ABK Arupadatu Ditemukan di Enggano, Begini Penjelasan Arus Laut
BENGKULU — Penemuan jenazah Surakman, salah satu anak buah kapal (ABK) KM Arupadatu I, di Pulau Enggano, Bengkulu, menimbulkan pertanyaan. Bagaimana korban yang hilang di perairan Selat Sunda bisa hanyut hingga sejauh itu?
Surakman ditemukan pada 12 September 2026, lima hari setelah KM Arupadatu I hilang kontak di sekitar Gunung Anak Krakatau. Identitasnya kemudian dipastikan melalui pencocokan DNA dengan anak kandungnya.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono menjelaskan, perpindahan korban dari Selat Sunda menuju Enggano secara oseanografis memungkinkan terjadi. Laut tidak bergerak dalam satu arah, melainkan dipengaruhi arus, pasang-surut, angin dan gelombang.
“Ditemukannya jenazah salah satu ABK kapal yang hilang di kawasan Selat Sunda hingga Pulau Enggano menjadi petunjuk oseanografis yang sangat penting,” kata Daryono melalui akun Instagram resminya, Kamis (24/9/2026).
Menurutnya, pada periode monsun tenggara sekitar Juni-September, kecenderungan massa air dari Laut Jawa keluar melalui Selat Sunda menuju Samudra Hindia menguat. Arus residu di kawasan tersebut juga dapat bergerak ke arah barat daya.
Setelah keluar dari Selat Sunda, objek yang hanyut dapat mengikuti sistem arus yang lebih luas di perairan barat Sumatra dan selatan Jawa.
Selain arus, angin dan gelombang turut memengaruhi arah hanyutan. Responsnya pun berbeda antara tubuh manusia, serpihan kapal, maupun benda terapung lainnya karena dipengaruhi daya apung dan bagian benda yang berada di atas permukaan air.
Daryono menyebut topografi Selat Sunda, termasuk keberadaan pulau-pulau seperti Krakatau, Sebesi, Sebuku dan Sertung, juga dapat membelokkan arus serta membentuk pusaran lokal.
“Temuan korban di Enggano tidak boleh ditafsirkan secara sederhana dengan menarik garis lurus dari Anak Krakatau menuju Enggano,” ujarnya.
Untuk mengetahui jalur hanyutan secara lebih akurat, data arus, pasang-surut, angin dan gelombang dapat dimasukkan ke dalam simulasi hindcast. Hasilnya dapat membentuk koridor probabilitas yang menunjukkan jalur laut yang paling mungkin dilalui korban.
Namun, Daryono menegaskan, temuan Surakman di Enggano belum membuktikan bahwa korban lain atau kapal Arupadatu I mengikuti jalur yang sama.
Nasional | 1 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Ekonomi Bisnis | 2 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Pos Tangerang | 2 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu





