TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Galeri

Internasional

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

RELIJIUCITY

NATARU

Indeks

Dewan Pers

Taman Di Jakarta Dikritik, Lebih Banyak Estetikanya Dibanding Ruang Publik Aktif

Reporter: Farhan
Editor: AY
Senin, 26 Januari 2026 | 09:56 WIB
Taman Tebet Eco Park. Foto : Ist
Taman Tebet Eco Park. Foto : Ist

JAKARTA - Taman-Taman di Jakarta dinilai elemen vital bagi keberlanjutan lingkungan hidup. Selain mengatasi persoalan banjir, taman kota cenderung menonjolkan fungsi estetika ketimbang berperan sebagai ruang publik aktif bagi warga.

 

Penilaian itu disampaikan oleh Pengamat Tata Kota dari Universitas Indonesia, M. Aziz Muslim. Terhadap penilaian tersebut, muncul dua pandangan pro kontra dari Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta.

 

Sebelumnya, M. Aziz Muslim menegaskan, keberadaan taman kota seharusnya dipahami terlebih dahulu dari urgensi dasarnya. Menurut dia, taman dan ruang terbuka hijau (RTH) bukan sekadar pelengkap visual kota, melainkan elemen vital bagi keberlanjutan lingkungan hidup.

 

“Sejatinya ruang terbuka hijau itu dibutuhkan untuk kepentingan keberlanjutan lingkungan hidup. Dengan adanya taman, ruang terbuka hijau, itu bisa menghasilkan oksigen, menyerap karbon dioksida, dan menjaga ketersediaan air tanah,” ujar Aziz, Rabu (21/1/2026), dikutip dari Kompas.com.

 

Dia menjelaskan, ruang terbuka hijau berperan penting dalam menjaga siklus air di kawasan perkotaan. Tanpa air resapan yang memadai, air hujan sulit terserap dengan baik dan berpotensi memperparah persoalan banjir.

 

Selain fungsi ekologis, Aziz menilai taman seharusnya menjadi ruang bertemu, bersosialisasi, hingga mengekspresikan kegiatan seni dan budaya.

 

Namun, dalam praktiknya, posisi taman saat ini dinilai lebih sebagai estetika daripada sebagai ruang publik aktif. Aziz juga menyoroti cakupan RTH Jakarta yang diperkirakan masih di bawah 15 persen, jauh dari amanat undang-undang sebesar 30 persen.

 

Sementara itu, Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PDI Perjuangan Ida Mahmudah menilai Pemprov DKI terus berupaya mengaktifkan kembali taman untuk kebutuhan masyarakat.

 

Dia optimistis di bawah kepemimpinan Gubernur Pramono Anung, perawatan dan pengamanan taman akan diperketat agar benar-benar menjadi tempat bersosialisasi yang aman, bukan sekadar keindahan visual.

 

“Harapannya taman bisa diaktifkan kembali untuk kebutuhan masyarakat,” ujar Ida kepada Redaksi, Sabtu (24/1/2026).

 

Di sisi lain, Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta dari Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Bun Joi Phiau menilai, estetika saja tidak cukup. Dia sepakat bahwa distribusi taman belum merata dan fungsinya sebagai penyerap air serta ruang kegiatan komunitas harus lebih ditingkatkan.

 

“Apa artinya sebuah taman yang bagus kalau orang-orang yang mengunjunginya tidak bisa melakukan kegiatan bermanfaat,” tegas Bun Joi Phiau kepada Redaksi, Sabtu (24/1/2026).

 

Untuk mengetahui pandangan Ida Mahmudah mengenai optimalisasi fungsi taman di Jakarta, berikut wawancaranya.

 

Bagaimana Anda melihat keberadaan taman di Jakarta saat ini?

Prinsipnya, kami menilai taman di Jakarta masih sangat dibutuhkan, terutama RPTRA (Ruang Publik Terpadu Ramah Anak). Karena masih banyak daerah yang membutuhkan kehadiran ruang publik seperti itu di tingkat lingkungan.

 

Namun ada kritik bahwa banyak taman yang tidak terurus, bagaimana tanggapan Anda?

 

Kemarin itu sudah terbangun lumayan banyak, tapi memang diakui ada perawatan yang agak lengah. Hal ini mengakibatkan banyak taman yang akhirnya dikuasai oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

 

Apa dampak dari kurangnya perawatan tersebut terhadap kondisi fisik taman?

Ada taman yang tidak terawat dengan baik sehingga menjadi seperti hutan mati. Ini tentu sangat disayangkan karena menghilangkan fungsi awal dari pembangunan taman tersebut.

 

Bagaimana harapan Anda terhadap pengelolaan taman di bawah kepemimpinan Gubernur Pramono Anung?

 

Nah harapannya setelah Pak Gubernur Mas Pramono Anung ini, taman bisa diaktifkan kembali untuk kebutuhan masyarakat. Fokusnya adalah mengembalikan fungsi taman sebagai tempat warga berkomunikasi. Saya berharap peranan penting dari Dinas Pertamanan dan Hutan Kota untuk menempatkan PJLP (Penyedia Jasa Lainnya) perorangan yang tegas. Jika tamannya besar, butuh bantuan Satpol PP untuk menjaga agar tidak

 dimanfaatkan oleh kelompok kriminal.

 

Jadi, apa fungsi utama taman yang ingin Anda tekankan bagi warga Jakarta?

 

Sekali lagi, sesuai dengan harapan, bahwa taman-taman tersebut bukan hanya berfungsi untuk keindahannya saja, tetapi benar-benar berfungsi untuk bersosialisasi bagi masyarakat agar bisa bersilaturahmi.

 

Bagaimana dengan fungsi taman untuk mengendalikan banjir?

 

Saya rasa bisa bagi taman yang lahannya luas untuk membuat waduk kecil atau kolam ikan alami tanpa beton guna membantu penyerapan air. Dinas harus mulai berpikir ke arah "taman biru" dan segera merealisasikannya.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit