TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Rupiah Terkapar di Hadapan Dolar AS, Kini Takluk Pula oleh Dolar Singapura

Reporter & Editor : AY
Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:46 WIB
Ilustrasi dolar Singapore. Foto : Ist
Ilustrasi dolar Singapore. Foto : Ist

JAKARTA – Tekanan terhadap rupiah belum juga mereda. Setelah terus digempur penguatan dolar Amerika Serikat (AS), mata uang Garuda kini juga tak mampu membendung laju dolar Singapura yang semakin perkasa.


Berdasarkan data Refinitiv, pada perdagangan Jumat (29/5/2026), rupiah ditutup melemah 0,51 persen ke level Rp17.865 per dolar AS. Pelemahan tersebut memperpanjang tren negatif rupiah selama lima hari perdagangan berturut-turut.


Tak hanya terhadap dolar AS, rupiah juga tertekan oleh dolar Singapura. Mata uang Negeri Singa itu sempat menembus level psikologis Rp14.000, menguat sekitar 0,52 persen terhadap rupiah.


Jika dibandingkan dengan posisi akhir 2025 yang masih berada di level Rp12.957,64 per dolar Singapura, nilai tukar rupiah telah terdepresiasi hampir 8 persen dalam lima bulan pertama tahun ini.


Kuatnya dolar Singapura tidak hanya terlihat terhadap rupiah. Sejak awal tahun, mata uang tersebut juga mampu menguat sekitar 0,65 persen terhadap dolar AS. Kondisi ini menunjukkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap perekonomian Singapura di tengah ketidakpastian global.


Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Ramdan Denny Prakoso, mengatakan tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi ketidakpastian pasar global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah. Selain itu, meningkatnya kebutuhan valuta asing untuk pembayaran utang luar negeri dan repatriasi dividen turut menambah tekanan terhadap kurs rupiah.

 

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, BI terus mengoptimalkan berbagai instrumen intervensi di pasar valuta asing, baik melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, maupun pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.


Direktur NEXT Indonesia Herry Gunawan menilai pelemahan rupiah saat ini bukan semata faktor musiman. Menurutnya, meningkatnya persepsi risiko terhadap aset berdenominasi rupiah membuat investor memilih instrumen yang dianggap lebih aman.


“Ketika persepsi risiko meningkat, investor cenderung mengurangi eksposur terhadap rupiah dan beralih ke aset yang lebih aman. Faktor ini ikut memberi tekanan terhadap nilai tukar,” ujarnya.


Sementara itu, Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira, menilai penguatan dolar Singapura didorong oleh tingginya kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi dan keuangan negara tersebut.


“Singapura dipandang sebagai safe haven di kawasan. Di tengah gejolak global, banyak investor memilih menempatkan dananya di sana karena dianggap lebih aman dan stabil,” kata Bhima.


Pengamat menilai pemerintah perlu menjaga daya tahan ekonomi domestik melalui kebijakan yang mendukung sektor riil, khususnya industri manufaktur yang sangat bergantung pada bahan baku impor. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi dampak pelemahan rupiah terhadap aktivitas usaha dan pertumbuhan ekonomi nasional.

 

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit