IHSG dan Rupiah Menguat
JAKARTA - Pasar keuangan domestik mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir. Dalam dua hari perdagangan berturut-turut, nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sama-sama bergerak menguat. Kondisi ini dinilai sebagai respons positif pasar terhadap langkah koordinatif yang dilakukan pemerintah bersama otoritas ekonomi nasional.
Penguatan tersebut terjadi setelah digelarnya rapat koordinasi yang melibatkan DPR, Pemerintah, Bank Indonesia (BI), perwakilan Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), serta sejumlah pimpinan BUMN pada Selasa (9/6/2026). Pertemuan itu menegaskan adanya upaya bersama untuk menjaga stabilitas ekonomi dan memperkuat kepercayaan pelaku pasar di tengah tekanan global yang masih berlangsung.
Di hari yang sama, Bank Indonesia juga mengambil langkah strategis dengan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen. Kebijakan tersebut dinilai memberi sinyal kuat kepada pasar bahwa otoritas moneter tetap berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mengendalikan risiko eksternal yang dapat memengaruhi perekonomian nasional.
Hasilnya mulai terlihat. Pada perdagangan Rabu (10/6/2026), rupiah berhasil menguat hingga berada di level Rp17.953 per dolar AS. Posisi tersebut menjadikan rupiah sebagai salah satu mata uang dengan performa terbaik di kawasan Asia dalam periode tersebut. Sehari sebelumnya, mata uang domestik juga telah menguat sekitar 0,72 persen ke level Rp18.058 per dolar AS.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan keyakinannya bahwa tren penguatan rupiah masih berpotensi berlanjut secara bertahap pada semester II tahun 2026.
Menurutnya, tekanan yang selama ini dialami rupiah bukan semata berasal dari faktor domestik, melainkan lebih dipengaruhi sentimen global, kondisi pasar yang cenderung menghindari risiko (risk-off), serta tekanan pada transaksi berjalan dan transaksi finansial.
Pemerintah meyakini koordinasi yang semakin erat antara kebijakan fiskal, moneter, dan sektor jasa keuangan akan memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Selain itu, perbaikan tata kelola Devisa Hasil Ekspor (DHE) juga diharapkan dapat meningkatkan ketersediaan valuta asing di dalam negeri sekaligus memperbaiki sentimen investor.
Dalam penyusunan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) untuk RAPBN 2027, pemerintah menetapkan asumsi nilai tukar rupiah berada pada kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS. Target tersebut didasarkan pada ekspektasi membaiknya kondisi ekonomi global serta mulai meredanya berbagai ketegangan geopolitik yang sebelumnya menekan pasar keuangan.
Sejumlah analis turut menilai kebijakan BI menjadi salah satu faktor utama yang mendorong penguatan rupiah. Kenaikan suku bunga dinilai mampu menjaga daya tarik instrumen keuangan domestik, terutama obligasi negara yang menawarkan imbal hasil kompetitif. Dengan kondisi tersebut, investor asing maupun domestik diperkirakan kembali meningkatkan partisipasi mereka di pasar surat utang.
Sentimen positif juga datang dari komitmen pemerintah melalui penguatan tata kelola ekspor komoditas strategis. Kehadiran skema baru yang menempatkan pengelolaan ekspor secara lebih terstruktur diharapkan mampu memberikan kepastian hukum, menjaga keberlanjutan usaha, serta meningkatkan penerimaan negara tanpa menambah tekanan terhadap pelaku industri.
Tidak hanya rupiah, pasar saham juga menunjukkan pemulihan yang cukup kuat. Pada penutupan perdagangan Rabu (10/6/2026), IHSG melesat 153,62 poin atau naik 2,67 persen ke posisi 5.900,27. Sebelumnya, indeks masih berada di level 5.746,65.
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi, menilai pergerakan IHSG kini semakin selaras dengan indeks acuan global. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan pasar mulai merespons berbagai reformasi yang dilakukan regulator, terutama dalam memperkuat daya saing pasar modal Indonesia di mata investor internasional.
Ia juga menegaskan bahwa struktur pasar modal Indonesia saat ini tetap memiliki fondasi yang kuat karena ditopang oleh pertumbuhan investor domestik yang terus meningkat. Hingga April 2026, jumlah investor pasar modal tercatat mencapai 26,49 juta, dengan mayoritas berasal dari investor individu.
Meski demikian, sejumlah analis mengingatkan bahwa penguatan pasar saat ini belum sepenuhnya menghilangkan risiko. Faktor seperti arus keluar dana asing, kenaikan premi risiko negara, serta tantangan fiskal masih menjadi perhatian yang perlu diawasi dalam beberapa waktu ke depan.
Secara teknikal, area 5.900 menjadi titik resistensi penting bagi IHSG, sementara level 5.550 dipandang sebagai area penopang yang perlu dijaga agar momentum pemulihan dapat berlanjut.
Untuk menjaga stabilitas ke depan, pemerintah dan regulator diperkirakan akan terus memperkuat koordinasi kebijakan serta menjaga kepercayaan pasar agar tren penguatan rupiah dan pemulihan IHSG dapat berlangsung lebih berkelanjutan.
TangselCity | 3 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 3 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
Pos Banten | 12 jam yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Ekonomi Bisnis | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu


