TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Realisasi Investasi Tembus Rp1.010,6 Triliun, Serap 1,44 Juta Tenaga Kerja

Reporter & Editor : AY
Jumat, 17 Juli 2026 | 08:02 WIB
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Perkasa Roeslani. Foto : Ist
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Perkasa Roeslani. Foto : Ist

JAKARTA – Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan meningkatnya tensi geopolitik, Indonesia mencatat kinerja investasi yang tetap solid. Sepanjang semester I 2026, realisasi investasi mencapai Rp1.010,6 triliun, atau sekitar 49,5 persen dari target nasional tahun ini sebesar Rp2.041,3 triliun. Capaian tersebut turut membuka 1.448.862 lapangan kerja baru di berbagai sektor.


Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Perkasa Roeslani mengatakan, capaian tersebut menunjukkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia tetap terjaga meski dunia dihadapkan pada berbagai tantangan.


"Foreign direct investment masih sejalan dengan target yang telah ditetapkan Bappenas untuk tahun 2026," ujar Rosan di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (16/7/2026).


Menurut Rosan, investasi yang masuk tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap penciptaan lapangan kerja. Jumlah tenaga kerja yang terserap pada semester I 2026 meningkat sekitar 15 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.


Dari sisi sumber investasi, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) menyumbang Rp502,9 triliun atau 49,8 persen dari total investasi, sementara Penanaman Modal Asing (PMA) mencapai Rp507,6 triliun atau 50,2 persen.


Sebaran investasi juga semakin merata. Investasi di Pulau Jawa mencapai Rp502,8 triliun, sedangkan investasi di luar Pulau Jawa sedikit lebih tinggi, yakni Rp507,8 triliun, menunjukkan pertumbuhan pembangunan yang semakin seimbang.


Secara regional, DKI Jakarta masih menjadi daerah dengan realisasi investasi terbesar. Posisi berikutnya ditempati Jawa Barat, Jawa Timur, Sulawesi Tengah, dan Banten. Sementara untuk investasi asing, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, dan Kepulauan Riau menjadi tujuan utama investor, terutama pada sektor industri mineral.


"Secara keseluruhan, DKI Jakarta masih berada di peringkat pertama dengan kontribusi 17,2 persen. Disusul Jawa Barat Rp138,1 triliun, Jawa Timur Rp72,7 triliun, Sulawesi Tengah Rp68,7 triliun, dan Banten Rp66,3 triliun," jelas Rosan.


Adapun lima sektor penyumbang investasi terbesar pada semester I 2026 adalah industri logam dasar dan barang logam senilai Rp150,4 triliun, diikuti pusat data (data center) sebesar Rp114 triliun, sektor pertambangan Rp105 triliun, transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi, serta perumahan, kawasan industri, dan perkantoran sebesar Rp85,5 triliun.


Dari sisi negara asal investor, Singapura masih menjadi investor terbesar di Indonesia dengan nilai investasi 8,8 miliar dolar AS. Berikutnya Hong Kong (7,6 miliar dolar AS), China (3,9 miliar dolar AS), Jepang (1,9 miliar dolar AS), dan Amerika Serikat (1,7 miliar dolar AS).
Meski demikian, Rosan mengungkapkan bahwa pada kuartal II 2026, Hong Kong berhasil menjadi investor terbesar, mengungguli Singapura. Namun secara kumulatif semester I, posisi teratas masih ditempati Singapura.


Groundbreaking LNG Abadi Masela
Kabar positif juga datang dari sektor energi. Presiden Prabowo Subianto meresmikan dimulainya pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) LNG Abadi Masela di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku.


Melalui konferensi video dari Istana Merdeka, Presiden menegaskan proyek tersebut akan menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi di kawasan timur Indonesia sekaligus memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional.


"Proyek ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat ketahanan energi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia," ujar Prabowo.
Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan proyek LNG Abadi Masela memiliki nilai investasi sekitar 21 miliar dolar AS atau sekitar Rp342 triliun, ditambah investasi 1 miliar dolar AS untuk penerapan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS).


Proyek tersebut ditargetkan memproduksi 9,5 juta ton LNG per tahun, 35 ribu barel kondensat per hari, serta 150 juta kaki kubik gas bumi per hari. Sekitar 60 persen produksi gas akan diprioritaskan untuk kebutuhan domestik, sedangkan sisanya dialokasikan untuk ekspor.


Selain memperkuat pasokan energi nasional, proyek LNG Abadi Masela diperkirakan akan menyerap sekitar 12 ribu tenaga kerja selama masa konstruksi serta memberikan efek berganda bagi pertumbuhan ekonomi di kawasan timur Indonesia.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit