Rais Aam Ambil Alih Kepemimpinan PBNU, Gus Yahya Rotasi Gus Ipul
JAKARTA - Konflik di internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) makin membara. Aksi saling pecat terjadi. Kiai Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) yang telah dipecat Rais Aam, gantian merotasi Syaifullah Yusuf (Gus Ipul) dari Sekjen PBNU.
Pemecatan yang dilakukan Rais Aam tak membuat Gus Yahya gentar. Ketum PBNU hasil Muktamar ke-34 di Lampung itu, terus melakukan perlawanan. Selain masih aktif berkantor di PBNU, Gus Yahya juga masih melakukan perannya sebagai ketua umum.
Jumat (28/11/2025), Gus Yahya memimpin rapat tanfidziyah di kantor PBNU, Jakarta. Rapat tersebut memutuskan untuk merotasi 5 pengurus tanfidziyah. Yakni, Masyhuri Malik dari posisi semula sebagai Ketua PBNU ke posisi Wakil Ketua Umum, Saifullah Yusuf dari posisi sebagai Sekjen ke posisi Ketua PBNU, dan Gudfan Arif dari posisi semula sebagai Bendahara Umum ke posisi Ketua PBNU.
Kemudian, Amin Said Husni dari posisi semula sebagai Wakil Ketua Umum ke posisi Sekretaris Jenderal PBNU. Adapun posisi Bendahara Umum kini diisi Sumantri.
Gus Yahya menegaskan, rotasi jabatan dilakukan sesuai ketentuan Anggaran Rumah Tangga (ART) NU Pasal 94 serta Peraturan Perkumpulan Nomor 10 Tahun 2025 dan Nomor 13 Tahun 2025. Keputusan perpindahan jabatan sepenuhnya berada dalam kewenangan Pengurus Besar Harian Tanfidziyah PBNU.
Rotasi ini sebagaimana diatur dalam aturan perkumpulan sebagai forum permusyawaratan tertinggi kedua setelah Muktamar. "Ini semua kita maksudkan supaya tugas-tugas yang harus dipertanggungjawabkan oleh PBNU tetap bisa dijalankan dengan baik," kata Gus Yahya usai rapat.
Selain rotasi, rapat juga membahas rancangan roadmap NU 2025-2050 serta evaluasi kinerja dan program. Gus Yahya menegaskan, konflik internal PBNU yang sedang terjadi ini, tak boleh jadi penghalang bagi organisasi untuk tetap menjalankan tugas keagamaan dan pengabdian.
Gus Yahya pun kembali menegaskan, tak ada jalan lain menyelesaikan polemik kepemimpinan PBNU selain lewat Muktamar. "Tak ada jalan lain selain mari kita kembali bersama menyelenggarakan muktamar. Jadwalnya tak lama lagi, tinggal menyelesaikan sejumlah hal teknis," sambung Gus Yahya.
Gus Yahya menilai, upaya pencopotannya dari kursi Ketum di tengah masa kepengurusan yang masih berlangsung bisa mengganggu keorganisasian PBNU.
"Kalau tatanan organisasi dan regulasi ini diabaikan, rusak semua sampai ke bawah, bahaya sekali," ingatnya.
Usai Gus Yahya menggelar rapat Tanfidziyah, Rais Aam PBNU Kiai Miftachul Akhyar bersama perwakilan Syuriah dan PWNU se-Indonesia menggelar rapat tertutup di Kantor PWNU Surabaya, Jawa Timur (Jatim), Sabtu (29/11/2025). Hadir Gus Ipul dan Rais Syuriah Mohammad Nuh.
Usai rapat, Kiai Miftach menegaskan, Gus Yahya tidak lagi menjabat sebagai Ketua Umum PBNU sejak 26 November 2025 pukul 00.45 WIB. Sehingga tak lagi punya kewenangan maupun hak menggunakan atribut Ketua Umum
"Sejak saat itu, kepemimpinan PBNU sepenuhnya berada di tangan Rais Aam," tegas Kiai Miftach dalam konferensi pers usai pertemuan.
Artinya, sambung dia, penggunaan atribut atau pengambilan keputusan atas nama ketua umum tak lagi memiliki legitimasi. Ditegaskannya, risalah Rapat Harian Syuriah PBNU telah disusun berdasarkan data dan kondisi riil.
"Tak ada motif lain di luar yang tertulis dalam risalah rapat. Semua sesuai fakta," tegasnya.
Untuk memastikan roda organisasi berjalan, PBNU akan segera menggelar Rapat Pleno atau Muktamar dalam waktu dekat. "Kita ingin transisi berjalan tertib, sesuai aturan jam’iyah," ujarnya.
Selain itu, untuk mendapatkan kesahihan informasi, akan dibentuk Tim Pencari Fakta yang bekerja secara utuh dan mendalam. Wakil Rais Aam KH. Anwar Iskandar dan KH. Afifuddin Muhajir ditunjuk sebagai pengarah TPF.
Agar TPF dapat bekerja optimal, Rais Aam menegaskan bahwa implementasi Digdaya Persuratan Tingkat PBNU ditangguhkan sampai proses investigasi selesai. Sementara itu, implementasi di tingkat PWNU dan PCNU tetap berjalan normal.
Rais Aam kembali mengingatkan seluruh nahdliyin tentang nilai-nilai Khittah NU. Semua pihak diharap mengedepankan kepentingan bersama, menjaga akhlak yang mulia, dan menjunjung tinggi kejujuran dalam berpikir, bersikap, dan bertindak. Rais Aam juga mengajak seluruh jamaah NU untuk memperbanyak doa.
"Marilah kita bermunajat kepada Allah SWT agar diberikan jalan keluar terbaik dan paling maslahat bagi Jam’iyah Nahdlatul Ulama," tandas pengasuh Pondok Pesantren Miftachussunnah Surabaya itu.
Menanggapi rotasi yang dilakukan Gus Yahya, Katib Syuriyah PBNU Kiai Sarmidi Husna menyatakan, keputusan tersebut tidak sah. Kenapa? Karena keputusan itu diambil dalam rapat yang tidak memenuhi korum. "Tidak korum, yang hadir hanya 13 orang dari 62 pengurus Tanfidziyah," kata Sarmidi.
Diketahui, gejolak di internal PBNU awalnya dipicu surat yang dikeluarkan Rais Aam PBNU. Isinya meminta Gus Yahya mundur dalam waktu 3 hari atau akan diberhentikan. Surat yang bikin heboh itu, merupakan hasil Rapat Pengurus Harian Syuriah PBNU di Hotel Aston City, Jakarta, Kamis (20/11/2025).
Dalam rapat itu, Syuriah menilai Gus Yahya melakukan tiga pelanggaran yang dikategorikan sebagai “dosa besar". Pertama, mengundang narasumber jaringan zionisme internasional, Peter Berkowitz, dalam Akademi Kepemimpinan Nasional Nahdlatul Ulama (AKN NU).
Kedua, memberikan “karpet merah” kepada pihak yang dinilai bertentangan dengan nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyyah serta Muqaddimah Qanun Asasi NU. Ketiga, dugaan tata kelola keuangan yang dinilai mengandung persoalan syariat dan bisa membahayakan badan hukum NU.
Menyikapi surat tersebut, Gus Yahya melawan. Dia menggelar pertemuan maraton selama 2 hari di Surabaya dan Jakarta. Dalam dua pertemuan itu, Gus Yahya menegaskan tidak akan mundur sebagai Ketum PBNU.
Karena suratnya diabaikan, Rais Aam mengeluarkan surat kedua. Isinya memecat Gus Yahya sebagai ketua umum. Dalam suratnya tercantum seluruh kewenangan dan atribut jabatan Ketua Umum dicabut mulai Rabu (26/11/2025) pukul 00.45 WIB. Untuk sementara, kendali organisasi dipegang Rais Aam.
Cak Imin Turut Prihatin
Panasnya konflik di internal PBNU dengan aksi saling pecat, dikomentari Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin). Sebagai partai yang lahir dari NU, Imin mengaku sedih dengan konflik yang sedang terjadi.
"Kita prihatin ada peristiwa semacam ini. Saya yakin warga NU semuanya merasa sedih. Warga NU merasa, kok begini?" kata Cak Imin setelah menghadiri Kemah Nasional Pemuda Lintas Iman di Cibubur, Jakarta Timur, Sabtu (29/11/2025).
Cak Imin menambahkan, nahdliyin kini tengah menanti ujung konflik yang memprihatinkan ini. Cak Imin ingin segera ada kejelasan penyelesaian polemik. "Kita tunggu bersama," pungkas Menko Pemberdayaan Masyarakat itu.
Politik | 1 hari yang lalu
Pos Banten | 1 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 1 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Pos Tangerang | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
















