TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Safari Jokowi & Dampak Politiknya

Oleh: Ratna Susilowati
Editor: Redaksi
Minggu, 31 Mei 2026 | 14:55 WIB
Ratna Susilowati/Wartawan Senior. Foto : : Dok. Pribadi
Ratna Susilowati/Wartawan Senior. Foto : : Dok. Pribadi

JAKARTA - Bulan Juni ini, Jokowi akan turun dan berkeliling Indonesia. Banyak yang mengkaitkannya dengan pemanasan untuk pemilu mendatang, sekaligus investasi politik jangka panjang. Walaupun relawan Projo menyebut kunjungan keliling Indonesia ini murni silaturahmi untuk memenuhi undangan masyarakat.

 

Gerakan ini sebetulnya memiliki target politik yang terukur. Sekaligus dapat dimanfaatkan oleh Pemerintah untuk mendistribusikan narasi pembangunan kepada masyarakat.

 

Bagi kepentingan Jokowi, safari nusantara ini bisa memberikan sejumlah dampak.

 

Pertama, bisa mendongkrak elektabilitas Partai Gajah atau PSI (Partai Solidaritas Indonesia), yang saat ini dipimpin oleh putra bungsunya, Kaesang Pangarep. Safari politik Jokowi pasti sangat membantu PSI menaikkan jumlah pemilihnya di daerah. Sehingga, memperbesar peluang PSI lolos ke Senayan.

 

Jokowi mengakhiri kepemimpinannya di Oktober 2024 dengan approval rating di kisaran 75-80 persen. Ini tingkat kepuasan masyarakat yang tinggi. Bagi PSI, efek “ekor jas” atau tail effect ini masih bisa dimanfaatkan untuk mendongkrak suara partai di daerah.

 

Kedua, dengan turun ke massa akar rumput, Jokowi sedang membuktikan kepada elite partai bahwa dirinya masih memegang kendali atas massa loyalis yang besar. Sekaligus menunjukkan bahwa pesona politiknya belumlah memudar. Meskipun, sudah tidak lagi menjabat sebagai presiden.

 

Hingga hari ini, kediaman Jokowi di Kutai Utara, Sumber, Solo masih terus didatangi ratusan orang. Bukan hanya datang demi untuk berfoto, mereka juga diizinkan melakukan beragam aktivitas di depan rumah Jokowi. UMKM berdagang, memasak, merangkai bunga, melukis, pengajian, membaca puisi, teater hingga melakukan olahraga yoga. Semuanya ada di sana. Kegiatan-kegiatan itu dilakukan masyarakat dengan suka cita, spontan dan menunjukkan kecintaan kepada Jokowi.

Ini bukti bahwa pamor Jokowi belum padam. Dengan turun ke masyarakat, ke pelosok Indonesia, tentu pamor ini akan semakin terang.

 

Ketiga, Jokowi mungkin sedang memperkuat posisi tawar untuk putra sulungnya yaitu Wakil Presiden Gibran Rakabuming. Dengan keliling nusantara, Jokowi ikut menguatkan posisi Gibran di episentrum kekuasaan.

 

Gibran sendiri, sejak dilantik menjadi wakil presiden, aktif datang ke masyarakat. Mengecek pembangunan infrastruktur, mengawal program pangan nasional, memastikan pembangunan di wilayah 3T dan ikut terlibat menangani dampak bencana. Gibran juga sering mendatangi kiai, tokoh agama dan membantu pesantren-pesantren.

 

Banyak yang menyebut, dia mengadopsi gaya kepemimpinan ayahnya, rajin blusukan dengan maksud mengawal program pemerintah. Gibran mengatakan, turun dan berdialog adalah satu-satunya cara bagi pemimpin untuk mendapatkan realitas yang akurat, agar kebijakan pusat tidak salah sasaran.

 

Pemilu mendatang, masih tiga tahun lagi. Tapi, suhu politik dan kompetisi 2029 bisa mulai menghangat saat Jokowi memulai safari politiknya nanti. Kekuatan massa yang dirawat oleh Jokowi di daerah akan menjadi posisi tawar (bargaining position) yang kuat di hadapan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.


Di sisi lain, secara politik, Presiden Prabowo sangat bisa memanfaatkan safari Jokowi untuk mensosialisasikan program prioritasnya. Narasi utama Pemerintahan Prabowo adalah “keberlanjutan” sehingga kehadiran Jokowi di akar rumput bisa dianggap sebagai jembatan legitimasi yang kuat agar program-program Pemerintah bisa diterima masyarakat dengan narasi yang baik.

 

Eratnya hubungan Jokowi dan Prabowo, sebaiknya bisa dimaksimalkan melalui program safari itu. Apalagi, Projo secara tegas menyatakan bahwa safari Jokowi berada pada posisi mendukung Pemerintah, bukan membangun oposisi. Sehingga, saat-saat pendukung Jokowi berkumpul di daerah, struktur relawan dapat digerakkan secara pararel untuk mengedukasi masyarakat terkait program-program andalan Prabowo.

 

Ada yang menyebut safari Jokowi keliling nusantara berpotensi memanaskan suhu politik kompetisi menuju 2029. Namun, anggapan ini tak sepenuhnya benar. Stabilitas politik justru bisa terjaga dengan baik, jika Prabowo ikut memanfaatkan “energi politik Jokowi” di sisa masa jabatan pertamanya ini. Sosialiasi program pembangunan di daerah oleh Jokowi secara otomatis akan menaikkan citra positif kepemimpinan Prabowo di mata publik, karena Gibran Rakabuming Raka berada di dalam pemerintahan tersebut.

 

Kehadiran Jokowi di daerah, sebetulnya adalah berkah bagi Pemerintahan Prabowo. Karena Jokowi dapat menyampaikan pesan-pesan pembangunan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh masyarakat pedesaan.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit