TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

46 Desa Di Lebak Mengalami Krisis Air Bersih

Sumur Warga Mulai Mengering

Reporter: Nipal
Editor: Redaksi
Rabu, 26 Agustus 2026 | 09:15 WIB
KONDISI SAWAH. Murnah (75), warga Kampung Cipasung, Desa Sukarendah, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, Banten, menunjukkan kondisi sawah yang mengering akibat kemarau, Kamis (20/8). (ISTIMEWA)
KONDISI SAWAH. Murnah (75), warga Kampung Cipasung, Desa Sukarendah, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, Banten, menunjukkan kondisi sawah yang mengering akibat kemarau, Kamis (20/8). (ISTIMEWA)

LEBAK - Sebanyak 46 desa yang tersebar di 15 kecamatan di Kabupaten Lebak, mulai mengalami krisis air bersih akibat musim kemarau. Bahkan, saat ini kondisi sumur milik warga mulai mengering, sehingga warga sulit mendapatkan air bersih.

 

Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak, Febby Rizki Pratama, membenarkan musim kemarau yang melanda wilayah Kabupaten Lebak telah berdampak pada krisis air bersih.

 

Dia mengungkapkan, hingga saat ini pihaknya telah mencatat ada sekitar 13.500 Kepala Keluarga (KK) yang terdampak kekeringan.

 

“Yang terdampak ada 46 desa dari 15 kecamatan. Ada yang mengajukan permohonan bantuan air bersih, dan ada juga laporan saluran irigasi yang sudah tidak teraliri air,” kata Febby saat dihubungi melalui sambungan telepon, Selasa (25/8).

 

Sebagai upaya memenuhi kebutuhan masyarakat, BPBD Lebak telah mendistribusikan sebanyak 382.000 liter air bersih ke wilayah-wilayah yang terdampak musim kemarau.

 

“Itu yang sudah kami distribusikan kepada masyarakat sebagai bentuk pelayanan kepada warga terdampak,” katanya.

 

Febby menjelaskan, penyaluran bantuan air bersih tidak hanya dilakukan oleh BPBD Lebak. Pihaknya juga berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Banten, TNI, Polri, Taruna Siaga Bencana (Tagana), serta Palang Merah Indonesia (PMI).

 

“Jadi tidak hanya BPBD, tetapi juga melibatkan semua instansi yang memang konsen di bidang penanggulangan bencana,” katanya lagi.

 

Menurut Febby, krisis air bersih terjadi karena sejumlah sumber mata air milik warga mulai mengering. Walaupun masih ada, debit airnya sudah tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari.

 

“Karena sumber airnya sudah tidak ada, atau masih ada tetapi tidak bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari,” pungkasnya.

 

BPBD Lebak mengimbau masyarakat yang mengalami kesulitan memperoleh air bersih agar segera mengajukan permohonan bantuan melalui pemerintah desa atau kecamatan setempat. “Permohonan bisa diajukan melalui desa atau kecamatan,” tandasnya.

 

Sebelumnya diberitakan, Musim kemarau panjang di wilayah Kabupaten Lebak, telah berdampak pahit terhadap nasib para petani. Pasalnya, kondisi tersebut, bukan hanya mengancam seluruh tanaman padi pada mati, namun sumber penghasilan pun terancam hilang.

 

Seperti yang dialami Murnah (75) Warga Kampung Cipasung, Desa Sukarendah, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, baginya kemarau bukan sekadar tanah sawah yang mengering. Musim kering membuat sumber penghasilan yang selama ini menjadi sandarannya ikut menghilang, sementara kebutuhan makan keluarga tetap harus dipenuhi setiap hari.

 

Kini, dia tak lagi bisa berharap banyak dari sawahnya. Bahkan, hampir tiga bulan hujan tak turun di wilayah tersebut membuat tanah persawahan mengeras, retak-retak, dan berubah kemerah-merahan.

 

Tanaman padi yang semestinya tumbuh hingga menghasilkan gabah pun terancam gagal panen. “Sudah hampir tiga bulan kering. Tidak ada hujan,” ungkap Murnah saat ditemui wartawan di kediamannya, Kamis (20/8).

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit