Banjir Sumatera Renggut 303 Nyawa
SUMATERA - Sampai tadi malam, pukul 21.00 WIB, banjir bandang dan longsor yang melanda tiga wilayah di Pulau Sumatera; Aceh, Sumatera Barat (Sumbar), dan Sumatera Utara (Sumut), menelan 303 korban jiwa. Meski begitu, Pemerintah memilih belum menetapkan status bencana nasional.
Presiden Prabowo Subianto menegaskan, Pemerintah menaruh perhatian besar terhadap bencana tersebut. Ia memastikan, upaya penyaluran bantuan bagi masyarakat terdampak terus berjalan, termasuk percepatan pemulihan di berbagai wilayah.
Hal itu disampaikan Prabowo saat menghadiri Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2025 di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (28/11/2025) malam.
Kita berdoa dan memohon pertolongan Yang Maha Kuasa untuk meringankan penderitaan mereka. Pemerintah terus bekerja, menyalurkan bantuan segera ke daerah-daerah terdampak,” ujarnya.
Prabowo juga menyoroti pentingnya menjaga kelestarian lingkungan di tengah meningkatnya risiko bencana akibat perubahan iklim global. Menurutnya, kewaspadaan dan tindakan nyata dalam perlindungan lingkungan harus menjadi prioritas bersama.
“Ini mengingatkan kita betapa pentingnya menjaga lingkungan. Masalah lingkungan sangat fundamental dalam kondisi perubahan iklim yang kini kita alami,” ujar Ketua Umum Partai Gerindra itu.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto mencatat, hingga Sabtu (29/11/2025) sore, total korban meninggal dunia imbas banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumbar dan Sumut mencapai 303 orang. Korban meninggal paling banyak berasal dari Sumut sebanyak 166 jiwa, sementara 143 lainnya warga hilang.
Di Aceh, sebut Suharyanto, korban meninggal 47 orang, 51 orang hilang, dan 8 orang luka-luka.
Sementara, korban meninggal dunia di Sumbar meningkat setelah ada tambahan korban dari Kabupaten Agam yang mencapai 74 orang meninggal dunia. “Sekarang nomor dua setelah Sumut, 90 yang meninggal dunia, 85 hilang, 10 luka-luka,” kata Suharyanto.
Data ini masih akan berkembang terus, karena ada beberapa pencarian pertolongan dari satgas gabungan ini menemukan korban,” ucap Suharyanto.
Dia juga mengungkap tantangan penanganan bencana. Sejumlah akses di Aceh, Sumbar dan Sumut terputus. Hal ini menyulitkan evakuasi dan distribusi logistik.
BNPB telah menyalurkan bantuan berupa paket sembako, hygiene kit, kasur lipat, makanan siap saji, dan perlengkapan kebersihan ke sejumlah titik yang bisa dijangkau. “Starlink juga sudah didistribusikan ke pemerintah daerah, baik di titik pengungsian maupun posko darurat,” ujar Suharyanto.
Soal status bencana, kata Suharyanto, bencana ini masih masuk kategori bencana daerah tingkat provinsi. Pemerintah belum menetapkan status bencana nasional karena kondisinya sudah membaik.
Suharyanto mengingatkan, kasus bencana seperti Gempa Palu, Gempa Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Gempa Cianjur juga tidak ditetapkan sebagai bencana nasional. “Status bencana nasional yang pernah ditetapkan itu kan Covid-19 dan Tsunami Aceh 2004,” ucap Suharyanto.
Dia menjelaskan, penetapan status bencana nasional melalui berbagai pertimbangan, salah satunya dari skala korban. Sementara situasi bencana di utara Sumatera saat ini, belum mencapai ambang penetapan status bencana nasional.
Bantuan Terus Mengalir
Bantuan logistik dan peralatan terus berdatangan ke tiga provinsi terdampak. TNI mengirim 76.500 ton bantuan dari Posko TNI AU Halim Perdanakusuma, serta mengerahkan lima pesawat angkut dan sebelas helikopter untuk menjangkau wilayah terisolir.
Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, menyebut total 11 helikopter TNI dan Basarnas telah dikirim dari Jakarta ke lokasi bencana. Sembilan di antaranya sudah beroperasi sejak 26 November, sementara dua helikopter tambahan diberangkatkan menuju Aceh.
Seluruh armada udara fokus pada distribusi logistik ke daerah yang akses daratnya terputus, dengan mempertimbangkan keselamatan dan kondisi cuaca.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menyatakan pihaknya sedang memetakan infrastruktur yang rusak untuk percepatan pemulihan. Ia memastikan kesiapan pengerahan alat berat selama masa tanggap darurat.
Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian meninjau wilayah terdampak di Pidie dan Pidie Jaya, Aceh. Tito menyerap aspirasi warga untuk mencegah bencana serupa dan memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi, termasuk pasokan listrik yang terganggu.
Tito berharap seluruh unsur pemerintahan bergerak cepat dalam pemulihan, terutama perbaikan prasarana dasar, pemulihan akses transportasi, serta memastikan kebutuhan logistik dan layanan kesehatan dapat terpenuhi.
Sementara, Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Trunoyudo Wisnu Andiko mengatakan, Polri mengerahkan dua pesawat CN dan Fokker untuk mengirimkan bantuan untuk korban banjir Sumatera. Selain itu, Polri juga mengerahkan 87 prajurit untuk melakukan pemulihan di daerah tersebut.
Politik | 1 hari yang lalu
Pos Banten | 1 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 1 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Pos Tangerang | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
















