Resolusi 2026, Mendorong Gaya Hidup Zero Waste
TAHUN 2025 sudah berlalu dan saat ini kita berada di tahun yang baru, tahun 2026. Kebanyak orang mulai menyusun resolusi, suatu agenda atau target hidup selama satu tahun ke depan. Umumnya orang menetapkan resolusi lebih pada pendekatan capaian pribadi, entah itu target menikah, lulus kuliah, pekerjaan atau lain sebagainya.
Tidak ada salahnya tahun ini, kita membuat resolusi yang bisa berdampak besar terhadap lingkungan dan alam. Isu lingkungan dalam setiap waktu akan selalu relevan, karena kita hidup pada ruang dan lingkungan yang bernama alam. Tahun 2025 kita disuguhkan dengan berbagai peristiwa yang beberapa di antaranya soal bencana alam yang diakibatkan dari kerusakan lingkungan, Sumatra Utara, Aceh, Bali, Tegal, Serang, dan beberapa daerah lain yang mengalami bencana alam (banjir dan longsor). Bahwa hidup kita hari ini tidak hanya untuk kita, tetapi ada anak cucu dan generasi mendatang yang perlu diwariskan alam yang lestari.
Prof. Ermaya Suradinata (2016: 26) menyebutkan hubungan manusia dengan lingkungan bisa bersifat positif dan bisa bersifat negatif. Bersifat positif manakala manusia memanfaatkan lingkungan sumber daya alam dengan memperhitungkan kelestariannya sehingga tidak memikirkan untuk keuntungan generasi sekarang saja akan tetapi memperhitungkan juga pemanfaatan untuk generasi mendatang, sehingga sumber daya alam tersebut dipergunakan dengan jangka panjang. Sedangkan bersifat negatif manakala sumber daya alam hanya didasarkan pada prinsip jangka pendek yaitu dengan mengeksploitasi sebanyak mungkin, tanpa memperhitungkan generasi mendatang yang juga memerlukan potensi alam dan lingkungan tersebut. Lambat tetapi pasti tanpa pelestarian lingkungan akan merosot, sehingga bisa terjadi tidak lagi mampu memberi kehidupan pada manusia. Bahkan bisa terjadi bencana alam yang mengancam kehidupan manusia.
Upaya menjaga lingkungan bisa dilakukan dengan mendorong gaya hidup zero waste. Gaya hidup zero waste bukan berarti tidak menghasilkan sampah sama sekali. Karena di era modern saat ini dan ekonomi serta keadaan pasar yang masih linear (beli-pakai-buang), belum pada konsep ekonomi sirkular seutuhnya. Zero waste yang akan kita bahas ini lebih berorientasi pada pengurangan jumlah sampah dengan cara bijak menggunakan produk yang memiliki usai pakai lebih lama, menghindari produk atau kemasan sekali pakai serta produk yang memiliki dampak negatif terhadap lingkungan maupun kesehatan.
Mengutip data dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), rata-rata orang Indonesia menghasilkan sampah antara 0,7-1 kilogram per hari. Jika dikalkulasikan dengan jumlah penduduk Indonesia sekitar 270 juta jiwa, maka per hari di Indonesia terdapat 175.000 ton sampah. Dari jumlah tersebut menurut KLH, baru 33,77 persen atau 12,914,948.82 ton per tahun sampah yang terkelola, sisanya 66,23 persen atau 25,327,480.51 ton per tahun tidak terkelola.
Lantas bagaimana langkah kita untuk memulai gaya hidup zero waste? Gaya hidup zero waste bisa dimulai dari langkah kecil namun harus komitmen, artinya dilakukan secara kontinyu dan jika memungkinkan ajak orang lain untuk melakukan hal yang sama.
Dikutip dari zerowaste.id sedikitnya terdapat tujuh langkah untuk memulai gaya hidup zero waste, yakni:
1. Ubah Mindsetmu Tentang Sampah
Seperti yang kita ketahui, hidup dikelilingi sampah sangatlah tidak nyaman. Tidak hanya kotor, namun sampah juga bisa membahayakan sumber kehidupan kalian lainnya. Salah satu contohnya adalah air. Air yang tercemar tentunya akan sangat membahayakan kesehatan tubuh, terutama jika kalian mengkonsumsinya setiap hari.
Selain itu, udara yang berpolusi dan tanah yang tertutup plastik juga akan membahayakan lingkungan sekitar, belum lagi dengan climate change dan polusi terhadap makhluk-makhluk lain termasuk manusia. Karena itu, ubah mindset kalian tentang sampah. Membuang sampah ditempatnya saja tidak cukup, perlu step by step pencegahan dan pemanfaatan sumber daya secara maksimal. Sampah tidak hanya plastik dan sampahmu adalah tanggung jawabmu.
2. Kurangi Pemakaian Item Sekali Pakai
Memulai gaya hidup zero waste selanjutnya adalah dengan mulai mengurangi pemakaian barang sekali pakai. Contoh barang sekali pakai adalah cangkir kopi, sedotan plastik, tas kresek, bungkus makanan ringan, dan lain sebagainya. Limbah dari barang-barang ini disebut sebagai limbah terbesar yang sering dibuang ke tempat sampah. Jadi, jika kalian ingin memulai gaya hidup tanpa sampah bisa mencegah barang-barang tersebut dengan memaksimalkan barang-barang guna ulang yang dapat dimanfaatkan.
3. Memanfaatkan Barang yang Sudah Ada
Salah satu upaya dalam mengurangi sampah rumah tangga berbahan plastik adalah dengan cara memanfaatkannya berkali-kali. Termasuk plastik kresek yang sudah ada di rumah ataupun thinwall yang sudah ada di rumah. Kalian tidak perlu membeli tas-tas atau produk-produk baru yang diklaim ramah lingkungan untuk memulai gaya hidup minim sampah. Cari dan manfaatkan secara maksimal dulu apa yang ada di rumah.
4. Hargai Perjalanan Orang Lain yang Mungkin Belum Mengerti Pilihan Gaya Hidup Kalian
Ketika memulai gaya hidup zero waste, banyak orang yang beranggapan bahwa gaya hidup yang kalian lakukan itu ribet, sulit, mahal, dan lain sebagainya. Terutama bagi mereka yang benar-benar tidak mengenal apa itu zero waste.
Tapi kalian tidak bisa memaksa dan mengontrol mereka untuk memahami yang kalian lakukan, tetap fokus dengan keputusan kalian dan hal-hal yang bisa kalian kontrol. Mulai dari diri sendiri dulu #SustainabilityStartsWithYou. Memberi contoh adalah cara termudah untuk memperkenalkan gaya hidup yang sedang kalian jalankan untuk membuat orang lain mengenal pentingnya zero waste lifestyle.
5. Kalian Tidak Akan Menjadi Zero Waste Secara Instan
Menjalani dan menjadi zero waste adalah bukan sesuatu yang instan. Karena untuk menjadi zero waste perlu dimulai dari keinginan kalian sendiri, mencari tahu berbagai hal mengenai zero waste lifestyle, dan mencoba sedikit demi sedikit hingga terbiasa.
Banyak orang yang membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa terbiasa dengan zero waste lifestyle. Mulai dari hal-hal kecil terlebih dahulu seperti membawa tempat berbelanja sendiri, membawa tumbler sendiri untuk minuman atau membeli minuman, dan lain-lain. Melakukan hal-hal tersebut secara terus menerus, tanpa kalian sadari bahwa hal itu sudah menjadi kebiasaan. Bisa dikatakan zero waste lifestyle menjadikan kalian lebih hemat dan hidup lebih disiplin, tetapi butuh waktu untuk menjadi terbiasa.
6. Zero Waste Itu Proses, Bukan Menjadi Sempurna
Dalam berkehidupan minim sampah, pasti akan ada kendala, berhenti dan memulai lagi, dari situ kalian akan terus menerus belajar, berubah dan terus menjadi lebih baik. Tidak masalah dan tidak usah khawatir untuk menjadi sempurna. Jadikan zero waste lifestyle sebagai prinsip hidup yang dilakukan secara terus menerus (berproses) .
7. Zero Waste Gak Selalu Berarti ‘Nol’
Menjalankan gaya hidup zero waste bukan berarti memaksakan semua pemakaian menjadi benar-benar nol. Bahkan ada beberapa orang yang lebih memilih pemakaian istilah ‘low waste’ daripada ‘zero waste’ karena lebih masuk akal untuk dilakukan.
Ketujuh langkah untuk memulai gaya hidup zero waste ini tentunya tidak harus dan seketika dilakukan sekaligus. Pertama pahami dulu konsep dan prinsip zero waste lifestyle dan perlahan mulai lakukan dari hal yang terkecil namun konsisten. Jika perilaku individu secara terus-menerus dilakukan dan menjadi perilaku kolektif, bukan tidak mungkin ini menjadi suatu habit baru bagi masyarakat modern yang memahami dan membutuhkan kehidupan yang seimbang dengan alam.
Ke depan akan terwujud gambaran komunitas masyarakat yang secara mandiri mengelola sampah domestik tidak hanya dengan menggunakan prinsip 3R tetapi naik level ke 5R, yakni refuse, reduce, reuse, recycle, dan rot.
Gambaran tersebut mungkin bisa terlihat di Negeri Sakura, di mana masyarakatnya sudah diedukasi oleh pemerintah untuk bisa mengelola sampah secara mandiri. Hasilnya pada 2018, sampah warga Jepang yang dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) hanya satu persen, itu artinya 99 persen selesai oleh warganya.(Clean Authority of Tokyo, 2019)
Keberhasilan Jepang dalam mengelola sampah tidak hanya bertumpu pada teknologi canggih, regulasi yang ketat serta infrastruktur yang bersifat benda mati, justru keberhasilan Jepang adalah melalui pendekatan budaya. Namun tentu antara teknologi, regulasi, dan budaya harus terintegrasi dengan baik serta melibatkan semua pihak seperti konsep good governance oleh Prof. I Nyoman Sumaryadi yang secara integratif melibatkan sub kultur kekuasaan (SKK), sub kultur ekonomi (SKE), dan sub kultur sosial (SKS).
Kita, orang Indonesia tentu sangat bisa mewujudkan itu semua. Karena semua sudah ada contoh dan best practice yang bisa kita tiru. Tidak perlu inovasi hebat, tidak perlu teknologi canggih, tidak perlu regulasi dengan sanksi berat, yang saat ini kita butuhkan adalah kesadaran individu untuk peduli dan bertanggung jawab terhadap sampahnya masing-masing serta dilaksanakan secara kolaboratif, konsisten, dan kontinyu. Yuk, bisa 2026 zero waste.(*)
*) Penulis adalah Dosen Ilmu Pemerintahan STISIP Banten Raya, jurnalis di media lokal Banten serta concern terhadap isu lingkungan.
TangselCity | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Pos Tangerang | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 19 jam yang lalu
Politik | 18 jam yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu



