Vietnam Melesat dengan Pertumbuhan 8,39 Persen, Indonesia Bisa Mengejar?
JAKARTA – Vietnam kembali menunjukkan performa ekonomi yang impresif. Pada kuartal II-2026, negara tersebut mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 8,39 persen, jauh di atas rata-rata kawasan. Capaian itu memunculkan pertanyaan, mampukah Indonesia yang menargetkan pertumbuhan ekonomi 8 persen mengikuti jejak Negeri Naga Biru?
Berdasarkan data National Statistics Office (NSO) Vietnam, pertumbuhan ekonomi terutama ditopang sektor industri dan konstruksi yang melesat 10,51 persen. Sektor ini menyumbang lebih dari separuh pertumbuhan produk domestik bruto (PDB), yakni 50,07 persen.
Sektor jasa juga mencatat pertumbuhan kuat sebesar 7,87 persen dengan kontribusi 44,28 persen terhadap PDB. Sementara sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh 4,06 persen atau berkontribusi 5,65 persen terhadap pertumbuhan ekonomi.
Secara kumulatif pada semester I-2026, industri dan konstruksi tumbuh 9,81 persen, sektor jasa 8,09 persen, sedangkan pertanian, kehutanan, dan perikanan meningkat 3,87 persen.
Sebagai salah satu basis manufaktur terbesar di Asia Tenggara, Vietnam bahkan membidik pertumbuhan ekonomi lebih dari 10 persen sepanjang 2026. Target tersebut didukung percepatan pembangunan infrastruktur meski ekonomi global masih dibayangi berbagai ketidakpastian.
Tak hanya mencatat pertumbuhan tinggi, Vietnam juga berhasil menjaga laju inflasi. Pada akhir kuartal II-2026, inflasi turun menjadi 4,69 persen dari 5,6 persen pada Mei. Pemerintah Vietnam menargetkan inflasi tetap berada di kisaran 4,5 persen sepanjang tahun ini.
Dari sisi perdagangan, ekspor Vietnam melonjak 28,1 persen, sementara impor meningkat 45,2 persen. Produksi industri tumbuh 12,7 persen, penjualan ritel naik 14,8 persen, dan realisasi investasi asing langsung (FDI) bertambah 11,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kinerja tersebut turut mengantarkan Vietnam naik status menjadi negara berpendapatan menengah atas menurut Bank Dunia, sejajar dengan Indonesia dan sejumlah negara berkembang lainnya.
Sementara itu, Pemerintah Indonesia menargetkan pertumbuhan ekonomi mencapai 8 persen pada 2029. Untuk 2026, target pertumbuhan berada di kisaran 5,4–5,6 persen. Tren pertumbuhan ekonomi nasional juga terus membaik, dari 5,03 persen pada 2024 menjadi 5,11 persen pada 2025, lalu meningkat menjadi 5,61 persen pada kuartal I-2026.
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menilai keberhasilan Vietnam menjadi kabar positif bagi kawasan ASEAN. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi negara-negara anggota akan memperkuat posisi ASEAN sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dunia.
Meski demikian, Haryo mengingatkan Indonesia tetap harus meningkatkan daya saing agar mampu menarik lebih banyak investasi. Pemerintah, kata dia, terus memperkuat fondasi menuju visi Indonesia Emas 2045 melalui percepatan digitalisasi, hilirisasi industri, peningkatan kualitas sumber daya manusia, reformasi regulasi, pengembangan ekonomi hijau, hingga pembangunan ekosistem kendaraan listrik.
Di sisi lain, Peneliti Indef Sugiyono Madelan menilai Indonesia masih menghadapi tantangan besar untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap). Menurutnya, diperlukan pembenahan mendasar melalui demokratisasi ekonomi, persaingan usaha yang lebih sehat dan transparan, serta penguatan pemberantasan kolusi, korupsi, dan nepotisme agar Indonesia mampu mencapai status negara berpendapatan tinggi pada masa mendatang.
Pos Banten | 1 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 1 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 2 hari yang lalu
Pos Tangerang | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu






