Selat Hormuz Belum Dibuka, Harga Minyak Dunia Kembali Melonjak
IRAN – Harga minyak mentah dunia kembali menguat setelah Iran memberi sinyal bahwa akses pelayaran di Selat Hormuz belum akan kembali normal dalam waktu dekat.
Kenaikan harga terjadi di tengah ketidakpastian mengenai kemungkinan tercapainya kesepakatan antara Iran dan Amerika Serikat. Teheran disebut masih menunggu sejumlah tuntutan dipenuhi Washington sebelum membuka kembali jalur strategis tersebut.
Pada perdagangan Selasa (11/8/2026) atau Rabu pagi waktu Indonesia, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 1,3 persen menjadi US$83,20 per barel. Sementara minyak Brent menguat 1,36 persen ke posisi US$88,91 per barel.
Dengan penguatan tersebut, harga minyak telah meningkat lebih dari 6 persen sepanjang pekan ini. Pasar semakin khawatir karena aktivitas pelayaran di Selat Hormuz masih jauh di bawah kondisi normal.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, menyatakan pembukaan kembali selat tersebut berkaitan dengan tuntutan Iran kepada Amerika Serikat. Salah satunya adalah pencairan aset Iran yang saat ini masih dibekukan di luar negeri.
Di sisi lain, sinyal diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif mengatakan situasi kembali mengarah pada peluang terciptanya kesepakatan. Pakistan sebelumnya turut menjadi mediator dalam upaya meredakan konflik AS-Iran pada Juni lalu, meski kesepakatan tersebut tidak bertahan lama.
Ketidakpastian itu membuat pasar energi bergerak sensitif terhadap setiap pernyataan dari Washington maupun Teheran. Presiden AS Donald Trump bahkan kembali menekan Iran dengan tuntutan agar negara tersebut memberikan kompensasi kepada Amerika Serikat.
Aktivitas kapal di Selat Hormuz juga masih terbatas. Data perusahaan intelijen perdagangan Kpler menunjukkan hanya delapan kapal yang melintas pada Senin. Jumlah itu sangat kecil dibandingkan lebih dari 130 kapal per hari sebelum serangan AS dan Israel pada 28 Februari.
Menteri Energi AS Chris Wright menyebut arus ekspor minyak melalui Selat Hormuz kini berada di kisaran rata-rata 9 juta barel per hari dalam periode tujuh hari. Menurutnya, keberadaan militer AS membantu menjaga sebagian jalur ekspor tetap berjalan.
Jika distribusi melalui jaringan pipa turut dihitung, total pasokan minyak dari kawasan Teluk disebut mencapai sekitar 15 juta barel per hari.
Di tengah ancaman gangguan pasokan, pemerintahan Trump juga memperpanjang pembebasan sementara dari ketentuan Jones Act. Kebijakan tersebut memungkinkan kapal tertentu mengangkut sumber daya energi di dalam wilayah Amerika Serikat.
Namun, ruang gerak pemerintah AS dalam menggunakan cadangan strategis juga semakin terbatas. Data Departemen Energi menunjukkan persediaan Strategic Petroleum Reserve (SPR) telah turun di bawah 300 juta barel, level terendah dalam lebih dari 40 tahun.
Cadangan tersebut sebelumnya dikuras secara besar-besaran setelah Presiden Trump memerintahkan pelepasan 172 juta barel pada Maret untuk mengantisipasi gangguan pasokan akibat konflik dengan Iran.
Perkembangan di Selat Hormuz kini menjadi perhatian utama pasar karena jalur tersebut merupakan salah satu rute terpenting bagi perdagangan energi global. Semakin lama aksesnya terganggu, semakin besar pula risiko tekanan terhadap harga minyak dunia.
Pos Banten | 1 hari yang lalu
Pos Tangerang | 3 hari yang lalu
Pos Banten | 1 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu




