PBB Warning Super El Nino Berlangsung Hingga Awal 2027
Dunia Terancam Badai, Banjir hingga Kekeringan
JAKARTA - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan fenomena Super El Nino berpotensi berlangsung hingga awal 2027. Fenomena iklim ekstrem tersebut dikhawatirkan memicu peningkatan badai, banjir, dan kekeringan di berbagai belahan dunia.
Sekretaris Jenderal Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) Celeste Saulo mengatakan, Super El Nino tahun ini menjadi salah satu yang terkuat dalam lebih dari 70 tahun terakhir. Fenomena tersebut diperkirakan berlangsung hingga Februari 2027.
"Ini memiliki potensi memberikan pukulan telak bagi masyarakat dan ekonomi di seluruh dunia," kata Saulo, seperti dikutip BBC News, Jumat (4/9/2026).
Menurut Saulo, kawasan Asia-Pasifik dan Amerika Latin diperkirakan menjadi wilayah yang paling merasakan dampak langsung. Namun, pengaruh El Nino dapat meluas ke berbagai negara dan mengganggu rantai pasok sejumlah komoditas penting.
Komoditas seperti jagung, kakao, dan kopi berpotensi terdampak. Sektor energi juga menghadapi risiko gangguan akibat perubahan pola cuaca.
"Kami sudah melihat gangguan dan kehancuran akibat kekeringan dan banjir dan kami memperkirakan dampak ini akan meningkat saat El Nino semakin menguat," sambung Saulo.
Dampak fenomena tersebut mulai terlihat di sejumlah negara. Laporan Oxfam pada Agustus 2026 mengaitkan El Nino dengan cuaca tidak menentu dan kekeringan di Guatemala, Honduras, serta El Salvador. Kondisi itu menyebabkan hasil panen terganggu. Bahkan, El Salvador menetapkan keadaan darurat nasional pada 25 Agustus 2026.
Indonesia juga menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akibat periode kering yang berkepanjangan.
Sementara di India, musim hujan yang lebih lemah diperkirakan mengganggu produksi sejumlah komoditas pertanian, termasuk padi, tebu, kapas, dan kedelai.
Di Peru, dampak El Nino turut dirasakan sektor perikanan. Penangkapan ikan teri yang selama ini banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan ternak dilaporkan mengalami penurunan.
Ancaman juga membayangi sektor energi. Cuaca ekstrem berpotensi mengganggu produksi listrik dari pembangkit tenaga air, angin, dan surya. Aktivitas pertambangan, termasuk pengolahan minyak dan gas, juga berisiko terdampak.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyerukan kepada seluruh pihak untuk memperkuat upaya perlindungan lingkungan. Menurutnya, perubahan iklim dan kerusakan lingkungan turut memperbesar risiko cuaca ekstrem.
"Dunia berada di zona bahaya cuaca ekstrem. Perlombaan sekarang adalah antara meningkatnya risiko dan komitmen kita untuk mengambil tindakan iklim dan melindungi manusia. Kita harus memenangkan perlombaan itu," tegas Guterres.
Pangan Indonesia Dipastikan Aman
Di tengah peringatan PBB tersebut, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan meminta masyarakat Indonesia tetap tenang. Ia memastikan ketersediaan pangan nasional dalam kondisi aman.
" Beras kita stoknya banyak, ikan banyak, telur banyak, ayam banyak. Di tengah dunia yang bergejolak, insya Allah soal makan Indonesia aman," ucap pria yang akrab disapa Zulhas tersebut di Ambon, Maluku, Kamis (3/9/2026).
Menurut Zulhas, ketersediaan sejumlah komoditas pangan menjadi salah satu indikator ketahanan pangan nasional. Salah satunya beras yang saat ini tersedia dalam cadangan cukup besar.
Kabar relatif baik juga datang dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Direktur Perubahan Iklim BMKG Fachri Rajab mengatakan, sejumlah wilayah Indonesia mulai memasuki musim hujan pada Oktober 2026.
Kondisi tersebut dinilai dapat mengurangi dampak periode kering di Indonesia. Fachri memperkirakan pengaruh Super El Nino di Tanah Air tidak akan separah yang dikhawatirkan di sejumlah wilayah lain.
"Kondisi curah hujan rendah akan berangsur berkurang seiring mulai masuknya periode musim hujan," ucap Fachri kepada awak media, Jumat (4/9/2026).
Namun, Fachri mengingatkan bahwa awal musim hujan di Indonesia tidak terjadi secara bersamaan. Setiap wilayah memiliki waktu yang berbeda, sehingga dampak El Nino juga tidak akan dirasakan secara seragam.
"Awal musim hujan di Indonesia datangnya tidak bersamaan, mulai dari awal Oktober hingga akhir November 2026," terang Fachri.
Pos Banten | 3 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 3 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Pos Banten | 22 jam yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu



