TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Rupiah Jebol Rp18.000 per Dolar AS, Tekanan Global Belum Mereda

Reporter & Editor : AY
Jumat, 10 Juli 2026 | 08:45 WIB
Ilustrasi. Foto : Ist
Ilustrasi. Foto : Ist

JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), meski Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan dan mengoptimalkan berbagai instrumen stabilisasi pasar.


Berdasarkan data Refinitiv, pada perdagangan Kamis (9/7/2026), rupiah dibuka melemah 0,33 persen ke posisi Rp18.050 per dolar AS. Sepanjang sesi perdagangan, mata uang Garuda bahkan sempat menyentuh level Rp18.095 per dolar AS sebelum akhirnya ditutup di Rp18.070 per dolar AS atau melemah 0,44 persen. Posisi tersebut menjadi yang terlemah dalam satu bulan terakhir.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan tekanan terhadap rupiah masih didominasi faktor eksternal, terutama arah kebijakan moneter Bank Sentral AS (The Fed).


Meski Federal Open Market Committee (FOMC) pada pertengahan Juni lalu memutuskan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5–3,75 persen, pasar justru merespons negatif setelah sejumlah pejabat The Fed memberi sinyal kebijakan moneter yang tetap ketat (hawkish) sehingga peluang kenaikan suku bunga masih terbuka.
Sentimen tersebut mendorong indeks dolar AS (DXY) melonjak ke level tertinggi dalam setahun. Dari kisaran 95 pada awal 2026, DXY kini telah menembus level 101.


"Kombinasi sikap hawkish pejabat The Fed dan menguatnya indeks dolar AS membuat mata uang berbagai negara berkembang, termasuk rupiah, mengalami tekanan terhadap dolar AS," ujar Denny.


Menghadapi kondisi tersebut, BI memastikan terus melakukan stabilisasi nilai tukar melalui bauran kebijakan yang komprehensif. Upaya itu dilakukan dengan intervensi di pasar spot, Non-Deliverable Forward (NDF), Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta memperkuat komunikasi dengan pelaku pasar.


Menurut Denny, langkah-langkah tersebut membuat pelemahan rupiah masih relatif lebih terkendali dibandingkan sejumlah mata uang negara berkembang lainnya.


"Kami berharap rupiah dapat kembali stabil dan menguat secara bertahap. Namun, upaya menjaga stabilitas nilai tukar memerlukan sinergi seluruh pemangku kepentingan," katanya.


Sementara itu, pengamat ekonomi dan mata uang Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah juga dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Sentimen pasar memburuk setelah muncul laporan Presiden AS Donald Trump berencana melanjutkan serangan terhadap Iran.


Situasi tersebut membuat sejumlah perusahaan asuransi perang meminta perusahaan pelayaran menunda aktivitas melalui Selat Hormuz karena meningkatnya risiko keamanan.


"Perusahaan-perusahaan asuransi mulai mengevaluasi kembali risiko pelayaran setelah meningkatnya serangan di kawasan tersebut," kata Ibrahim.
Selain faktor geopolitik, risalah rapat The Fed yang menunjukkan perbedaan pandangan mengenai arah suku bunga turut memperkuat permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven.


Dari dalam negeri, Ibrahim menilai percepatan realisasi APBN semester I 2026, ditambah hasil Survei Konsumen BI periode Juni 2026 yang menunjukkan penurunan tingkat keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi, ikut memberi tekanan terhadap pergerakan rupiah.


Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan rupiah merupakan akumulasi sentimen eksternal dan domestik. Dari sisi domestik, turunnya Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) serta perlambatan penjualan ritel memicu kekhawatiran terhadap daya beli masyarakat sehingga mengurangi minat investor terhadap aset berdenominasi rupiah.


Di sisi lain, memanasnya konflik di Timur Tengah mendorong kenaikan harga minyak dunia sekaligus meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset lindung nilai.


Menurut Lukman, meski tidak ada agenda besar rilis data ekonomi dalam waktu dekat, pelaku pasar masih akan mencermati perkembangan geopolitik global serta prospek ekonomi Indonesia.
"Selama ketidakpastian global masih tinggi, rupiah diperkirakan tetap berada dalam tekanan dan bergerak di kisaran Rp18.050 hingga Rp18.200 per dolar AS," ujarnya.
 

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit