selemah-lemahnya “iman politik”. (rm.id)

Komentar:
Berita Lainnya
Dahlan Iskan
Tamparan Mojtaba
Jumat, 13 Maret 2026
Dahlan Iskan
Fir'aun Baik
Kamis, 12 Maret 2026
Dahlan Iskan
Tol Tentara
Rabu, 11 Maret 2026
Dahlan Iskan
Ziarah Ziarah
Selasa, 10 Maret 2026
Dahlan Iskan
Aliran Boneka
Senin, 09 Maret 2026
Prof. Dr. Muhadam Labolo, Guru Besar pada Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).(Dok. Pribadi)
Pelajaran Pemerintahan dari Iran
Senin, 09 Maret 2026
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit