Mengubah Ketakutan Menjadi Kekuatan
HARI-hari ini, Iran hidup dalam tekanan dan berupaya menciptakan keseimbangan. Seakan apa yang dilakukan sejalan dengan prinsip Fisikawan Le Chatelier, bila sistem mengalami tekanan eksternal, ia dengan sendirinya beradaptasi meminimalisir dampak gangguan. Suhu domestiknya meningkat. Amarahnya menyala lewat serangan balasan. Iran membela diri seraya menunjukkan pencapaian maksimal pasca pengekangan atas apa yang selama ini menjadi haknya sebagai sebuah negara berdaulat.
Umumnya, tekanan eksternal menciptakan rasa takut. Rasa takut bagian dari insting alami yang mendorong respons agar survive. Inggris pernah ketakutan akibat invasi Jerman pada perang dunia kedua, namun Winston Churcill mampu mengubahnya menjadi keberanian kolektif. Amerika pernah hidup dalam ketakutan akibat serangan mendadak Jepang di Pearl Harbor. Mereka mengubah ketakutan menjadi keberanian dengan cara mengembangkan kecerdasan untuk melakukan serangan balik paling mengejutkan.
Hasilnya Bom Atom. Berbulan-bulan J. Robert Oppenheimer dan tim menyatukan Uranium dan Plutonium menjadi senjata paling efektif menghentikan perang dunia. Hiroshima dan Nagasaki menjadi sampel yang menghentikan peperangan. Jepang menyadari kelambanan teknologi itu. Satu pesan Kaisar Hirohito paling masyhur adalah mengumpulkan guru. Mendidik yang tersisa secerdas mungkin. Bila tak ada gurunya, bawa mereka ke luar negeri. Wasiat itu berlanjut lewat Restorasi Meiji.
Insting ketakutan itu pula yang mengubah Iran hari ini. Ia mengkanalisasi lewat pengetahuan untuk bertahan hidup. Tekanan embargo selama 47 tahun mendorong kemandirian. Iran tumbuh selangkah lebih maju dalam bidang teknologi militer. Bila Amerika dan Inggris membangun kesadaran akan rasa takut pada ancaman alamiah menjadi keberanian sesuai ide klasik Thomas Hobbes, Iran justru mengalihkan rasa takut pada manusia dan menggantinya dengan perasaan takut pada Tuhan.
Doktrin teokrasi melahirkan militansi yang melampaui cara negara sekuler menggerakkan birokrasi. Tentara angkat senjata karena keyakinan pada Tuhan, bukan karena dijanjikan materi. Keyakinan melahirkan kerelaan melepas nyawa agar syahid.
Sementara materi mendorong keinginan tentara untuk pulang menikmati apa yang dijanjikan. Doktrin itu mengubah pidato Menhan Amerika Pete Hegseth bahwa ancaman utama bukan Iran sebagai sebuah negara, tapi Syiah dan Sunni. Ia mensubstitusi spirit perang dengan agama. Iran mengelola ketakutan menjadi daya tahan dan tanggung jawab. Tanggung Jawab pada Tuhan di kelak hari. Tanggung Jawab itu dikonkretkan lewat pengembangan sains dan teknologi guna mempermudah sampai di tujuan. Tak lupa agama sebagai kompas moral.
Semua itu diajarkan masif di ruang pendidikan. Dipelajari di luar negeri dan dikembangkan dalam negeri. Lagi pula didukung tradisi keilmuan panjang serta ekosistem sains yang di desain pemerintah secara terstruktur. Kata pengamat militer alm. Salim Said, negara-negara yang hidup dalam ketakutan dengan sendirinya beradaptasi terhadap lingkungan dan perlahan menjadi kuat. Israel tumbuh di tengah ketakutan pada negara-negara Arab muslim di sekitarnya.
Korea Utara hidup dengan ketakutan pada ancaman Korea Selatan dan sekutunya. Cina tumbuh dengan perasaan takut terhadap ancaman Jepang dan USA. Taiwan tumbuh dengan ketakutan pada Cina. Singapura cemas pada dua negara besar Melayu muslim yang mengapitnya. Lewat autokritik yang lucu ia menyimpulkan bahwa negara yang bahkan Tuhanpun tak ditakuti hanya Indonesia. Kritik itu seperti gurauan, namun bila direnungkan dapat menjadi pelita.
Belajar pada kasus Iran, saatnya Indonesia memperkuat kapasitas teknologi, militer, industri hilir, kedaulatan maritim dan diplomasi. Kapasitas teknologi memungkinkan kita lebih efisien. Perlu strategi agar diaspora terlibat aktif dalam transformasi teknologi. Apa yang pernah kita capai lewat Pabrik Nurtanio, Pabrik Senjata Pindad, dan Pabrik Mobil Timor perlu dilanjutkan agar tingkat ketergantungan kita terhadap alutsista Eropa, senjata Amerika, dan Mobil India-Jepang-Korea dapat diminimalisir.
Militer yang canggih dan smart menjadikan kita tak hanya mengandalkan perang gerilya untuk survive. Tentara perlu lebih cekatan memegang senjata dan remote drone dibanding membagikan rantang makanan ke sekolah-sekolah. Kedaulatan maritim menjadikan kita mampu mengontrol luas laut sebanyak 6,4 jt kilometer persegi dan panjang pantai sejauh 108.000 kilometer yang melampaui negara-negara archipelago. Bila perlu tak hanya hibah Kapal Induk Giuseppe Garibaldi dari Italia, tapi Made in Indonesia.
Sementara diplomasi yang cerdas dapat memberi dukungan baik de facto maupun de jure. Diplomasi dan semua pembuktian riel tak hanya memberi sentimen positif dari luar, juga mencipta kohesi yang kuat antara pemerintah dan masyarakatnya. Lewat pembangunan sistem bagi bertumbuhnya hal di atas, ditambah kepemimpinan yang kuat, kita dapat membangun negeri ini dengan sumber daya berkelimpahan. Hanya dengan strategi itu kita dapat mengelola rasa takut di masa depan menjadi kemampuan luar biasa.
Bersamaan dengan itu kita perlu mengembangkan sains dan teknologi, tanpa terlena dan terperangkap pada perilaku tamak menikmati ekstraksi sumber daya alam yang tak dapat diperbaharui. Dalam konteks inilah kita perlu mendukung optimisme presiden guna mempercepat transformasi di berbagai bidang. Dengan asa itu kita dapat mewadahi surplus kelas menengah, mencegah pelarian sumber daya manusia karena kecewa, serta menyediakan 19 juta lapangan kerja yang dijanjikan. Semua itu dengan sendirinya memunculkan imaji kekuatan bangsa sebagai produk dari perasaan takut yang dikelola lewat kecerdasan.(*)
Penulis merupakan Ketua Harian Masyarakat Ilmu Pemerintahan Indonesia (MIPI) dan Guru Besar pada Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN)
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Pos Banten | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu












