Rupiah & IHSG Terpuruk, Purbaya Pastikan Ekonomi RI Tetap Aman dari Resesi
JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menepis kekhawatiran publik terkait pelemahan tajam rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Menurutnya, tekanan yang terjadi saat ini lebih dipengaruhi sentimen global dan bukan mencerminkan lemahnya fundamental ekonomi nasional.
“Fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat. Dalam satu-dua hari ke depan kondisi diyakini membaik. Investor asing juga mulai kembali masuk, sehingga tidak ada alasan untuk khawatir terhadap ancaman resesi,” ujar Purbaya kepada Redaksi, Senin (18/5/2026).
Pada perdagangan Senin, rupiah kembali tertekan dan ditutup di level Rp17.668 per dolar AS, melemah dibanding penutupan sebelumnya di Rp17.597 per dolar AS. Sementara itu, IHSG juga anjlok 1,85 persen ke level 6.599,24 setelah sempat dibuka turun lebih dari 94 poin.
Tekanan di pasar saham terlihat dari dominasi saham yang melemah, dengan 647 saham turun, 129 saham naik, dan 183 saham stagnan. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp20,47 triliun dengan kapitalisasi pasar menyusut menjadi Rp11.539 triliun.
Purbaya menegaskan kondisi saat ini berbeda jauh dengan krisis 1997–1998. Kala itu, Indonesia menghadapi kesalahan kebijakan serta ketidakstabilan sosial-politik. Kini, menurutnya, ekonomi Indonesia justru masih bertumbuh dan memiliki ruang besar untuk pemulihan.
Pemerintah pun disebut telah membantu stabilisasi pasar melalui langkah intervensi di pasar obligasi lewat skema Bond Stabilization Fund (BSF). Langkah itu dilakukan untuk menjaga harga obligasi tetap stabil dan menahan investor asing agar tidak melepas surat utang negara.
“Kalau harga obligasi stabil, investor asing tidak akan khawatir mengalami capital loss dan memilih tetap bertahan,” jelasnya.
Untuk pasar saham, Purbaya meminta investor tetap tenang. Ia bahkan menilai pelemahan IHSG saat ini bisa menjadi momentum membeli saham di harga rendah.
“Tidak perlu takut. Justru ini saat yang menarik untuk masuk,” katanya.
Menurut analisis teknikal, IHSG diperkirakan berpeluang rebound dalam waktu dekat karena tekanan yang terjadi dinilai hanya bersifat jangka pendek, sementara fundamental ekonomi domestik masih solid.
Senada dengan itu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menilai pergerakan rupiah masih dalam kategori stabil jika dilihat dari sisi volatilitas. Hingga pertengahan Mei 2026, volatilitas rupiah tercatat sekitar 5,4 persen secara year to date.
“Bank Indonesia tidak hanya melihat level kurs, tetapi stabilitas pergerakannya. Dari sisi volatilitas, rupiah masih terkendali,” ujar Perry dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR di Jakarta.
Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun meminta BI terus mengambil langkah terukur agar rupiah dapat kembali mendekati asumsi makro APBN 2026 di kisaran Rp16.500 per dolar AS demi menjaga stabilitas ekonomi domestik dan mengurangi tekanan terhadap industri berbasis impor.
Di tengah gejolak pasar tersebut, Presiden Prabowo Subianto juga memanggil jajaran menteri ekonomi dan Gubernur BI ke Istana Negara untuk membahas kondisi ekonomi terkini. Hadir dalam rapat terbatas itu antara lain Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Menteri Investasi Rosan Perkasa Roeslani, serta Gubernur BI Perry Warjiyo.
Olahraga | 2 hari yang lalu
TangselCity | 17 jam yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
Olahraga | 20 jam yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
TangselCity | 16 jam yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu


