Perkantoran Lengkong Olah Sampah Lewat Biopori
SERPONG-Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (DCKTR) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mulai menerapkan Program Biopori Kantor sebagai langkah konkret mengurangi timbulan sampah sejak dari sumbernya. Program ini sekaligus menjadi upaya membangun budaya peduli lingkungan di kawasan perkantoran.
Program Biopori Kantor mulai dijalankan sejak Oktober 2025 dan menjadi proyek percontohan di Kawasan Perkantoran Pemerintah Kota (Pemkot) Tangsel, Lengkong Wetan. Melalui program ini, seluruh pegawai didorong untuk membiasakan memilah sampah sejak dari ruang kerja.
Petugas UPT Pemeliharaan DCKTR Tangsel, Jeni Faturahman mengatakan, Biopori Kantor dirancang untuk mengelola sampah organik secara mandiri, sementara sampah non-organik tetap disalurkan melalui bank sampah yang dikelola Dharma Wanita Persatuan (DWP) DCKTR.
“Prinsipnya, kami ingin membantu mengurangi beban sampah dari hulunya. Kalau sampah bisa dikelola langsung di lingkungan perkantoran, kenapa tidak kita lakukan. Ini juga bagian dari membangun kepedulian lingkungan bersama,” ujar Jeni, Minggu (11/1).
Ia menjelaskan, lubang biopori yang dibuat memiliki spesifikasi khusus untuk pengelolaan sampah organik. Diameter lubang sekitar 12 inci dengan kedalaman 80 hingga 100 centimeter di bawah tanah, serta dilengkapi pipa yang menjulang sekitar 20 centimeter di atas permukaan tanah untuk memudahkan perawatan.
“Biopori ini difokuskan untuk mengolah sampah organik seperti sisa makanan. Nantinya mikroorganisme, belatung, dan cacing akan mengurai sampah tersebut hingga menjadi kompos. Selain mengurangi sampah, tanah di sekitarnya juga menjadi lebih gembur,” jelasnya.
Kompos yang dihasilkan dari biopori dimanfaatkan kembali sebagai pupuk tanaman di lingkungan kantor, sehingga tercipta siklus pengelolaan sampah organik yang berkelanjutan.
Untuk mendukung perubahan perilaku pegawai, DCKTR juga menyiapkan sistem pemilahan sejak dari hulu. Di setiap ruangan disediakan ember tertutup khusus sampah organik. Sisa makanan dipilah secara mandiri oleh pegawai, kemudian diangkut petugas kebersihan setiap sore untuk dimasukkan ke lubang biopori.
Program Biopori Kantor ini dilaksanakan secara kolaboratif bersama sejumlah dinas di kawasan perkantoran Lengkong Wetan, antara lain Dinas Perhubungan, Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga dan Bina Konstruksi (DSDABMBK), Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Perkimta), serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud).
“Perubahan kebiasaan memang tidak mudah. Tapi ini harus dimulai dari hulu. Biopori tidak akan berjalan tanpa pemilahan sampah yang benar,” tambah Jeni.
Ke depan, DCKTR menargetkan program biopori kantor dapat direplikasi di kawasan perkantoran lain, fasilitas umum, hingga gedung pendidikan dan kesehatan di wilayah Tangsel.
“Jika pilot project ini berhasil, akan kami kembangkan ke kawasan lain seperti Puspemkot, Setu, Celenggang, hingga gedung-gedung layanan publik. Target akhirnya tentu menuju zero waste di lingkungan perkantoran,” tegasnya.
Ia menambahkan, biopori memerlukan perawatan rutin minimal satu kali dalam sepekan untuk memastikan proses penguraian sampah berjalan optimal. “Kalau sampahnya terurai dan volumenya turun, artinya biopori bekerja dengan baik. Jadi ini bukan sekadar buang sampah, tapi ada proses dan perawatannya,” pungkasnya.
Program Biopori Kantor DCKTR Tangsel diharapkan menjadi contoh pengelolaan sampah berbasis institusi sekaligus memperkuat peran aparatur pemerintah sebagai pelopor budaya pilah sampah dari sumbernya.
Olahraga | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
Olahraga | 14 jam yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu


