Airlangga: Gejolak Global Belum Berakhir, Ekonomi Indonesia Tetap Tangguh
Pemerintah Optimistis Ketahanan Energi, Pangan, dan Investasi Mampu Redam Dampak Konflik Dunia
JAKARTA - Perang berkepanjangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran masih membayangi perekonomian dunia. Gangguan rantai pasok global akibat ketidakpastian di Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan tekanan inflasi di berbagai negara.
Meski demikian, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai Indonesia memiliki fondasi ekonomi yang cukup kuat untuk menghadapi gejolak tersebut. Menurutnya, kekayaan sumber daya alam serta kebijakan pemerintah membuat perekonomian nasional lebih tahan terhadap tekanan global.
"Alhamdulillah, kita memiliki imunitas terhadap gejolak tersebut," ujar Airlangga saat berbincang dengan Tim Rakyat Merdeka Group di Jakarta, Rabu (5/8/2026).
Airlangga mengatakan, pemerintah terus memantau perkembangan geopolitik dunia karena konflik di kawasan Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir.
"Belum kelihatan hilalnya bahwa perang ini akan berakhir," katanya.
Meski harga minyak dunia berpotensi meningkat, pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah antisipasi agar subsidi energi tetap terkendali. Salah satunya melalui implementasi program mandatori B50 sejak 1 Juli 2026 yang bertujuan memperkuat ketahanan energi sekaligus mengurangi impor solar.
Menurut Airlangga, sektor kelistrikan nasional juga relatif aman karena ditopang energi domestik seperti batu bara, gas, dan tenaga air. Kondisi tersebut menjaga stabilitas APBN sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
"Ini yang membuat Indonesia lebih imun terhadap gejolak energi dunia," tegasnya.
Di sektor pangan, Indonesia juga dinilai semakin kuat. Bahkan dalam satu setengah tahun terakhir Indonesia kembali mengekspor pupuk ke sejumlah negara, termasuk Thailand dan Australia. Hal itu menunjukkan posisi Indonesia semakin mampu meredam dampak konflik global terhadap perekonomian nasional.
Terkait investasi, Airlangga menjelaskan pemerintah terus melakukan penataan rantai pasok industri pascapandemi Covid-19. Indonesia kini telah menjadi bagian dari ekosistem baterai kendaraan listrik dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang mendekati 60 persen.
Menurutnya, kebijakan tersebut mulai membuahkan hasil. Penjualan otomotif pada semester I-2026 tumbuh dua digit, menjadi sinyal bahwa daya beli masyarakat masih tetap terjaga.
Airlangga juga menyoroti pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II-2026 yang mencapai 5,29 persen. Meski sedikit lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang ditopang momentum Lebaran, capaian tersebut dinilai tetap menunjukkan ketahanan ekonomi nasional.
Memasuki triwulan III-2026, pemerintah akan mempercepat belanja negara, mendorong investasi, serta memperkuat ekonomi digital sebagai mesin pertumbuhan baru.
Menurut Airlangga, Indonesia juga harus mampu memanfaatkan perkembangan teknologi global, termasuk kecerdasan buatan (AI) dan industri semikonduktor, agar tetap kompetitif di tengah persaingan dunia.
Ia menambahkan, penyelesaian Digital Economy Framework Agreement (DEFA) ASEAN akan menjadi langkah strategis untuk memperkuat ekonomi digital kawasan. Salah satu manfaat yang diharapkan adalah perluasan sistem pembayaran lintas negara menggunakan mata uang lokal sehingga dapat mengurangi tekanan akibat fluktuasi nilai tukar.
Olahraga | 3 hari yang lalu
Pendidikan | 10 jam yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Olahraga | 22 jam yang lalu
Olahraga | 20 jam yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu



