Indonesia Diuji Rentetan Bencana, Gempa hingga Karhutla
JAKARTA - Indonesia tengah menghadapi ujian berat akibat rentetan bencana alam yang terjadi hampir bersamaan. Gempa bumi mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Sumatera Utara (Sumut), sementara kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan masih mengancam sejumlah wilayah.
Gempa berkekuatan Magnitudo (M) 7,7 yang mengguncang NTT pada Sabtu (15/8/2026) menelan puluhan korban jiwa. Hingga Minggu (16/8/2026) pukul 15.00 WIB, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 38 orang meninggal dunia, dua orang mengalami luka berat, dan 11 orang luka ringan. Sekitar 2.000 warga mengungsi secara mandiri.
Di tengah proses evakuasi dan penanganan korban di NTT, gempa kembali mengguncang wilayah lain. Gempa berkekuatan M6,4 terjadi di Simalungun, Sumatera Utara, pada Sabtu (15/8/2026) pukul 17.54.52 WIB.
Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa tersebut memiliki magnitudo M6,4 dengan kedalaman 168 kilometer. Episenter berada di darat, sekitar 11 kilometer tenggara Simalungun, pada koordinat 2,91 derajat Lintang Utara dan 98,93 derajat Bujur Timur.
BMKG memastikan gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
Kepala BNPB Suharyanto mengatakan pemerintah langsung mengaktifkan posko penanggulangan bencana untuk mempercepat penanganan dampak gempa.

Kebakaran hutan. Foto : Ist
"Jadi semua hal-hal ketentuan berkaitan dengan penanggulangan bencana ini akan diaktifkan," ujar Suharyanto usai mengikuti rapat koordinasi penanganan gempa NTT yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Sabtu (15/8/2026).
Pemerintah memprioritaskan pencarian dan pertolongan terhadap warga yang masih terjebak di bangunan runtuh. Tim gabungan dari Basarnas, TNI, dan Polri dikerahkan untuk melakukan pencarian serta evakuasi.
"Yang terjebak menjadi sasaran awal dari tim penanganan bencana," kata Suharyanto.
Setelah proses evakuasi, pemerintah akan memulihkan akses transportasi dan komunikasi yang terdampak.
Kementerian Pekerjaan Umum akan mengerahkan personel dan alat berat untuk membuka jalur yang terganggu.
Untuk komunikasi, hingga kini belum ada laporan mengenai gangguan jaringan telepon seluler di wilayah terdampak. Meski demikian, pemerintah tetap menyiapkan perangkat komunikasi cadangan untuk mengantisipasi kondisi darurat.
" Tetapi tentu saja kami juga menyiapkan alat komunikasi cadangan," ungkap Suharyanto.
Selain menghadapi gempa bumi, pemerintah masih harus mewaspadai dampak fenomena El Nino yang berpotensi memperparah kekeringan dan meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan di sejumlah daerah.
Di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, misalnya, kebakaran menghanguskan sekitar dua hektare lahan di Nagari Solok Bio-Bio, Kecamatan Harau. Api telah berhasil dipadamkan dan situasi dinyatakan terkendali setelah hujan turun.
Rentetan bencana tersebut menjadi tantangan besar bagi pemerintah dan masyarakat. Kecepatan evakuasi, kesiapan logistik, pemulihan infrastruktur, serta kewaspadaan terhadap karhutla dan kekeringan menjadi kunci untuk meminimalkan dampak bencana di berbagai daerah.
TangselCity | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Pos Banten | 3 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu








