Ekspor Indonesia Melonjak Hampir 22 Persen pada Mei 2026, Ditopang Produk Sawit dan Nikel
JAKARTA – Kinerja ekspor Indonesia menunjukkan tren positif pada Mei 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor mencapai US$25,30 miliar, meningkat 21,98 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Peningkatan tersebut terutama berasal dari sektor nonmigas yang mencatat nilai ekspor sebesar US$24,15 miliar atau tumbuh 23,36 persen. Sementara itu, ekspor migas tercatat US$1,15 miliar, mengalami penurunan 1,20 persen.
Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan bahwa lonjakan ekspor didorong oleh sejumlah komoditas unggulan, terutama produk lemak dan minyak hewani maupun nabati, termasuk minyak sawit dan turunannya.
“Komoditas lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15) menjadi penyumbang terbesar kenaikan ekspor dengan pertumbuhan 66,59 persen dan andil 5,91 persen,” ujar Pudji dalam konferensi pers, Selasa (2/6/2026).
Selain itu, ekspor nikel dan produk turunannya (HS 75) meningkat 75,25 persen dengan kontribusi 2,17 persen terhadap kenaikan ekspor nasional. Kinerja positif juga ditunjukkan kelompok mesin dan peralatan mekanis beserta bagiannya (HS 84) yang tumbuh 57,09 persen dan memberikan andil sebesar 1,47 persen.
Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia selama periode Januari–April 2026 mencapai US$92,15 miliar atau naik 5,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Di sisi lain, ekspor migas tercatat sebesar US$4,41 miliar, turun 8,30 persen secara tahunan.
Sementara itu, ekspor nonmigas pada empat bulan pertama tahun ini mencapai US$87,74 miliar, meningkat 6,28 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Menurut Pudji, sektor industri pengolahan menjadi motor utama pertumbuhan ekspor nonmigas sepanjang Januari–April 2026. Sektor tersebut memberikan kontribusi terbesar terhadap peningkatan total ekspor nasional dengan andil mencapai 7,71 persen.
Beberapa produk yang mencatat kenaikan signifikan berasal dari industri pengolahan, antara lain produk olahan nikel, minyak kelapa sawit, bahan kimia dasar organik berbasis hasil pertanian, bahan kimia dasar anorganik, serta semikonduktor dan berbagai komponen elektronik lainnya.
Kinerja ekspor yang terus membaik menunjukkan daya saing produk Indonesia di pasar global masih terjaga, terutama pada komoditas bernilai tambah yang berasal dari sektor industri pengolahan.
Opini | 2 hari yang lalu
TangselCity | 6 jam yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 15 jam yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Pos Banten | 3 hari yang lalu



