TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Galeri

Internasional

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

RELIJIUCITY

NATARU

Indeks

Dewan Pers

Jaga Stabilitas Jelang Ramadan Dan Lebaran

Amran Ancam Pengusaha Yang Mainkan Harga Sapi

Reporter: Farhan
Editor: AY
Selasa, 27 Januari 2026 | 10:57 WIB
Mentan Andi Amran Sulaiman. Foto : Ist
Mentan Andi Amran Sulaiman. Foto : Ist

JAKARTA - Pemerintah dan pelaku usaha penggemukan sapi/kerbau (Feedlotter) menyepakati harga sapi hidup di angka Rp 55 ribu per kilogram (kg). Kesepakatan itu untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap daging ruminansia (sapi/kerbau). Terutama menyambut Ramadan dan Lebaran.

 

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang juga Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan, melalui kesepakatan harga sapi hidup ini, diharapkan akan berimplikasi positif pada Harga Acuan Penjualan (HAP) tingkat konsumen.

 

“Kesepakatan ini diterapkan selama Ramadan sampai Idul Fitri agar pedagang daging ruminansia dapat memberikan harga yang baik dan wajar ke masyarakat,” kata Amran dalam keterangan resmi Bapanas, Minggu (25/1/2026).

 

Amran juga menjelaskan, apabila ada pelaku usaha penggemukan sapi/kerbau yang melepas ke pelaku usaha potong hewan dengan harga melebihi Rp 55.000 per kg, dipastikan Pemerintah akan melakukan tindakan tegas.

 

Adapun HAP tingkat produsen dan HAP tingkat konsumen untuk daging ruminansia telah diatur dalam Peraturan Bapanas Nomor 12 Tahun 2024.

 

HAP tingkat produsen sapi hidup ditetapkan Rp 56.000 per kg sampai Rp 58.000 per kg. Sedangkan HAP tingkat konsumen untuk daging sapi segar/CHILLED paha depan Rp 130.000 per kg, paha belakang Rp 140.000 per kg, paha depan beku Rp 105.000 per kg, dan daging kerbau beku Rp 80.000 per kg.

 

Saat ini kami cek harganya masih di bawah HAP, sekitar Rp 55.000 per kilogram. Kalau saya temukan pelanggaran di antara pemegang kuota impor sapi/kerbau, bakalan saya cabut izinnya,” tegas Amran.

 

Dia menerangkan, saat ini ada 80 perusahaan pemegang kuota impor sapi/kerbau. Jumlahnya sekitar 700 ribu ekor.

 

“Pokoknya perintah Bapak Presiden Prabowo Subianto, stabilkan harga, titik,” ucap Amran.

 

Dalam Proyeksi Neraca Pangan Daging Sapi/Kerbau per 6 Januari 2026, proyeksi ketersediaan stok secara nasional sampai Idul Fitri pada Maret 2026 masih mencukupi.

 

Stok awal tahun 2026 berada di 41,7 ribu ton. Kemudian, produksi dalam negeri ditambah hasil potong sapi/kerbau bakalan impor selama 3 bulan nanti dapat mencapai 125,2 ribu ton.

 

Sementara estimasi realisasi impor Januari sampai Maret 18,5 ribu ton.

Dengan itu, total ketersediaan Januari sampai Maret dapat mencapai 185,4 ribu ton. Sedangkan proyeksi kebutuhan konsumsi daging sapi/kerbau secara nasional untuk periode yang sama berada di 179 ribu ton.

 

Artinya, masih ada surplus ketersediaan terhadap konsumsi yang diproyeksikan di angka 6,3 ribu ton.

Terkait kondisi harga daging sapi sampai minggu ketiga Januari 2026, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan mulai ada peningkatan jumlah daerah yang mengalami penurunan harga di tingkat konsumen.

 

Pada awal Januari 2026, ada 13 daerah yang mengalami penurunan harga daging sapi. Sedangkan sampai minggu ketiga Januari menjadi 14 daerah.

 

Ketua Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) Wahyu Purnama bersyukur setelah adanya komitmen harga daging sapi hidup Rp 55.000 per kg.

 

Menurutnya, jika terdapat pelaku usaha Feedlotter yang tidak menerapkan itu, dapat dilaporkan sesegera mungkin.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit