MBG, Mas Bahlil Ganteng
MBG, Mas Bahlil Ganteng.
Buah apa yang paling manis: buahhhlilll.
Tambah ganteng, aja.
My little bolu ketan.
Lagu ini diposting pertama oleh akun @vokaliz_netizen di platform Tiktok. Langsung menyebar dan viral. Kekuatan utama konten ini ada pada audio template-nya. Diperkirakan lebih dari 10.000 video unik menggunakan sound ini sebagai backsound. Video-video turunan itu jika diakumulasikan (aggregated views) diperkirakan menembus hingga 20 juta penayangan TikTok.
Pada platform Instagram akun-akun homeless media dengan pengikut ratusan ribu hingga jutaan mendapatkan view berkisar antara 200 ribu hingga sejuta penayangan per video saat mengunggah ulang atau membuat parodi dari jingle ini.
Lagunya memang renyah didengar dengan syair menggelitik yang langsung akrab di telinga. Nuansa jazzy membuat pendengarnya lebih rileks. Suara penyanyinya garing dan gurih seperti kerupuk kulit. Yang paling menarik, lirik lagu ini sebenarnya dirajut dari kumpulan komentar acak netizen di media sosial, lalu ditenun oleh kecerdasan buatan (AI). Dan hap, jadilah alunan nada yang genit sekaligus memikat.
Jika kita resapi baik-baik, susunan syairnya seperti mewakili sumbatan keresahan publik akibat atmosfer politik kita yang belakangan terasa menyesakkan. Netizen Indonesia memang terkenal juara dalam urusan satire. Mereka selalu punya cara untuk menertawakan kondisi politik lalu mengubahnya menjadi kritikan yang lembut, jenaka, namun tetap menembus sasaran.
Karnivalisme Digital
Fenomena viralnya lagu ini bukan sekadar tren receh yang numpang lewat lalu hilang. Ia bekerja persis seperti "karnaval" dalam ruang pemikiran Mikhail Bakhtin. Filsuf Rusia ini merumuskan karnaval sebagai sebuah konsep budaya abad pertengahan, di mana rakyat jelata menggunakan humor, parodi, dan pesta rakyat untuk "menggulingkan" sementara waktu berbagai aturan kaku dan titah penguasa yang mencekik mereka.
Bagi Bakhtin, karnaval adalah ruang jeda di mana hierarki dilucuti, kekuasaan ditertawakan dan mereka yang biasanya tak bersuara tiba-tiba merebut panggung utama. Dulu, karnaval hadir secara fisik di tengah alun-alun kota, pasar, atau pesta rakyat. Sekarang, panggung itu bermigrasi ke layar ponsel; ke TikTok dan Instagram dalam wujud yang jauh lebih cair, liar, sekaligus sulit dikendalikan.
Dengan bantuan teknologi generator musik berbasis AI, publik tidak lagi sekadar duduk sebagai penonton yang pasif. Mereka menjelma menjadi produser makna. Mereka memparodikan, mengedit, menyunting, lalu menyebarkannya kembali dalam hitungan detik.
Sosok seperti Bahlil Lahadalia, yang dalam struktur politik formal berada di lingkaran puncak otoritas sebagai Ketua Umum partai besar dan Menteri ESDM, di ruang digital justru bisa dibetot turun tanpa upacara. Seorang menteri dan Ketua Umum Partai dijadikan bahan lelucon, objek remix, bahkan simbol yang lebih besar dari dirinya sendiri.
Apa yang terjadi sesungguhnya bukan sekadar kritik. Ini adalah sebuah katarsis. Netizen Indonesia punya karakter unik : mereka menjadikan humor bukan sebagai pelarian kosong atau sekadar ruang tawa. Netizen kita, yang sempat dinobatkan sebagai paling cerewet di dunia, justru paling jago dalam menjadikan humor dan satire sebagai katup pelampiasan dari kesumpekan. Hasilnya kritik jadi bisa terasa menyenangkan, renyah, dan menjalar dengan sangat cepat.
Di saat yang sama kita sedang menyaksikan pergeseran mendasar dalam arus kekuasaan informasi. Dulu, narasi bergerak mutlak dari atas ke bawah (top-down). Media besar, elite politik, dan institusi negara memonopoli apa yang layak diketahui publik. Sekarang, arah angin itu berbalik.
Algoritma memang punya kuasa baru untuk memilihkan mana konten yang pantas dikonsumsi. Tapi kekuasaan mesin itu tidak mutlak. Sebetulnya, algoritma juga digerakkan perhatian kolektif manusia. Apa yang ditonton, diulang, dan dibagikan oleh jempol netizen, itulah yang akan dipompa naik ke permukaan. Netizen mendorong mesin algoritma bekerja menampilkan apa yang mereka kehendaki, yang pada akhirnya memaksa penguasa dan elite untuk menunduk dan melihat ke bawah.
Dalam lagu itu, pelesetan MBG menjadi "Mas Bahlil Ganteng" bukan sekadar permainan kata yang iseng. Ia adalah sebuah dekonstruksi. Akronim resmi yang seharusnya steril, serius, dan terkontrol kini dibongkar paksa lalu dipasangi makna yang sepenuhnya berbeda. Sebuah makna baru yang kendalinya mutlak berada di tangan publik.
Dari rahim inilah lahir apa yang disebut sebagai politainment. Politik tidak lagi disajikan dalam bahasa kebijakan yang dingin, melainkan dalam format hiburan yang mudah dicerna, cepat menyebar, dan mustahil dibungkam. Politik tidak harus diterjemahkan ke dalam slogan besar yang kaku. Protes tidak lagi harus diteriakkan di lapangan demonstrasi dengan urat leher yang tegang.
Kritik rakyat kini bisa hadir dalam gestur-gestur kecil yang dilakukan berulang. Mereka menertawakan, memelesetkan, mengedit ulang kaku menyebarkannya. Dengan kata lain, di media sosial rakyat tidak menolak kekuasaan secara frontal, tetapi mereka menolak tunduk pada cara penguasa ingin dipahami. Netizen tidak lagi sekadar mengonsumsi narasi. Mereka juga merakit sendiri, memelintir, lalu melemparnya kembali ke ruang publik dalam wujud yang tak bisa didikte.
Riding The Wave
Namun ketajaman taring kritik satire ini justru menemui ujian terjalnya ketika kubu elite politik memilih untuk riding the wave, ikut berselancar di atas gelombang viralitas tersebut. Alih-alih menggunakan pendekatan kekuasaan yang represif atau main lapor polisi, lingkaran politik Bahlil justru bersikap santai, pasang badan yang ramah, dan ikut merayakan lagu tersebut.
Ketika para elite Golkar memilih untuk ikut tertawa, joget, atau bahkan membagikan ulang video "Bolu Ketan" ini, mereka sebenarnya sedang memainkan strategi psikologi massa yang sangat cerdik. Dalam ilmu komunikasi, ada konsep yang disebut Inokulasi semacam imunisasi terhadap efek negatif sebuah informasi.
Dengan ikut menertawakan lagu satire yang menyasar Ketua Umumnya, elite Golkar dengan cerdik melakukan inokulasi. Sesuatu yang tadinya dirancang sebagai peluru kritik, mendadak kehilangan daya sengatnya.
Sifat lagu yang tadinya menyengat, sinis, dan penuh gugatan bawah tanah, seketika luruh. Daya rusaknya macet. Kritik yang harusnya bikin telinga merah dijinakkan menjadi sekadar candaan akrab. Ketegangan yang tadinya serius langsung mencair.
Di satu sisi, fenomena ini terasa sangat hangat dan manusiawi. Publik merasa sedang meruntuhkan keangkeran tembok kekuasaan. Namun strategi riding the wave dengan ikut tertawa ini adalah senjata yang bisa mematikan kritik publik. Bukan tidak mungkin, kekuatan lagu satire itu justru dibelokkan menjadi simbol keakraban netizen dengan tokoh politik yang menjadi sasaran kritiknya. Sentimen publik yang tadinya kritis, digeser secara halus menjadi rasa maklum dan kedekatan emosional.
Lupa Substansi
Di sinilah ironi terbesar itu menganga. Di satu sisi, fenomena ini melunakkan keangkuhan kekuasaan. Namun di sisi lain, tawa bersama bisa membuat kita mati rasa. Isu-isu krusial yang mendesak seperti krisis fiskal, utang negara yang menumpuk, keracunan makanan, nilai tukar dolar yang tak kunjung jinak, hingga kebijakan energi yang menentukan nasib rakyat jadi rawan tenggelam dan menguap begitu saja bersama hilangnya tren lagu tersebut dari linimasa.
Sebagai lagu bergenre meme sindiran, sebagaimana tabiat media sosial, usianya dibatasi algoritma. Esok akan ada fenomena lain yang lebih viral, lebih menyita perhatian dan menggusur fenomena lama. Lagu My Little Bolu Ketan akan hilang dan dilupakan. Itu siklus. Tidak ada yang istimewa. Tapi yang tidak mati adalah pertanyaan yang ia sempat hadirkan di sela-sela senandung kita: setelah tertawa, lalu apa?
Biarkan pertanyaan itu mengendap. Karena jawabannya, jika ada, tidak akan pernah ditemukan di beranda TikTok. Ia hanya bisa ditemukan di dalam diri kita masing-masing. Setelah ponsel dimatikan. Setelah algoritma berhenti bicara. Setelah tawa perlahan padam mungkin kita akan menemukan bahwa tawa hanyalah awal. Bukan akhir.
TangselCity | 1 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Lifestyle | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Pos Banten | 3 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu






