Pakistan Tak Menyerah Damaikan AS-Iran, Trump-Netanyahu Dikabarkan Bersitegang
IRAN - Upaya perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran terus bergulir di tengah ketegangan yang belum sepenuhnya mereda. Kedua negara kini saling bertukar proposal untuk mengakhiri konflik, dengan Pakistan memainkan peran penting sebagai mediator.
Iran mengajukan sejumlah syarat untuk mengakhiri perang. Teheran meminta penghentian konflik di seluruh front, terutama di Lebanon, pencabutan seluruh sanksi ekonomi, pencairan seluruh aset Iran yang dibekukan, kompensasi atas kerusakan perang, serta pengakuan kedaulatan Iran di Selat Hormuz.
Di sisi lain, Amerika Serikat mengajukan proposal berbeda. Washington menolak pemberian reparasi perang kepada Iran, meminta penyerahan 450 kilogram uranium yang telah diperkaya hingga 60 persen, membatasi fasilitas nuklir Iran hanya di satu lokasi, serta hanya bersedia mencairkan kurang dari 25 persen aset Iran yang dibekukan. AS juga menginginkan gencatan senjata tetap bergantung pada kelanjutan proses negosiasi.
Pakistan terus bergerak aktif menjembatani kedua pihak. Menteri Dalam Negeri Pakistan, Syed Mohsin Naqvi, bertemu Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, di Teheran, Jumat (22/5/2026). Pertemuan itu berlangsung dua hari setelah Naqvi menyampaikan pesan terbaru dari Washington kepada Teheran.
“Pertemuan ini merupakan upaya untuk mencapai kerangka kerja guna mengakhiri perang dan menyelesaikan berbagai perbedaan yang ada,” ujar Naqvi seperti dikutip Al Arabiya.
Di tengah proses diplomasi tersebut, hubungan antara Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dikabarkan memanas.
Menurut laporan Axios, keduanya terlibat percakapan panas melalui sambungan telepon saat membahas kelanjutan perang melawan Iran. Netanyahu disebut kecewa setelah Trump membatalkan rencana serangan terbaru ke Iran.
Sumber yang dikutip Axios bahkan menyebut Netanyahu sangat geram usai percakapan tersebut. “Rambut Bibi seperti terbakar setelah telepon itu,” ujar sumber tersebut, merujuk pada julukan Netanyahu.
Sebelumnya, AS dan Israel diketahui melancarkan serangan gabungan terhadap Iran sejak 28 Februari lalu. Namun, konflik sementara mereda setelah Washington dan Teheran menyepakati gencatan senjata dan membuka jalur negosiasi damai.
Dalam pembicaraan terbaru, Trump disebut mengungkapkan bahwa mediator tengah menyusun dokumen resmi yang akan ditandatangani AS dan Iran untuk mengakhiri perang secara permanen dan membuka masa negosiasi selama 30 hari. Agenda pembahasan mencakup program nuklir Iran hingga pembukaan kembali Selat Hormuz.
Netanyahu dikabarkan tidak yakin jalur diplomasi akan berhasil. Ia mendesak AS melanjutkan tekanan militer agar kekuatan Iran semakin melemah. Namun Trump tetap memilih memberi kesempatan bagi proses perundingan.
“Jika saya bisa menyelamatkan orang-orang dari kematian dengan menunggu beberapa hari, saya pikir itu adalah hal yang luar biasa,” kata Trump saat berbicara di Akademi Penjaga Pantai, Rabu (20/5/2026).
Meski demikian, Trump menegaskan opsi militer belum sepenuhnya ditutup. Menurutnya, hubungan AS-Iran kini berada di titik penentuan: menuju perdamaian atau kembali ke medan perang.
“Pertanyaannya sekarang adalah apakah kita akan menyelesaikannya lewat perang atau menandatangani dokumen perdamaian. Kita akan mencapai kesepakatan atau melakukan sesuatu yang sedikit kasar. Mudah-mudahan itu tidak terjadi,” ujar Trump.
Trump juga mengakui dirinya kerap berbeda pandangan dengan Netanyahu terkait Iran. Namun ia memastikan koordinasi antara AS dan Israel tetap berjalan baik selama konflik berlangsung.
“Dia pria yang sangat baik. Dia akan melakukan apa pun yang saya lakukan. Dan dia adalah pemimpin hebat di masa perang,” kata Trump soal Netanyahu.
Pos Banten | 1 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Olahraga | 16 jam yang lalu
TangselCity | 16 jam yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Pos Tangerang | 3 hari yang lalu
Pos Tangerang | 2 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu


