Haji Mabrur Harus Tercermin dalam Kepedulian dan Keteladanan di Masyarakat
MAKKAH – Kemabruran haji tidak hanya diukur dari keberhasilan menuntaskan seluruh rangkaian ibadah di Tanah Suci, tetapi juga dari perubahan sikap dan perilaku yang dibawa pulang ke tengah masyarakat. Jemaah haji Indonesia diharapkan mampu menjadi teladan serta menghadirkan manfaat nyata bagi lingkungan setelah kembali ke Tanah Air.
Pesan tersebut disampaikan Direktur Bina Haji Khusus dan Umrah Kementerian Agama RI, Akhmad Fauzin, usai pelaksanaan puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Menurutnya, predikat haji mabrur harus tercermin dalam kehidupan sehari-hari melalui akhlak yang lebih baik, kepedulian sosial, dan kontribusi positif bagi masyarakat.
"Kementerian Agama berharap para jemaah haji yang kembali ke Indonesia dapat menjadi panutan serta memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara," ujar Fauzin di Makkah, Arab Saudi, Selasa (2/6/2026).
Ia menegaskan, salah satu indikator kemabruran haji adalah meningkatnya kualitas diri setelah menjalankan ibadah di Tanah Suci. Nilai-nilai kesabaran, kedisiplinan, kebersamaan, dan keikhlasan yang diperoleh selama berhaji hendaknya terus dijaga dan diwujudkan dalam kehidupan nyata.
Dengan jumlah jemaah Indonesia yang mencapai lebih dari 220 ribu orang setiap tahun, Fauzin menilai para haji memiliki peran strategis sebagai agen perubahan di tengah masyarakat. Karena itu, kehadiran mereka diharapkan mampu memberikan dampak positif yang lebih luas.
Menurutnya, keteladanan dapat diwujudkan melalui berbagai bentuk kontribusi, seperti aktif dalam kegiatan sosial, memperkuat budaya gotong royong, menjaga persatuan, serta menumbuhkan disiplin dan kepatuhan terhadap aturan dalam kehidupan bermasyarakat.
"Jemaah haji diharapkan menjadi penggerak dalam berbagai aktivitas sosial, keagamaan, dan kemasyarakatan. Dengan demikian, kemabruran haji tidak hanya dirasakan secara pribadi, tetapi juga membawa manfaat bagi lingkungan sekitar," katanya.
Fauzin juga menekankan bahwa kepatuhan terhadap aturan merupakan bagian dari implementasi nilai-nilai keimanan yang telah ditempa selama menjalankan ibadah haji. Sikap tersebut menjadi cerminan dari kualitas spiritual yang terus terjaga setelah kembali ke Tanah Air.
Selain itu, pengalaman berinteraksi dengan umat Islam dari berbagai negara selama musim haji dinilai menjadi bekal berharga untuk memperluas wawasan dan memperkuat sikap toleransi. Pengalaman tersebut dapat membantu jemaah lebih bijaksana dalam menyikapi perbedaan dan mempererat harmoni sosial di tengah masyarakat yang majemuk.
Ia berharap seluruh jemaah haji Indonesia tetap istiqamah dalam menjalankan ajaran agama, meningkatkan kualitas ibadah, serta memperkuat kepedulian terhadap sesama.
"Keberhasilan haji sejatinya tidak berhenti di Tanah Suci. Kemabruran yang sesungguhnya terlihat dari sejauh mana seorang haji mampu menghadirkan manfaat, menebarkan kebaikan, dan menjadi inspirasi bagi masyarakat, bangsa, dan negara," pungkasnya.
TangselCity | 1 hari yang lalu
Pos Banten | 1 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 11 jam yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu



