Gawat, 20 Ribu Anak Kekurangan Gizi
Atasi Stunting Di DKI Butuh Tenaga Ekstra
JAKARTA - Kasus stunting (gizi buruk) di Ibu Kota masih tinggi. Saat ini tercatat ada 20 ribu anak mengalami kurang gizi akut. Untuk mengatasinya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta didesak melakukan upaya esktra alias langkah masif.
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta Rasyidi HY mengaku sering mendapat aduan masalah stunting. Disebutkannya, di daerah Bambu Apus, Jakarta Timur, terdapat tiga anak menderita stunting. Kemudian, di Cibubur ada dua kasus stunting.
“Mereka mencari dana untuk perbaikan gizi ke lurah dan kalangan mampu. Kalau mereka punya dana, mungkin anaknya nggak alami stunting,” kata politisi PDIP ini saat interupsi di Rapat Paripurna terkait Penyampaian pidato Pj Gubernur DKI Jakarta tentang Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2024.
Karena itu, diingatkan Rasyidi, Jakarta memiliki anggaran atasi stunting di APBD Perubahan. Dia mendesak Pemprov DKI Jakarta segera mencairkan dana itu.
“Saya mohon kepada Pj Gubernur DKI supaya segera dikeluarkan dana stunting itu. Kalau bisa bulan November sudah bisa dikeluarkan, supaya kita membantu masyarakat,” pintanya.
Rasyidi yakin, dengan pencairan anggaran tersebut akan membantu masyarakat mengatasi stunting di Jakarta yang sampai saat ini masih diangkat 14,2 persen.
“Angka kasus stunting di Jakarta harus 0 persen, Pak Jokowi juga minta demikian, pak Gubernur juga sama,” tandasnya.
Pj Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono mengatakan, pihaknya berkomitmen untuk menurunkan prevalensi stunting di Jakarta. Pada Jumat (6/10), Heru hadir dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Apresiasi dan Komitmen Nyata Percepatan Penurunan Stunting yang dipimpin oleh Wakil Presiden (Wapres) Maruf Amin di Istana Wapres, Jakarta.
Heru bilang, Pemprov DKI Jakarta telah menggulirkan berbagai program untuk menekan angka stunting. Mulai dari sinkronisasi data untuk penyaluran bantuan, memaksimalkan fungsi posyandu di seluruh wilayah untuk memantau kesehatan anak dan ibu hamil, hingga upaya jangka panjang menyalurkan tablet penambah darah untuk remaja putri lewat sekolah-sekolah di Jakarta.
“Pemprov DKI Jakarta siap bersinergi dengan semua pihak untuk mencapai target penurunan angka stunting di Jakarta dan menjadi percontohan penanganan stunting bagi daerah-daerah lain,” kata Heru.
Diungkap Heru, saat ini masih ada sekitar 20 ribu anak di Jakarta yang masih mengalami stunting. Jajarannya bersama DPRD DKI Jakarta akan terus mencari dan menyisir anak penderita stunting.
“Anak yang terkena stunting akan didata dan diberi perawatan oleh Dinas Kesehatan. Mudah-mudahan anggaran cukup untuk penderita keluar dari kasus stunting,” ujarnya.
Dijelaskan mantan Wali Kota Jakarta Utara ini, ada standar untuk menangani anak yang mengalami stunting. Misalnya, menjaga berat badannya agar tidak mengalami penurunan dan memberikan asupan gizi.
Ketua Komite Nasional Pencegahan Stunting (KNPS) David Hamka menuturkan, pencegahan dan pengendalian stunting bukan hanya tugas Pemerintah. Elemen dan unsur pemuda harus terlibat aktif dalam program nasional tersebut.
Karena itu, KNPS bersama relawan melakukan aksi sosialisasi dan edukasi pencegahan stunting di Jakarta pada Sabtu (30/9). Dalam kegiatan itu KNPS melakukan pembentangan spanduk, poster dan membagikan celengan cegah stunting kepada masyarakat.
David mengatakan, KNPS adalah sebuah organisasi baru untuk membantu menekan angka stunting di Indonesia. Presiden Joko Widodo menargetkan prevalensi stunting turun menjadi 14 persen pada 2024.
“Tentunya dengan target tersebut diperlukan kolaborasi antar Pemerintah dan masyarakat untuk menyukseskan target tersebut,” kata David.
KNPS yang telah terbentuk di 15 Provinsi mempunyai program utama adalah mempengaruhi para perokok aktif untuk mengurangi konsumsi rokok dan mengalihkan dananya untuk membeli produk berprotein tinggi seperti telur.
“Kami KNPS akan terus bergerak dan siap mengawal semua program Pemerintah di bidang pencegahan Stunting agar generasi Indonesia 2045 bisa bersaing di dunia global,” ujarnya.
Ngabila Salama, dewan penasihat KNPS mengatakan, upaya mencegah stunting sangat penting untuk persiapan bonus demografi dan menuju Indonesia Emas 2045.
“Jika lambat atasi stunting dan sulit disembuhkan, akan mempengaruhi kecerdasannya,” kata Ngabila.
Dibeberkan Ngabila, stunting terbagi dalam empat stadium. Stadium 1 yakni weight faltering, stadium 2 yakni gizi kurang, stadium 3 yakni gizi buruk dan stadium 4 terparah, masuk kategori stunting.
Dia menyebut, salah satu peran kunci penanganan stunting adalah pasukan akar rumput yakni RT, RW, tokoh agama dan masyarakat, tidak terkecuali pemuda. KNPS akan melakukan edukasi terkait empat cara penting pencegahan stunting. Yaitu, pertama, cukupkan kebutuhan protein hewani keluarga (anak dan ibu). Kedua, siapkan fisik dan mental calon ibu yang baik, agar terhindar dari anemia, berbagai penyakit, dan memahami cara pola asuh yang baik termasuk pentingnya ASI eksklusif.
Ketiga, melengkapi imunisasi gratis. Dan keempat, melakukan deteksi dini di posyandu per bulan baik di pos RW, PAUD, daycare, dan lain-lain.
TangselCity | 1 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Pendidikan | 23 jam yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu