Erupsi GAK Bikin Ratusan Nelayan Carita Tak Melaut
PANDEGLANG - Erupsi Gunung Anak Krakatau berstatus level III (siaga), bikin ratusan nelayan di wilayah pesisir pantai Carita Kabupaten Pandeglang lebih memilih tak melakukan aktivitas melaut untuk menangkap ikan.
Kondisi itu diperparah dengan operasi pencarian lima jurnalis dan tiga awak Speedboat Arupadhatu I yang masih berlangsung di perairan Selat Sunda.
Ketua DPC Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Pandeglang, Encep Wa'as, mengatakan, aktivitas erupsi GAK membuat sebagian besar nelayan menghentikan kegiatan melaut demi keselamatan.
“Waktu Gunung Anak Krakatau erupsi, sekitar empat hari nelayan sama sekali tidak melaut. Sekarang juga masih banyak yang memilih berhenti melaut karena dampaknya masih terasa,” ungkap Encep Wa'as saat dihubungi via panggilan WhatsApp (WA), Selasa (15/9).
Getaran akibat aktivitas vulkanik diduga membuat ikan menjauh dari wilayah tangkapan nelayan. Kondisi itu katanya, membuat hasil tangkapan diperkirakan menurun sehingga nelayan enggan melaut. “Kalau laut terkena getaran, ikan itu sensitif, jadi menjauh. Nelayan khawatir melaut tapi hasilnya tidak ada,” katanya.
Selain erupsi, cuaca dan ramainya operasi pencarian korban Arupadhatu I di Selat Sunda juga menjadi alasan nelayan menahan kapal di darat. “Di laut sekarang banyak kapal operasi dari Basarnas, TNI AL, Polairud, dan unsur lainnya. Nelayan juga memilih tidak melaut dulu,” ujarnya.
Encep memperkirakan ratusan kapal nelayan di kawasan Carita hingga Labuan tidak beroperasi. Di antaranya kapal kursin, kapal arad, dan berbagai jenis kapal tangkap lainnya. “Ratusan kapal tidak melaut. Dampaknya sangat terasa bagi ekonomi nelayan karena mereka kehilangan penghasilan harian,” katanya.
Ia berharap pemerintah segera memberikan bantuan kebutuhan pokok bagi keluarga nelayan yang terdampak. “Kalau memang nelayan belum bisa melaut, kami berharap ada bantuan beras atau sembako untuk ketahanan pangan nelayan,” harapan Encep.
Encep menambahkan, hingga kini belum ada kepastian kapan nelayan akan kembali beraktivitas normal. Mereka masih menunggu kondisi Gunung Anak Krakatau dinyatakan lebih aman.
Di sisi lain, maraknya informasi yang beredar di media sosial juga membuat nelayan semakin takut melaut. Menurutnya, banyak kabar yang belum tentu benar memicu kepanikan.
“Isu-isu di media sosial seolah-olah akan ada bencana besar. Walaupun hoaks, itu tetap mempengaruhi psikologis nelayan,” katanya.
Bahkan, kata Encep, sebagian nelayan masih mengungsi ke daerah yang lebih tinggi karena khawatir terjadi erupsi yang lebih besar. “Masih ada nelayan yang mengungsi ke Menes dan daerah perbukitan. Mereka takut kalau tiba-tiba terjadi bencana saat berada di laut,” pungkasnya.
Sementara, Kepala Dinas Perikanan Pandeglang, Uun Junandar mengatakan, para nelayan memang berhenti melaut. Namun kondisi itu saat terjadi erupsi GAK. Dipastikan Uun, untuk saat ini sudah ada yang mulai kembali melaut melakukan pencarian ikan.
“Memang para nelayan sempat berhenti mencari ikan pada saat erupsi GAK. Namun sekarang sudah mulai normal kembali. Memang kalau masih erupsi tangkapannya kurang,” katanya.
Pihaknya juga kata Uun, sudah memberikan imbauan kepada seluruh nelayan agar tetap waspada. Bahkan disarankannya, kalau terjadi erupsi lagi jangan memaksakan melaut.
“Kami sudah imbau nelayan agar tetap waspada dan hati-hati, dan jangan sampai melaut kalau erupsi GAK terjadi kembali,” tandasnya.
Nasional | 1 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Pendidikan | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 18 jam yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu






