Sekolah Berhati di SMPN 12 Tangsel, Siswa Olah Sampah hingga Panen Sayur Produktif
SERPONG – Implementasi program Sekolah Berhati (Berkarakter, Hijau, Sehat, dan Inovatif) di SMPN 12 Kota Tangerang Selatan menjadi contoh praktik baik pendidikan berbasis lingkungan. Melalui konsep integrated farming dan tata kelola sampah terpadu, para siswa tak hanya belajar teori, tetapi juga menghasilkan produk nyata mulai dari sayuran hingga budidaya ikan.
Program tersebut merupakan bagian dari Corporate Social Responsibility (CSR) Sinar Mas Land yang berkolaborasi dengan Dinas Pendidikan Kota Tangsel.
Usai melihat secara langsung implementasi program ini, Wali Kota Tangsel, Benyamin Davnie mengatakan, Sekolah Berhati menjadi langkah strategis dalam membangun karakter peduli lingkungan sejak dini. Menurutnya, pendidikan lingkungan harus dimulai dari sekolah dan dilakukan secara berkelanjutan.
“Hari ini saya menghadiri kegiatan Sekolah Berhati yang berkolaborasi dengan Dinas Pendidikan dan CSR Sinar Mas Land. Intinya adalah membangun karakter anak-anak agar peduli dan menjaga lingkungan sejak dini,” ujar Benyamin, Jumat (13/2).
Ia menegaskan, program tersebut bukan hanya soal pengelolaan sampah semata, melainkan mencakup penghijauan, pengolahan lingkungan, serta pendampingan jangka panjang.
“Bukan soal sampah saja, tapi bagaimana mengolah sampah, menjaga lingkungan, penghijauan, dan program ini tidak berlangsung satu musim saja. Pendampingannya terus berjalan bersama Sinar Mas Land,” jelasnya.
Atas kolaborasi tersebut, Benyamin menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat. Ia menyebut program ini sejalan dengan visi Presiden RI terkait pembangunan kota yang asri.
“Saya atas nama Pemerintah Kota mengucapkan terima kasih dan mengapresiasi kolaborasi yang sangat baik ini. Inilah yang disebut Bapak Presiden sebagai kota Asri, aman, sehat, resik, dan indah. Targetnya dimulai dari sekolah-sekolah,” tandasnya.
Sementara itu, Kepala UPTD SMPN 12 Kota Tangsel, Mulmis Wariyanti, menjelaskan bahwa program Sekolah Berhati di sekolahnya sudah berjalan sejak 2021. Ia mulai mengimplementasikan secara optimal saat menjabat sebagai kepala sekolah pada 2022.
“Sebetulnya Sekolah Berhati berdiri sejak 2021. Saya menjadi kepala sekolah di sini tahun 2022. Karena sebelumnya sudah mendapat pelatihan, begitu saya ke sini langsung diterapkan dan didukung penuh oleh teman-teman guru,” ungkap Mulmis.
Ia menuturkan, kegiatan lingkungan di SMPN 12 Tangsel meliputi pengelolaan maggot, hidroponik, bank sampah, hingga budidaya lele. Hasilnya pun sudah memberikan nilai ekonomi.
“Sayurannya itu sudah rebutan. Guru-guru, orang tua, kadang-kadang sudah pesan dulu. Sekali panen bisa dapat sekitar Rp200 ribu, dijual per ikat sekitar Rp7.500,” katanya.
Adapun hasil penjualan tersebut dimasukkan ke kas Tim Hijau, yakni kelompok siswa yang secara khusus mengelola program lingkungan. Jenis tanaman yang dikembangkan antara lain pakcoy, kangkung, bayam, sawi, terong, hingga jeruk limau. Bahkan, maggot dimanfaatkan sebagai pakan lele.
Untuk menjaga konsistensi, pihak sekolah membentuk tim sesuai minat siswa. Saat ini, Tim Hijau beranggotakan sekitar 45 siswa dengan pendampingan guru.
“Ada ketua bank sampah sendiri, ketua hidroponik, lele, dan lain-lain. Kalau tidak dibagi per komoditas, tidak akan tertangani,” pungkasnya.
Olahraga | 2 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 1 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu









