Meski Dibayangi Gejolak Global, OJK Pastikan Sektor Keuangan Nasional Tetap Kokoh
JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan stabilitas sektor jasa keuangan nasional tetap terjaga di tengah ketidakpastian ekonomi global, dipicu tensi geopolitik dan tekanan inflasi. Ketahanan perbankan yang kuat, likuiditas yang memadai, serta bauran kebijakan fiskal dan moneter yang tepat menjadi penopang utama daya tahan sektor keuangan Indonesia.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengatakan perkembangan situasi di Timur Tengah mulai meredakan tekanan di pasar energi global. Harga minyak dunia berangsur kembali ke level sebelum konflik, sementara kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi mulai berkurang.
"Namun, risiko geopolitik tetap harus diwaspadai karena stabilitas kawasan masih rentan terhadap potensi eskalasi baru," ujar Friderica, yang akrab disapa Kiki, dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) OJK secara virtual, Selasa (7/7/2026).
Menurut Kiki, perekonomian global masih menunjukkan ketahanan meski pertumbuhannya tidak merata. Amerika Serikat tetap didukung pasar tenaga kerja yang solid, walaupun inflasi meningkat. Sebaliknya, China masih dibayangi lemahnya konsumsi domestik dan investasi swasta, sementara Eropa masih menghadapi perlambatan permintaan meski sektor manufakturnya mulai pulih.
Pada Juni 2026, OECD dan Bank Dunia merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi masing-masing 2,8 persen dan 2,5 persen. Proyeksi tersebut masih berpotensi turun apabila konflik geopolitik kembali memanas atau gangguan pasokan energi berlangsung lebih lama.
"Prospek ekonomi global masih dibayangi lemahnya permintaan, perlambatan ekonomi China, serta ekspektasi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama (higher for longer). Kondisi ini memengaruhi selera risiko investor global," jelasnya.
Di dalam negeri, sejumlah indikator ekonomi menunjukkan adanya moderasi. Aktivitas manufaktur melemah, surplus neraca perdagangan menyusut, dan cadangan devisa menurun. Meski demikian, stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga berkat sinergi kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia.
"Stabilitas sektor keuangan nasional tetap terjaga, didukung meredanya tekanan eksternal serta respons kebijakan yang memadai," tegas Kiki.
Di pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Juni 2026 ditutup di level 5.643,19 atau terkoreksi 7,90 persen secara bulanan dan turun 34,74 persen sejak awal tahun. Meski demikian, OJK menilai likuiditas dan ketahanan pasar modal domestik masih berada pada level yang terkendali.
Rata-rata nilai transaksi harian di Bursa mencapai Rp22,23 triliun, sedikit lebih rendah dibandingkan Mei 2026 sebesar Rp22,86 triliun. Sementara investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp19,63 triliun, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai Rp4,10 triliun.
Secara terpisah, Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, menilai fondasi ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih kuat dibandingkan saat menghadapi krisis pada masa lalu.
"Secara makro, kondisi ekonomi Indonesia masih cukup baik. Yang dirasakan sebagian masyarakat lebih merupakan tekanan terhadap kondisi keuangan rumah tangga, bukan pelemahan fundamental ekonomi," ujarnya.
Menurut Josua, masyarakat kini lebih selektif dalam berbelanja akibat kenaikan harga sejumlah komoditas. Meski begitu, konsumsi domestik tetap menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi nasional, ditopang berbagai program perlindungan sosial pemerintah.
"Kepercayaan publik menjadi modal penting untuk menjaga momentum pertumbuhan. Ekonomi yang kuat harus dibangun atas keyakinan masyarakat, pelaku usaha, dan investor," katanya.
Likuiditas Perbankan Tetap Kuat
Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan kondisi likuiditas perbankan masih sangat memadai. Salah satu faktor pendorongnya adalah penempatan kembali dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah yang membantu memperkuat likuiditas industri perbankan.
"Likuiditas yang lebih longgar diharapkan menciptakan persaingan penghimpunan dana yang lebih sehat sekaligus menurunkan biaya dana (cost of fund)," ujar Dian.
Dengan likuiditas yang lebih kuat, perbankan memiliki ruang lebih besar untuk meningkatkan penyaluran kredit, terutama ke sektor-sektor produktif yang memberikan dampak langsung terhadap perekonomian nasional.
Hingga Mei 2026, rasio Alat Likuid terhadap Non-Core Deposit (AL/NCD) tercatat 108,20 persen dan Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sebesar 24,74 persen, jauh di atas ambang batas masing-masing 50 persen dan 10 persen. Sementara Liquidity Coverage Ratio (LCR) berada di level 186,54 persen.
Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 13,49 persen secara tahunan menjadi Rp10.294 triliun. Pertumbuhan tersebut ditopang kenaikan giro sebesar 20,53 persen, deposito 10,17 persen, dan tabungan 10,21 persen.
Kualitas kredit juga tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah (NPL) gross sebesar 2,17 persen dan NPL net 0,84 persen. Sementara Loan at Risk (LaR) tercatat 8,72 persen.
Dari sisi profitabilitas, Return on Assets (ROA) perbankan berada di level 2,45 persen. Adapun ketahanan permodalan tetap kuat dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) mencapai 23,74 persen, mencerminkan kemampuan perbankan menyerap berbagai potensi risiko.
Penyaluran kredit pun terus menunjukkan tren positif. Hingga Mei 2026, kredit tumbuh 11,51 persen secara tahunan menjadi Rp8.918 triliun, meningkat dibandingkan pertumbuhan April yang sebesar 9,98 persen. Pertumbuhan tertinggi berasal dari kredit korporasi yang melonjak 18,39 persen secara tahunan, menandakan aktivitas dunia usaha masih tetap ekspansif di tengah tantangan global.
Pos Banten | 3 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 3 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 2 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 1 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu




