TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Galeri

Internasional

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

RELIJIUCITY

RAMADAN

Indeks

Dewan Pers

Perang Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Bensin AS, Tembus Hampir 75%

Reporter: Farhan
Editor: AY
Selasa, 24 Maret 2026 | 10:22 WIB
Tenpat pengisian BBM di AS. Foto : Ist
Tenpat pengisian BBM di AS. Foto : Ist

AMERIKA SERIKAT — Harga bensin di Amerika Serikat mengalami lonjakan tajam dalam beberapa pekan terakhir, dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah yang berdampak langsung pada pasokan minyak global.

 

Pemimpin Minoritas Senat dari Partai Demokrat, Chuck Schumer, menuding Presiden Donald Trump sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kenaikan harga tersebut. Dalam pernyataannya di platform X, Schumer menyebut harga bensin nasional telah melonjak dari USD 2,93 per galon menjadi USD 3,94 hanya dalam waktu kurang dari satu bulan.

 

Ia juga mengkritik keras keputusan pemerintah AS yang melancarkan serangan terhadap Iran, serta menyerukan agar konflik segera diakhiri. Menurutnya, perang tersebut telah menghabiskan puluhan miliar dolar tanpa hasil yang jelas.

 

Data dari American Automobile Association menunjukkan bahwa harga rata-rata bensin eceran telah naik lebih dari 30% sepanjang Maret 2026, dengan angka mendekati USD 4 per galon. Kenaikan ini terjadi sejak Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan ke Iran pada akhir Februari lalu.

 

Analis energi memperkirakan tren kenaikan masih akan berlanjut. Patrick De Haan dari GasBuddy menyebut harga bensin berpotensi menembus USD 4,10 per galon dalam waktu dekat, seiring melonjaknya harga minyak mentah dunia.

 

Kondisi ini terakhir terjadi pada Agustus 2022, dan kini kembali memberi tekanan besar bagi konsumen AS yang masih menghadapi beban inflasi.

 

Selain faktor geopolitik, gangguan distribusi minyak juga menjadi pemicu utama. Ketegangan di kawasan Teluk, khususnya di Selat Hormuz, telah menghambat jalur ekspor minyak dari Timur Tengah—salah satu wilayah penghasil energi terbesar di dunia.

 

Lonjakan harga energi ini pun berpotensi menjadi isu politik krusial bagi pemerintahan Trump dan Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu pada November mendatang. Meski sebelumnya berjanji menekan harga energi dan meningkatkan produksi dalam negeri, kondisi pasar yang fluktuatif serta konflik global membuat target tersebut belum tercapai.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit