El Nino Bikin Harga Sembako Naik
JAKARTA – Dampak El Nino mulai terasa di pasar. Sejumlah harga bahan pokok perlahan naik akibat produksi dan pasokan yang mulai terganggu.
Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Bank Indonesia, Rabu (2/9/2026), kenaikan tertinggi terjadi pada cabai rawit merah. Harganya melonjak 11,08 persen menjadi Rp82.200 per kilogram (kg).
Harga cabai merah keriting juga naik 7,2 persen menjadi Rp56.550 per kg. Cabai rawit hijau meningkat 4,93 persen menjadi Rp61.750 per kg, sedangkan cabai merah besar naik 3,6 persen menjadi Rp51.750 per kg.
Kenaikan juga terjadi pada komoditas protein hewani. Harga daging ayam ras segar naik 0,35 persen menjadi Rp42.600 per kg. Telur ayam ras meningkat 0,68 persen menjadi Rp29.600 per kg.
Sementara itu, harga daging sapi kualitas I naik 0,2 persen menjadi Rp152.050 per kg. Daging sapi kualitas II juga meningkat 0,11 persen menjadi Rp142.750 per kg.
Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (DPP Ikappi) Reynaldi Sarijowan membenarkan kenaikan sejumlah harga bahan pokok tersebut. Menurutnya, gangguan produksi akibat El Nino mulai berdampak terhadap pasokan di pasar.
“Produksi mulai terganggu El Nino. Sementara permintaan normal,” ujar Reynaldi kepada Rakyat Merdeka, Rabu (2/9/2026).
Ketua Umum Asosiasi Agribisnis Cabe Indonesia (AACI) Abdul Hamid mengatakan, kenaikan harga cabai dipicu berkurangnya pasokan. Selain dampak El Nino, sejumlah daerah juga mulai memasuki masa jeda panen.
“Petani sudah menjual cabai rawit Rp50.000 per kg,” ujarnya.
Hamid memperkirakan harga cabai masih berpotensi naik pada awal September 2026. Namun, kenaikan tersebut diharapkan tidak berlangsung lama seiring masuknya masa panen berikutnya.
Ancaman El Nino juga menjadi perhatian Badan Pusat Statistik (BPS). Fenomena cuaca tersebut diperkirakan berpotensi bertahan hingga awal 2027.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena gangguan cuaca dapat berdampak langsung terhadap produksi dan ketersediaan pangan.
Jika pasokan terganggu, tekanan terhadap harga di tingkat konsumen berpotensi meningkat.
Kondisi tersebut mulai tercermin dalam inflasi Agustus 2026. BPS mencatat inflasi bulanan sebesar 0,21 persen. Sementara kelompok harga bergejolak atau volatile food mengalami inflasi 0,88 persen dengan andil 0,15 persen terhadap inflasi Agustus.
Sejumlah komoditas pangan menjadi penyumbang tekanan harga, antara lain daging ayam ras, cabai rawit, dan beras. Masing-masing cabai rawit dan beras memberikan andil inflasi sebesar 0,02 persen.
Pemerintah pun berupaya menjaga harga pangan agar tidak melonjak terlalu tinggi maupun jatuh terlalu rendah. Keseimbangan antara daya beli masyarakat dan keberlangsungan usaha petani serta peternak menjadi perhatian.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan, harga pangan di tingkat konsumen diharapkan tetap berada di sekitar harga acuan yang telah ditetapkan.
Dengan begitu, produsen tetap mendapatkan keuntungan dan mampu melanjutkan produksi, sementara masyarakat memperoleh harga pangan yang terjangkau.
“Produsen tidak rugi dan bisa terus berproduksi, konsumen juga mendapatkan harga yang sesuai dengan kemampuan daya belinya,” ujar Budi di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Rabu (2/9/2026).
TangselCity | 1 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu



