UPJ Gandeng University of Greenwich Kembangkan Kurikulum Internasional
CIPUTAT-Universitas Pembangunan Jaya (UPJ) Bintaro perkuat kerja sama internasional dengan University of Greenwich, Inggris, melalui penyelenggaraan workshop CAPSTONE-Hub: Co-Creating a Capstone Partnership for Sustainable Built Environments yang berlangsung pada 24-26 Juni 2026 di Smart Classroom A401 UPJ.
Program tersebut merupakan bagian dari kolaborasi yang memperoleh dukungan pendanaan dari British Council melalui skema Going Global Partnerships Transnational Education Exploratory Grant. Kegiatan ini mempertemukan akademisi dari Indonesia dan Inggris, perwakilan industri, pemangku kepentingan pendidikan tinggi, serta mitra strategis dari ekosistem Pembangunan Jaya untuk merancang model pembelajaran yang lebih relevan dengan kebutuhan masa depan.
Workshop selama tiga hari itu menjadi agenda utama dalam pengembangan CAPSTONE-Hub, sebuah inisiatif yang bertujuan membangun kurikulum pendidikan transnasional berbasis digital sekaligus memperkuat kapasitas dosen dalam mengelola pembelajaran bertaraf internasional.
Melalui kolaborasi tersebut, University of Greenwich yang memiliki pengalaman di bidang pendidikan lingkungan binaan dan rekayasa bekerja sama dengan Fakultas Teknologi dan Desain UPJ untuk mengembangkan mata kuliah Capstone bertema Sustainable Urban Living atau kehidupan perkotaan berkelanjutan.
Tema tersebut dipilih karena sejalan dengan identitas UPJ sebagai kampus urban yang berfokus pada pengembangan kota (urban development) dan gaya hidup perkotaan (urban lifestyle). Selain itu, isu tersebut dinilai relevan dengan berbagai tantangan yang dihadapi kota-kota modern, mulai dari pembangunan berkelanjutan, perubahan iklim, peningkatan kualitas lingkungan perkotaan, hingga pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan dunia industri.
Ketua pelaksana kegiatan sekaligus Rektor UPJ, Elisabeth Rukmini mengatakan, workshop ini tidak hanya berfokus pada penyusunan kurikulum, tetapi juga membangun ekosistem pembelajaran yang mampu menghubungkan mahasiswa dengan persoalan nyata di masyarakat dan dunia kerja.
“Kami ingin menghasilkan model pembelajaran yang memberikan pengalaman kolaboratif lintas negara. Mahasiswa nantinya dapat mengerjakan proyek yang berorientasi pada penyelesaian masalah perkotaan dengan dukungan akademisi dan mitra industri dari berbagai latar belakang,” ujar Elisabeth.
Selama workshop berlangsung, peserta mengikuti berbagai sesi diskusi, design sprint, kerja kelompok, peer review, hingga dialog kebijakan yang difasilitasi oleh akademisi University of Greenwich dan tim British Council. Seluruh rangkaian kegiatan dirancang agar setiap peserta dapat berkontribusi dalam penyusunan kurikulum, metode pembelajaran, sistem supervisi, hingga strategi penjaminan mutu.
Elisabeth menjelaskan, salah satu target utama kegiatan ini adalah menghasilkan rancangan modul Capstone yang dapat diajarkan secara bersama oleh UPJ dan University of Greenwich. “Modul tersebut akan memuat capaian pembelajaran, proyek berbasis industri, sistem supervisi lintas negara, serta metode asesmen yang mendukung pembelajaran digital dan kolaboratif,” ujarnya.
Selain pengembangan kurikulum, workshop juga menghasilkan rancangan Online Capacity Development Hub yang akan menjadi pusat pengembangan kapasitas dosen dan tenaga akademik UPJ. Platform tersebut direncanakan menyediakan materi pembelajaran, pelatihan daring, program mentoring, panduan kolaborasi internasional, hingga referensi mengenai regulasi pendidikan transnasional.
Sebanyak lebih dari 45 peserta mengikuti kegiatan ini. Mereka terdiri atas dosen UPJ, akademisi University of Greenwich, perwakilan industri, tim British Council, pakar kurikulum pendidikan, civitas akademika universitas mitra, serta berbagai pemangku kepentingan yang memiliki perhatian terhadap pengembangan pendidikan tinggi dan lingkungan binaan berkelanjutan.
“Workshop ini juga menempatkan keberagaman dan inklusivitas sebagai bagian penting dalam proses pembelajaran. Para peserta berasal dari beragam disiplin ilmu dan latar belakang profesi, termasuk akademisi muda, praktisi industri, serta perempuan yang berkiprah di bidang STEM dan lingkungan binaan,” kata Elisabeth.
TangselCity | 3 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 16 jam yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 1 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Pendidikan | 2 hari yang lalu






