Atasi Sampah Di Pisangan, 1.100 Lubang Biopori Digali
CIPUTAT TIMUR-Kelurahan Pisangan, Kecamatan Ciputat Timur terus mempercepat pelaksanaan program pembuatan lubang resapan biopori sebagai upaya mengurangi persoalan sampah sekaligus meningkatkan daya serap air di lingkungan permukiman.
Program tersebut menjadi bagian dari tindak lanjut arahan Wali Kota Tangsel dalam memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat di tingkat kelurahan. Hingga pekan kedua pelaksanaan, sebanyak 172 lubang biopori telah berhasil dibuat dari target 1.100 titik yang ditetapkan selesai pada akhir 2026.
Lurah Pisangan, Martyasto Adhi Hadanto mengatakan, capaian tersebut merupakan hasil kerja cepat jajaran kelurahan bersama masyarakat dalam merealisasikan program yang telah dicanangkan.
“Dalam waktu satu minggu setengah, kami sudah mencapai 172 titik. Ini bentuk komitmen percepatan di tingkat kelurahan,” kata Martyasto, Sabtu (26/6).
Menurutnya, seluruh titik biopori tersebar di berbagai RT sesuai dengan usulan masyarakat. Sebagian besar pengerjaan dilakukan di pekarangan rumah warga agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh lingkungan sekitar.
“Basisnya adalah partisipasi warga. Permintaan datang dari masyarakat, sehingga implementasi berada langsung di lingkungan hunian mereka,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kondisi tanah di wilayah Pisangan yang didominasi tanah liat menjadi salah satu faktor pendukung keberhasilan program. Selain mampu meningkatkan resapan air, jenis tanah tersebut juga dinilai baik untuk proses penguraian sampah organik.
Dalam pelaksanaannya, Kelurahan Pisangan mengerahkan empat hingga enam orang petugas setiap hari. Dengan dukungan peralatan khusus, tim mampu menyelesaikan sekitar 18 hingga 20 lubang biopori per hari, bahkan pernah mencapai 23 lubang dalam sehari.
“Spesifikasi lubang memiliki kedalaman satu meter dan diameter enam inci, menggunakan peralatan khusus agar efisien dan tidak terlalu membebani tenaga,” jelas Martyasto.
Meski demikian, ia mengakui, terdapat sejumlah kendala di lapangan, terutama pada lokasi dengan kondisi tanah urukan atau berbatu yang membutuhkan perlakuan khusus agar fungsi biopori tetap optimal.
“Tanah liat memiliki kandungan bakteri alami yang baik. Namun untuk tanah urukan, perlu intervensi agar tetap efektif,” ungkapnya.
Martyasto menilai, antusiasme masyarakat terhadap program tersebut cukup tinggi. Bahkan, banyak warga yang turut membantu proses pengerjaan sehingga target penyelesaian diyakini dapat tercapai sesuai rencana.
Ke depan, ia berharap dukungan pemerintah terus diperkuat, terutama dalam penyediaan sarana dan prasarana pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir. Menurutnya, keberhasilan program tidak hanya bergantung pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah sejak dari rumah.
“Kesadaran individu dalam memilah sampah adalah fondasi utama. Jika ini berjalan, maka beban pengelolaan di hilir dapat ditekan secara signifikan,” pungkasnya.
Piala Dunia 2026 | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 3 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 2 hari yang lalu
Pendidikan | 2 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 17 jam yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 1 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu




