Mojtaba Khamenei Tegaskan Iran Tak Akan Tunduk pada Tekanan Berlebihan AS
IRAN - Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, menyatakan dukungannya terhadap kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang telah ditandatangani Presiden Donald Trump di Versailles, Prancis, serta Presiden Masoud Pezeshkian di Teheran pada Rabu (17/6/2026). Meski demikian, ia mengakui memiliki pandangan berbeda terhadap sebagian substansi perjanjian tersebut.
“Secara prinsip, saya memiliki pandangan yang berbeda. Namun, berdasarkan komitmen yang disampaikan Presiden yang terhormat selaku Ketua Dewan Keamanan Nasional Tertinggi kepada saya—baik atas nama dirinya maupun anggota dewan lainnya—terkait perlindungan hak-hak bangsa Iran dan Front Perlawanan, serta penerimaan penuh atas tanggung jawab tersebut, saya memberikan persetujuan,” ujar Mojtaba Khamenei dalam pesan resmi yang dipublikasikan melalui akun X @MKhamenei_ir, Jumat (19/6/2026).
Meski memberikan lampu hijau terhadap kesepakatan tersebut, Khamenei menegaskan bahwa Iran tidak akan menerima tekanan atau tuntutan yang dianggap melampaui batas.
“Jika Amerika berupaya mengajukan tuntutan yang berlebihan, kami tidak akan tunduk,” tegasnya.
Khamenei berharap seluruh komitmen dan syarat yang telah dituangkan dalam kesepakatan dapat direalisasikan secara nyata dalam waktu dekat. Ia juga menekankan bahwa perundingan lanjutan secara langsung bukan berarti Iran menerima posisi politik Washington.
“Perundingan tatap muka yang akan berlangsung di masa mendatang tidak berarti kami menerima posisi atau sikap pihak musuh,” tandasnya.
Di akhir pernyataannya, Khamenei menyampaikan doa dan harapan agar bangsa Iran memperoleh kemenangan serta keberhasilan.
Kerangka Kesepakatan AS–Iran
Nota kesepahaman (MoU) antara AS dan Iran yang menjadi kerangka awal perjanjian damai memuat 14 poin utama sebagai dasar negosiasi lanjutan selama 60 hari.
Beberapa poin penting dalam kesepakatan itu mencakup penghentian permanen operasi militer oleh AS, Iran, dan sekutu masing-masing di seluruh kawasan konflik, termasuk Lebanon; penyelesaian perjanjian final dalam waktu maksimal 60 hari dengan opsi perpanjangan berdasarkan kesepakatan bersama; pencabutan bertahap blokade laut terhadap pelabuhan Iran dalam kurun 30 hari; komitmen AS untuk melonggarkan dan mencabut sanksi; jaminan Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir; serta pengaturan terhadap aset-aset Iran yang selama ini dibekukan.
Kesepakatan ini dipandang sebagai langkah awal menuju fase baru hubungan kedua negara, meski sejumlah perbedaan mendasar masih membayangi proses negosiasi ke depan.
Piala Dunia 2026 | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
TangselCity | 20 jam yang lalu
Piala Dunia 2026 | 1 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 2 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 1 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu




