TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Pertalite Tetap Rp10.000, Pertamax Kapan Turun? Bahlil: Tunggu Harga Minyak Dunia Melandai

Reporter & Editor : AY
Jumat, 26 Juni 2026 | 08:51 WIB
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Foto : Ist
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Foto : Ist

JAKARTA — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan pemerintah tidak akan menaikkan harga BBM subsidi, yakni Pertalite dan Solar, meski pasar energi global masih dibayangi ketidakpastian.


Keputusan tersebut, kata Bahlil, merupakan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk menjaga daya beli masyarakat, terutama kelompok ekonomi menengah ke bawah.
"Arahan Bapak Presiden, kita tidak akan menaikkan harga BBM subsidi," ujar Bahlil di Jakarta, Kamis (25/6).


Sementara itu, untuk BBM nonsubsidi seperti Pertamax, pemerintah tetap menggunakan mekanisme harga keekonomian yang dipengaruhi pergerakan harga minyak dunia serta nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Bahlil membuka peluang penyesuaian turun apabila tren harga minyak global terus melemah.


"Kalau harga minyak dunia turun, tentu akan kami evaluasi," katanya.
Ia menegaskan pemerintah pada prinsipnya tidak menginginkan kenaikan harga BBM. Namun, karena sebagian kebutuhan minyak nasional masih bergantung pada impor, maka harga BBM nonsubsidi tidak bisa sepenuhnya dilepaskan dari dinamika pasar internasional.


Menurutnya, apabila seluruh kenaikan biaya energi ditanggung negara melalui subsidi, tekanan terhadap fiskal akan semakin besar.


"Kalau semuanya ditanggung subsidi, fiskal negara bagaimana?" ujarnya.
Pemerintah juga kembali mengingatkan agar masyarakat mampu tidak menggunakan BBM subsidi yang memang ditujukan bagi kelompok rentan.


Meski mempertahankan harga Pertalite di level Rp10.000 per liter membutuhkan anggaran besar, Bahlil memastikan kemampuan fiskal negara masih cukup untuk menopang subsidi energi.

 

Dalam APBN 2026, pemerintah mengalokasikan subsidi BBM sekitar Rp200 triliun dengan asumsi Indonesian Crude Price (ICP) berada di kisaran 70 dolar AS per barel. Jika harga minyak meningkat, penerimaan negara dari sektor energi juga ikut bertambah.


Di sisi lain, peluang penurunan harga Pertamax mulai menjadi perhatian setelah harga minyak dunia terkoreksi.
Berdasarkan perkembangan pasar, minyak mentah WTI kini bergerak di bawah 70 dolar AS per barel, sementara Brent berada di sekitar 72 dolar AS per barel.


Pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, menilai pemerintah perlu konsisten menjalankan mekanisme pasar.


Menurutnya, kenaikan Pertamax pada Juni lalu masih dapat dipahami karena harga minyak sempat melonjak. Namun dengan kondisi harga yang mulai turun, evaluasi harga kembali menjadi relevan.
Fahmy memperkirakan peluang penurunan Pertamax dapat terjadi pada awal Juli, mengikuti pola evaluasi harga BBM nonsubsidi yang dilakukan setiap bulan.


Ia menilai langkah itu penting untuk menjaga daya beli masyarakat kelas menengah sekaligus mencegah perpindahan konsumen secara besar-besaran dari Pertamax ke Pertalite yang berpotensi menambah beban subsidi negara.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit