Pinjol Banyak Dimanfaatkan untuk Modal Usaha dan Biaya Pendidikan, Penyaluran Kredit Tembus Rp28 Triliun
JAKARTA – Pinjaman online (pinjol) masih menjadi salah satu sumber pembiayaan yang dimanfaatkan masyarakat Indonesia untuk memenuhi berbagai kebutuhan produktif. Selain sebagai tambahan modal usaha, dana pinjaman juga banyak digunakan untuk membiayai pendidikan dan kebutuhan penting lainnya.
Salah satu perusahaan teknologi finansial (fintech lending), Julo, mencatat telah menyalurkan pinjaman lebih dari Rp28 triliun kepada sekitar 3,3 juta pengguna di seluruh Indonesia. Dari total tersebut, sekitar Rp6,3 triliun dimanfaatkan sebagai modal usaha, sementara Rp1,89 triliun dialokasikan untuk kebutuhan pendidikan.
Selain dua sektor tersebut, dana pinjaman juga digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat, seperti biaya kesehatan, renovasi rumah, hingga berbagai kebutuhan rumah tangga.
Sebagai penyelenggara fintech lending yang telah berizin dan berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Julo menegaskan komitmennya untuk menghadirkan layanan kredit digital yang bertanggung jawab dengan tetap mengedepankan perlindungan konsumen serta kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku.
Presiden Direktur Julo, Harri Suhendra, mengatakan penerapan risk-based pricing menjadi strategi perusahaan dalam memperluas akses pembiayaan bagi masyarakat. Melalui sistem penilaian risiko yang dikembangkan secara mandiri, Julo mampu menawarkan biaya pinjaman mulai dari 0,1 persen per hari, atau jauh di bawah batas maksimum yang ditetapkan regulator.
"Melalui sistem penilaian risiko tersebut, kami dapat memberikan akses kredit yang lebih luas dengan biaya yang kompetitif, sekaligus memastikan setiap nasabah memperoleh layanan yang adil dan bertanggung jawab," ujar Harri.
Sementara itu, industri pinjaman online nasional masih menunjukkan tren pertumbuhan yang positif. Berdasarkan data hingga Maret 2026, nilai outstanding pembiayaan pinjaman online telah mencapai Rp101,3 triliun, meningkat 26,25 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Di sisi lain, tingkat literasi masyarakat terhadap layanan fintech lending masih tergolong rendah. Mengacu pada Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang disusun OJK bersama Badan Pusat Statistik (BPS), indeks literasi fintech lending baru mencapai 24,9 persen. Angka tersebut masih jauh di bawah tingkat literasi keuangan nasional yang berada di level 66,46 persen, maupun literasi sektor perbankan sebesar 65,50 persen.
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Nasional | 21 jam yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu



