TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Mbappe Bersinar, Trofi Menjauh: Raja Gol yang Masih Haus Gelar

Reporter & Editor : AY
Selasa, 21 Juli 2026 | 06:21 WIB
Bintang Timnas Spanyol Kylian Mbappe gondol sepatu emas Piala Dunia dengan torehan 10 gol. Foto : Ist
Bintang Timnas Spanyol Kylian Mbappe gondol sepatu emas Piala Dunia dengan torehan 10 gol. Foto : Ist

AS - Nestapa Prancis yang hanya mampu finis di peringkat keempat Piala Dunia 2026 sedikit terobati oleh penampilan luar biasa Kylian Mbappe. Penyerang berusia 27 tahun itu sukses merebut Sepatu Emas setelah mengoleksi 10 gol sepanjang turnamen, menjadikannya pencetak gol terbanyak edisi kali ini.


Namun, di balik gemilangnya prestasi individu tersebut, tersimpan ironi besar. Mbappe kembali harus menerima kenyataan pahit bahwa rekor demi rekor yang diukirnya belum mampu berbuah trofi bergengsi. Ia tampil sebagai raja gol, tetapi gagal membawa Prancis melangkah ke final maupun mengangkat piala.


Keberhasilan Mbappe meraih Sepatu Emas dipastikan setelah pesaing terdekatnya, Lionel Messi, gagal menambah koleksi gol pada laga final. Argentina harus mengakui keunggulan Spanyol 0-1 lewat babak perpanjangan waktu, sehingga Messi menutup turnamen dengan delapan gol, tertinggal dua gol dari Mbappe.


Prestasi tersebut sekaligus mengantarkan Mbappe mencatat sejarah baru. Ia menjadi pemain pertama yang mampu meraih gelar top skor dalam dua edisi Piala Dunia secara beruntun sejak turnamen pertama digelar pada 1930. Torehan 10 gol dalam satu edisi juga menyamai rekor legendaris Gerd Muller yang dicetak pada Piala Dunia 1970.


Meski demikian, penghargaan individu itu tak mampu menghapus rasa kecewanya. Bagi Mbappe, trofi tim jauh lebih berarti dibanding gelar pencetak gol terbanyak.


"Saya lebih memilih tidak menjadi pencetak gol terbanyak, tetapi bermain di final," ujar Mbappe.


Pernyataan tersebut mencerminkan besarnya ambisi sang kapten Les Bleus. Ia mengakui penghargaan individu mungkin akan menjadi bagian penting dalam warisan kariernya kelak, tetapi saat ini kegagalan membawa Prancis berjaya jauh lebih membekas.


Di tengah kekecewaan itu, Mbappe tetap menorehkan pencapaian fenomenal. Dua golnya ke gawang Inggris pada perebutan tempat ketiga membuat koleksi golnya di Piala Dunia mencapai 22 gol dari tiga edisi. Catatan itu melampaui rekor Lionel Messi yang sebelumnya mengoleksi 21 gol di ajang yang sama.


Pelatih Prancis Didier Deschamps pun memberikan apresiasi tinggi kepada anak asuhnya.


"Ia pemain yang luar biasa. Ia adalah kapten yang brilian," puji Deschamps.
Sepanjang turnamen, Mbappe menjadi pusat permainan Prancis. Kebebasan taktis yang diberikan Deschamps, ditambah kerja sama apik dengan Michael Olise yang mencatat lima assist, membuat ketajamannya semakin sulit dihentikan lawan.


Performa impresif Mbappe juga berlanjut di level klub bersama Real Madrid pada musim 2025/2026. Ia sukses mempertahankan gelar Pichichi sebagai top skor La Liga dengan 25 gol dari 31 pertandingan, sekaligus menjadi pencetak gol terbanyak Liga Champions lewat koleksi 15 gol dalam 11 laga.


Keberhasilan mempertahankan Pichichi selama dua musim beruntun menempatkan Mbappe dalam kelompok elite. Di abad ke-21, hanya Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo yang pernah mencatat pencapaian serupa. Jika ditarik lebih jauh, nama terakhir selain kedua megabintang tersebut yang mampu melakukannya adalah legenda Real Madrid, Hugo Sánchez.


Semua statistik itu menegaskan satu hal: secara individu, Kylian Mbappe berada di level tertinggi sepak bola dunia. Namun, hingga Piala Dunia 2026 berakhir, satu paradoks masih terus membayanginya—ia mampu menaklukkan rekor, tetapi belum berhasil menaklukkan takdir untuk kembali mengangkat trofi terbesar.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit