UIC Creative Showcase 2026, Membumikan Warisan Budaya Lampung lewat Kreasi Muda
TANGERANG, Warisan budaya tidak selamanya harus tersimpan sebagai artefak masa lalu. Melalui sentuhan kreativitas generasi muda, kekayaan tradisi seperti instrumen musik gamolan pekhing hingga wastra Lampung dapat bertransformasi menjadi solusi ekonomi kreatif yang relevan dengan kebutuhan pasar modern.
Narasi tersebut mengemuka dalam acara "UIC Creative Showcase 2026" yang digelar di Kampus USG Education BSD, Tangerang, Selasa (3/2/2026). Program tahunan yang diselenggarakan oleh UIC College—bagian dari ekosistem USG Education—ini merupakan hasil kolaborasi dengan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Lampung serta dukungan Kementerian Ekonomi Kreatif.
Pameran ini menjadi puncak dari rangkaian program yang dimulai dengan riset lapangan (Study Week) di Lampung pada November 2025. Para mahasiswa lintas disiplin ilmu melakukan observasi mendalam untuk memahami akar budaya serta tantangan yang dihadapi pelaku UMKM lokal.
CEO USG Education Adhirama G. Tusin menyampaikan bahwa kolaborasi ini bertujuan mengintegrasikan pendidikan dengan dampak sosial-ekonomi nyata. Menurut dia, karya mahasiswa tidak boleh berhenti hanya sebagai tugas akademik di atas kertas.
"Proses kreatif ini diwujudkan dalam solusi nyata untuk UMKM dan pelestarian budaya Lampung. Kami membekali mahasiswa dengan strategi bisnis, penjenamaan (branding), dan kampanye aplikatif yang memberikan dampak bagi ekosistem daerah," ujar Adhirama.
Nilai tambah ekonomi
Direktur Kriya Kementerian Ekonomi Kreatif Neli Yana menekankan pentingnya memberikan nilai tambah pada warisan budaya agar tetap bermartabat dan kompetitif. Warisan budaya dinilai sebagai modal strategis yang harus terus dihidupkan melalui inovasi.
"Kekayaan budaya daerah perlu diolah secara kreatif menjadi produk dan model bisnis yang relevan dengan pasar, tanpa kehilangan identitas aslinya. Karya anak muda harus bertemu dengan kebutuhan pasar agar keberlanjutannya terjaga," kata Neli.
Dukungan serupa datang dari Ketua Dekranasda Provinsi Lampung Hj. Purnama Wulan Sari Mirza. Ia memandang keterlibatan talenta muda sebagai jembatan penting agar kriya Lampung bisa "naik kelas", baik dari sisi desain maupun akses pasar digital.

Lintas disiplin
Dalam pameran tersebut, mahasiswa mempresentasikan karya yang menjawab kebutuhan spesifik industri. Jurusan Computing, misalnya, mengembangkan platform niaga elektronik (e-commerce) untuk Galeri Dekranasda Lampung. Sementara itu, mahasiswa Audio Music Production mengolah bunyi instrumen tradisional seperti serdam dan talo balak menjadi aplikasi musik terapi (sound of healing).
Di bidang fesyen dan desain, simbol-simbol khas Lampung diterjemahkan ke dalam busana kontemporer dan instalasi visual yang memadukan elemen alam. Proses belajar ini juga melibatkan interaksi langsung dengan perajin di Lampung serta observasi ke destinasi seperti Taman Nasional Way Kambas.
COO USG Education Ariyani Mawardi menambahkan, kekuatan program ini terletak pada proses belajar di lapangan. "Mahasiswa belajar langsung dari pelaku UMKM untuk memahami bagaimana nilai tradisional tetap relevan di era modern," katanya.
Melalui pendekatan berbasis proyek (project-based learning), program ini diharapkan tidak hanya memperkaya portofolio mahasiswa, tetapi juga memperkuat ekosistem ekonomi kreatif daerah secara berkelanjutan.
Nasional | 1 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu


