Jemaah Haji Mandiri Kloter Banten Dipastikan Dapat Layanan Setara di Tanah Suci
MADINAH — Sebanyak 29 jemaah haji mandiri yang tergabung dalam Kloter 10 Embarkasi Banten (JKB) dipastikan tetap memperoleh pelayanan setara selama menjalankan ibadah haji di Tanah Suci, meski tidak bergabung dalam Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU).
Petugas kloter menegaskan seluruh jemaah, baik peserta KBIHU maupun jemaah mandiri, mendapatkan layanan yang sama dalam hal akomodasi, konsumsi, transportasi, layanan kesehatan, hingga pembinaan ibadah.
Ketua Kloter JKB 10, Lili Amalia, mengatakan seluruh jemaah tetap berada dalam pengawasan dan koordinasi petugas tanpa ada perlakuan berbeda.
“Kami tidak membedakan sama sekali. Ada grup mandiri serta grup Karu dan Karom yang juga berisi jemaah mandiri. Jadi mereka mendapatkan informasi, konsumsi, dan pelayanan yang sama,” ujar Lili di Madinah, Selasa (12/5/2026).
Menurutnya, sebagian jemaah mandiri telah memiliki pengalaman umrah sebelumnya sehingga cukup memahami situasi dan tata cara ibadah di Tanah Suci. Pengalaman tersebut membuat mereka lebih mandiri dalam mengatur aktivitas ibadah maupun perjalanan tambahan di luar agenda resmi.
Meski demikian, petugas kloter tetap melakukan pemantauan intensif guna memastikan seluruh jemaah terlayani dengan baik selama berada di Madinah.
Lili menjelaskan, seluruh jemaah tetap diajak mengikuti program city tour yang disiapkan Pemerintah Indonesia tanpa pengecualian. Namun, beberapa jemaah memilih mengatur perjalanan tambahan secara mandiri karena ingin mengunjungi lebih banyak lokasi.
“Mereka merasa belum puas dengan city tour dari pemerintah. Saya sudah menyarankan untuk bergabung, tetapi mereka memilih mengatur sendiri. Kemungkinan karena sudah pernah umrah, sehingga bisa menjadi pemandu bagi kelompoknya,” katanya.
Selain pelayanan ibadah dan transportasi, tim kesehatan kloter juga rutin melakukan visitasi ke kamar-kamar jemaah, termasuk kepada jemaah mandiri. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan kondisi fisik para jemaah tetap terpantau dengan baik.
Perawat kloter, Suheli, mengatakan kunjungan dilakukan setiap pagi, khususnya bagi jemaah yang membutuhkan perhatian khusus.
“Kami rutin melakukan visitasi ke kamar-kamar setiap pagi. Minimal menyapa dan menanyakan kondisi tidur, makan, serta kesehatan mereka. Alhamdulillah selama di Madinah kondisinya aman,” ujarnya.
Lili menambahkan, pembimbing ibadah dan tim kesehatan terus memberikan edukasi serta pendampingan secara menyeluruh kepada seluruh jemaah tanpa membedakan status keikutsertaan dalam KBIHU.
“Kami rutin melakukan pembinaan. Bu Eli, Dokter Olga, dan Pak Haji Nurholis terus memberikan edukasi kepada seluruh jemaah tanpa membedakan apakah mereka mandiri atau tergabung dalam kelompok tertentu,” tuturnya.
Sebelumnya, pemerintah melalui Kementerian Haji RI telah menegaskan komitmennya untuk memberikan pelayanan yang setara bagi seluruh jemaah haji Indonesia.
Sekretaris Direktorat Jenderal Pelayanan Haji, Abdul Haris, menegaskan tidak ada perbedaan pelayanan antara jemaah KBIHU dan jemaah mandiri.
Sementara itu, Kepala Bidang Perlindungan Jemaah (Linjam) PPIH Arab Saudi, Muftiono, mengatakan pemerintah juga telah menyiapkan tenaga operasional tambahan untuk memperkuat layanan bagi seluruh jemaah Indonesia di Arab Saudi.
“Pemerintah menyiapkan tenaga operasional yang bekerja all out. Bahkan setiap hari petugas wajib menggunakan seragam sebagai bentuk kedisiplinan dan identitas pelayanan,” ujar Muftiono.
Dengan penguatan layanan tersebut, pemerintah berharap seluruh jemaah Indonesia, baik yang tergabung dalam KBIHU maupun jemaah mandiri, dapat menjalankan ibadah haji dengan aman, nyaman, dan khusyuk.
Nasional | 1 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 1 hari yang lalu
Pos Banten | 19 jam yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu





