Prabowo Tak Ingin Petani Sawit Dirugikan Permainan Harga
JAKARTA – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan Presiden RI Prabowo Subianto memberi perhatian serius terhadap penurunan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit yang sempat terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Menurut Amran, Presiden menilai anjloknya harga TBS tidak boleh sampai merugikan petani dan meminta penjelasan langsung terkait kondisi tersebut.
“Beliau menelepon dan menanyakan kenapa terjadi penurunan harga. Saya sampaikan bahwa kondisi ini merupakan anomali,” ujar Amran usai pertemuan dengan Presiden di Istana Negara, Kamis (18/6).
Amran menjelaskan, secara ekonomi penurunan harga TBS dinilai tidak wajar. Sebab, di saat harga minyak sawit mentah (CPO) dunia mengalami kenaikan dan nilai tukar dolar AS menguat sekitar 10 persen, harga yang diterima petani justru turun.
Merespons kondisi itu, Kementerian Pertanian segera mengumpulkan pelaku usaha sawit dari berbagai daerah.
Pertemuan tersebut melibatkan perwakilan sekitar 700 perusahaan dari total 1.900 pabrik kelapa sawit (PKS) yang beroperasi di Indonesia.
Pemerintah menegaskan tidak akan membiarkan petani menjadi pihak yang dirugikan.
“Kami minta jangan bermain-main. Jangan korbankan rakyat. Petani plasma jumlahnya mencapai 15 juta orang, dan bersama keluarganya diperkirakan mencapai 30 juta jiwa,” kata Amran.
Hasil evaluasi pemerintah menunjukkan sebanyak 274 PKS belum menyesuaikan harga TBS sesuai kondisi pasar. Namun setelah dilakukan pembinaan dan pengawasan, sebagian besar perusahaan telah mulai menaikkan harga pembelian.
“Sekarang yang belum menyesuaikan tinggal sekitar 100 perusahaan atau sekitar 5–10 persen,” ujarnya.
Amran menyebut sekitar 90 persen harga TBS telah kembali mendekati kondisi normal dan pemerintah optimistis pemulihan akan terus berlangsung dalam waktu dekat.
Untuk mempercepat penyesuaian harga, Kementan juga menggandeng aparat penegak hukum. Surat telah dikirim kepada Kapolri untuk menindaklanjuti perusahaan yang belum melakukan penyesuaian harga.
Ke depan, pemerintah juga menyiapkan sistem tata niaga ekspor sawit yang lebih terintegrasi guna memperkuat kesejahteraan petani dan menutup potensi kebocoran dalam rantai perdagangan.
“Harapannya sistem satu pintu ini dapat meningkatkan kesejahteraan petani Indonesia dan menjaga harga TBS tetap sehat,” tutup Amran.
TangselCity | 3 hari yang lalu
Pos Banten | 3 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 1 hari yang lalu
Ekonomi Bisnis | 3 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu



