Nasib Pemilik Rumah Reot Belum Dapat Kepastian Dibantu Pemerintah
Dinsos Berdalih Kewenangan RTLH Ada Di DPKPP Pandeglang
PANDEGLANG - Nasib Yeni Farida (40), warga Kampung Caringin Lor, Desa Caringin, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, yang rumahnya reot atau nyaris ambruk, belum dapat kepastian dibantu oleh pemerintah.
Bahkan, pihak Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Pandeglang berdalih persoalan utama bukan semata bantuan sosial, melainkan administrasi kependudukan dan status rumah yang dimiliki Yeni Farida.
Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial pada Dinsos Pandeglang, Encep Hermawan, mengklaim, pihaknya telah menyalurkan bantuan logistik kepada keluarga Yeni. Sementara kata dia, penanganan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) menjadi kewenangan Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Pertanahan (DPKPP) Pandeglang.
“Kami sudah menyalurkan bantuan logistik. Untuk perbaikan rumah itu menjadi ranah OPD (Organisasi Perangkat Daerah) lain, yaitu DPKPP. Kendala yang sering terjadi adalah status kepemilikan tanah sehingga menyulitkan pengalokasian bantuan RTLH,” kilah Encep kepada awak media, Selasa (4/8).
Disisi lain, Encep membantah anggapan bahwa keluarga Yeni sama sekali tidak tersentuh bantuan pemerintah. Menurutnya, keluarga tersebut masih tercatat menerima bantuan tertentu, sedangkan kendala utama untuk pengusulan PKH maupun BPNT berasal dari ketidaksesuaian data administrasi kependudukan.
“Persoalannya, ada pada data Adminduk (Administrasi Kependudukan), KTP dan Kartu Keluarga masih belum sinkron sehingga pemerintah desa belum bisa mengusulkan bantuan PKH maupun BPNT melalui sistem,” kilahnya lagi.
Ia menjelaskan, Dinsos akan berkoordinasi dengan pemerintah desa untuk memperbarui data keluarga tersebut dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Pembaruan itu diperlukan agar status kesejahteraan keluarga dapat diverifikasi kembali.
“Datanya akan diperbarui di DTKS. Operator desa juga diminta memastikan seluruh administrasi kependudukannya sudah lengkap sehingga bisa diverifikasi kembali,” katanya.
Berdasarkan hasil pendataan sementara, keluarga Yeni masih tercatat berada pada kategori desil 5. Padahal, prioritas penerima bantuan sosial pemerintah umumnya diberikan kepada masyarakat yang masuk kelompok desil 1 dan desil 2.
“Kalau saat ini masih masuk desil 5. Yang menjadi prioritas bantuan adalah masyarakat di desil 1 dan 2. Karena itu, data administrasinya harus dibenahi terlebih dahulu agar bisa diusulkan kembali apabila memenuhi kriteria,” pungkasnya.
Encep menambahkan, sehari sebelumnya atau pada Senin (3/8), Tim Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) bersama SDM Program Keluarga Harapan (PKH) telah turun langsung melakukan asesmen ke rumah keluarga tersebut didampingi Sekretaris Desa Caringin, Ketua RT, dan perangkat desa.
Dinsos juga memastikan keluarga tersebut masih tercatat sebagai peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) BPJS Kesehatan dengan status aktif.
Diberitakan sebelumnya, Satu keluarga, yakni Yeni Farida (40) bersama suami dan tiga anaknya warga Kampung Caringin Lor, Desa Caringin, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, hingga saat ini dihantui (rasa takut) atas kondisi rumah yang kerap bocor saat hujan, dan nyaris ambruk yang mengancam keselamatan.
Mirisnya, selain kondisi rumah semi permanen tak layak huni, Yeni sama sekali tak pernah mendapatkan Bantuan Sosial (Bansos) dari pemerintah. Padahal, Yeni Farida bersama suami dan tiga anaknya menjalani hidup serba keterbatasan.
Kondisi rumah yang telah mereka tempati sekitar lima tahun terakhir kini semakin memprihatinkan. Sebagian atap yang terbuat dari genteng dan rumbia ambruk sehingga setiap hujan turun, air masuk dari berbagai sudut rumah.
Kondisi itu membuat keluarga tersebut harus berpindah-pindah tempat saat hujan mengguyur. Bahkan, ketika hujan deras turun pada malam hari, mereka memilih mengungsi ke rumah tetangga demi menghindari atap yang dikhawatirkan ambruk.
Walau kondisinya sangat memprihatinkan, hingga saat ini tak kunjung ada bantuan dari pemerintah untuk membangun rumahnya agar bisa masuk kategori layak huni.
“Sudah sekitar lima tahun tinggal di sini. Rumah rusaknya sudah setahun. Mau diperbaiki juga tidak punya biaya. Suami kerja serabutan, untuk biaya berobat anak saja sudah berat,” keluh Farida, Senin (3/8).
Nasional | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Pos Tangerang | 1 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu



